Pasangan muda berpenghasilan ganda tanpa anak di Singapura semakin agresif memburu properti privat, terutama kondominium baru. Meski harga rumah terus naik, suku bunga yang lebih rendah dan keyakinan bahwa properti tetap menjadi instrumen investasi jangka panjang membuat kelompok ini tetap aktif masuk pasar. Di sisi lain, generasi lajang berpenghasilan tinggi juga mulai kembali memburu apartemen dua hingga tiga kamar tidur sebagai aset sekaligus ruang tinggal yang fleksibel.
Fokus:
■ Pasangan berpenghasilan ganda tanpa anak (dual income, no kids/DINK) tetap agresif membeli condo meski harga properti Singapura terus naik.
■ Suku bunga lebih rendah dan potensi kenaikan nilai aset membuat properti privat semakin diminati.
■ Lajang berpenghasilan tinggi juga mulai masuk pasar, terutama memburu unit dua hingga tiga kamar tidur.
Pasangan muda tanpa anak di Singapura semakin melihat properti privat bukan sekadar tempat tinggal, tetapi juga instrumen investasi jangka panjang. Di tengah harga rumah yang terus naik, kelompok berpenghasilan tinggi justru semakin aktif memburu kondominium baru, terutama unit dua kamar tidur di kawasan pinggiran kota maupun city fringe (kawasan yang berada di pinggir pusat kota, tetapi masih sangat dekat dengan area bisnis utama dan pusat aktivitas kota). Contoh area city fringe di Singapore antara lain Katong, Siglap, Novena, Queenstown, Bishan, dan Upper Thomson.
Survei terbaru yang dilakukan PropertyGuru terhadap sekitar 2.000 warga Singapura dan permanent resident pada November-Desember 2025 menunjukkan pasangan berpenghasilan ganda tanpa anak atau DINKs (dual income, no kids) tetap optimistis terhadap pasar properti privat.
Di antara pasangan DINK berusia 30 tahun ke atas dengan pendapatan gabungan minimal US$10.000 per bulan, sekitar sepertiga berencana membeli properti dalam 12 hingga 18 bulan ke depan. Dari kelompok tersebut, 44% memilih unit kondominium baru. Sementara itu, sekitar separuh responden mengatakan potensi kenaikan nilai aset menjadi alasan utama mereka membeli properti privat, demikian dikutip dari The Straits Times.
Fenomena ini terlihat dari pengalaman Darren Lim, 42 tahun, yang ingin pindah dari flat empat kamar miliknya di kawasan Punggol ke kondominium dua kamar tidur. Salah satu alasan utamanya sederhana: ingin menikmati fasilitas seperti kolam renang dan lingkungan yang lebih nyaman. Ia dan istrinya mulai melirik kondominium baru di kawasan Katong dan Siglap setelah flat Build-To-Order mereka melewati masa minimum occupancy period.
Menurut Darren, suku bunga yang kini lebih rendah membuat pembelian properti privat terasa lebih masuk akal. “Kamii berniat tinggal di sana dalam jangka panjang, dan kami juga melihatnya sebagai investasi karena properti selalu naik nilainya,” katanya.
Direktur pelaksana PropertyGuru, Lu Yao, mengatakan pasangan tanpa anak memiliki pendapatan disposable yang lebih besar sehingga cenderung lebih fokus pada gaya hidup dan pertumbuhan aset jangka panjang.
Hal senada disampaikan Eugene Lim dari ERA Singapore. Menurut dia, pasangan dengan pendapatan gabungan di atas batas maksimal pembelian flat baru dari Housing Development Board, yakni US$14.000 per bulan, memang semakin terdorong masuk ke pasar properti privat.
“Di satu sisi, mereka bisa memiliki rumah yang nyaman. Di sisi lain, mereka juga dapat membangun kekayaan dalam jangka panjang, selama pasar properti dan ekonomi Singapura tetap tumbuh stabil,” ujarnya.
Dorongan untuk membeli kondominium memang muncul di tengah harga properti privat yang terus meningkat. Harga median per square foot (psf) untuk peluncuran kondominium baru di Singapura melonjak dari sekitar US$1.694 psf pada 2020 menjadi sekitar US$2.572 psf pada 2025. Bahkan untuk beberapa proyek premium di kawasan inti kota, harga per unit kini bisa melampaui US$2,5 juta.
Meski demikian, laju kenaikan harga mulai melambat. Data pasar menunjukkan harga rumah privat di Singapura naik sekitar 3,3% sepanjang 2025, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 3,9% pada 2024. Pada kuartal IV-2025, kenaikan harga hanya 0,6%, menunjukkan pasar mulai bergerak lebih moderat.
Tidak hanya pasangan tanpa anak, kalangan lajang berpenghasilan tinggi juga mulai kembali masuk ke pasar properti. Survei menunjukkan empat dari 10 lajang berusia 30-34 tahun dengan penghasilan minimal US$10.000 per bulan tertarik membeli properti privat, terutama unit dua hingga tiga kamar tidur.
Peneliti utama dari OrangeTee & ETC Group, Christine Sun, mengatakan kelompok ini umumnya berasal dari sektor keuangan, teknologi, medis, hingga hukum, dengan kemampuan finansial yang lebih kuat dibanding generasi sebelumnya.
Menurut dia, unit dua kamar tidur menjadi pilihan favorit karena lebih fleksibel. Pemilik bisa menyewakan satu kamar, menggunakannya sebagai ruang kerja, atau menjualnya kembali dengan lebih mudah dibanding apartemen satu kamar tidur.
Fenomena ini juga menunjukkan adanya perubahan pola hidup generasi muda di Singapura. Mereka kini lebih mengutamakan kenyamanan, fasilitas, dan fleksibilitas hidup dibanding sekadar memiliki rumah pertama. Bagi banyak pasangan tanpa anak dan lajang mapan, kondominium bukan hanya simbol status, melainkan alat membangun kekayaan di tengah pasar properti yang tetap dianggap stabil dan menjanjikan.
Komentar di forum-forum komunitas Singapura juga menunjukkan banyak pembeli masih percaya harga properti di negara itu sulit turun drastis karena keterbatasan lahan, pertumbuhan populasi, dan dukungan kebijakan pemerintah. Namun, sebagian lainnya mulai mengingatkan bahwa kenaikan harga yang terlalu tinggi dapat membuat beban cicilan semakin berat bagi pembeli baru.
Pembiayaan dari Bank
Di Singapura, pembiayaan KPR/KPA dilakukan lewat dua jalur utama: pinjaman dari pemerintah untuk rumah subsidi/public housing dan pinjaman bank untuk properti privat seperti condo. Untuk rumah publik atau flat Housing and Development Board (HDB), pembeli bisa mengambil pinjaman HDB dengan bunga tetap sekitar 2,6% per tahun.
Skema ini relatif lebih ringan karena uang muka bisa dibayar menggunakan tabungan CPF, yaitu dana pensiun wajib pekerja di Singapura. Untuk pembeli rumah pertama, pinjaman biasanya maksimal 75% dari harga rumah. Artinya, pembeli tetap harus menyiapkan uang muka sekitar 25%, tetapi tidak seluruhnya harus tunai.
Ada dua batas utama yang dipakai bank dan pemerintah sebelum menyetujui kredit rumah:
1. MSR (Mortgage Servicing Ratio): cicilan rumah maksimal 30% dari pendapatan bulanan untuk rumah HDB.
2. TDSR (Total Debt Servicing Ratio): total seluruh cicilan utang, termasuk rumah, mobil, kartu kredit, dan pinjaman lain, tidak boleh lebih dari 55% pendapatan bulanan.
Untuk properti privat seperti condo, landed house, atau apartemen premium, pembiayaan hampir selalu melalui bank. Bunga pinjaman bank umumnya berbasis SORA dan berada di kisaran 3%–4% pada 2026. Untuk pembelian properti pertama, bank biasanya membiayai hingga 75% dari nilai properti. Pembeli harus menyediakan minimal 25% uang muka, dan setidaknya 5% harus dibayar tunai. Sisanya bisa dari CPF atau kas pribadi.
Kalau membeli properti kedua atau ketiga, aturan menjadi jauh lebih ketat. Pinjaman bank untuk rumah kedua bisa turun menjadi hanya 45% dari harga rumah, sehingga pembeli harus menyiapkan uang muka jauh lebih besar. Selain itu, ada pajak tambahan bernama ABSD (Additional Buyer’s Stamp Duty) yang bisa mencapai 20% untuk rumah kedua bagi warga Singapura.
Banyak warga Singapura memilih pinjaman HDB karena lebih aman, fleksibel, dan tidak terlalu agresif jika peminjam mengalami masalah keuangan. Sementara pinjaman bank dipilih karena bunganya bisa lebih murah pada periode tertentu, meski risikonya lebih tinggi ketika suku bunga naik. Diskusi komunitas menunjukkan banyak orang tetap memilih pinjaman HDB untuk jangka panjang karena lebih stabil dan tidak memiliki penalti pelunasan dini.
Digionary:
● Build-To-Order: Program perumahan baru pemerintah Singapura yang dibangun setelah jumlah peminat memenuhi kuota tertentu.
● Condo: Singkatan dari condominium atau apartemen privat dengan fasilitas seperti kolam renang, gym, dan keamanan.
● DINK: Dual income, no kids, yaitu pasangan dengan dua sumber pendapatan tetapi belum memiliki anak.
● Disposable Income: Pendapatan yang tersisa setelah kebutuhan pokok dan kewajiban rutin dibayar.
● HDB: Housing Development Board, lembaga perumahan publik Singapura.
● Minimum Occupation Period: Masa minimum kepemilikan rumah HDB sebelum pemilik boleh menjual atau pindah.
● Private Property: Properti privat seperti kondominium atau rumah landed yang tidak termasuk perumahan publik.
● psf: Per square foot, satuan harga properti berdasarkan luas kaki persegi.
● Suku Bunga: Biaya pinjaman yang memengaruhi cicilan pembelian properti.
● Unit Dua Kamar Tidur: Apartemen dengan dua kamar yang banyak diminati karena lebih fleksibel untuk dihuni atau disewakan.
#Singapura #PropertiSingapura #Condominium #DINK #DualIncomeNoKids #PropertyGuru #PasarProperti #InvestasiProperti #CondoBaru #HargaRumah #HunianPrivat #LajangMapan #SukuBunga #AsetJangkaPanjang #PasanganMuda #PropertiPrivat #Kondominium #RealEstate #PropertyInvestment #HousingMarket
