Literasi Keuangan Anak Muda Malaysia Masih Rendah, Program Nasional Kurang Dikenal

- 12 Maret 2026 - 17:30

Upaya pemerintah Malaysia meningkatkan literasi keuangan melalui program National Strategy for Financial Literacy 2026–2030 (NS2.0) ternyata belum sepenuhnya menjangkau generasi muda. Sejumlah pekerja muda mengaku belum pernah mendengar program tersebut dan lebih banyak belajar mengelola keuangan dari media sosial atau keluarga. Di tengah meningkatnya biaya hidup dan inflasi, rendahnya literasi finansial membuat sebagian anak muda kesulitan menabung, mengendalikan pengeluaran, hingga terjebak utang.


Fokus:

■ Rendahnya kesadaran generasi muda terhadap program literasi keuangan nasional Malaysia (NS2.0).
■ Tekanan ekonomi dan gaya hidup konsumtif membuat banyak anak muda kesulitan mengelola pengeluaran dan menabung.
■ Pentingnya edukasi finansial sejak dini, termasuk integrasi ke dalam kurikulum sekolah dan kampanye digital.


Bagi banyak anak muda Malaysia, mengatur keuangan masih terasa seperti menavigasi labirin tanpa peta. Pemerintah sebenarnya telah meluncurkan National Strategy for Financial Literacy 2026–2030 (NS2.0) sebagai panduan nasional untuk meningkatkan literasi keuangan masyarakat.

Namun ironisnya, program yang digadang-gadang menjadi tulang punggung edukasi finansial itu justru belum banyak dikenal oleh generasi muda—kelompok yang paling membutuhkan keterampilan mengelola uang di era biaya hidup yang terus meningkat.

Literasi Keuangan Anak Muda Malaysia Masih Tertinggal

Kesadaran finansial di kalangan generasi muda Malaysia masih menjadi pekerjaan rumah besar. Meski pemerintah telah meluncurkan strategi nasional untuk meningkatkan literasi keuangan, banyak anak muda mengaku belum pernah mendengar program tersebut.

Catherine Leong, seorang eksekutif pemasaran berusia 24 tahun di Petaling Jaya, adalah salah satu contohnya. Ia mengaku tidak mengetahui adanya program National Strategy for Financial Literacy 2026–2030 (NS2.0).

“Saya biasanya mengikuti halaman keuangan yang kredibel di media sosial untuk belajar tentang penganggaran dan menabung. Mereka sering berbagi tips sederhana yang lebih mudah dipahami anak muda,” ujarnya mengutip The Star.

Leong mengatakan dirinya berusaha memantau pengeluaran bulanan agar tetap mampu memenuhi kewajiban finansial. “Saya bahkan masih bisa menabung dan memiliki sisa uang di akhir bulan meskipun harus membayar tagihan, asuransi, dan pengeluaran harian.”

Namun, ia mengakui biaya transportasi menjadi tantangan terbesar. “Pengeluaran seperti bensin dan perawatan kendaraan cepat sekali bertambah.”

Menurutnya, kampanye literasi keuangan perlu diperluas agar lebih banyak anak muda memiliki kebiasaan finansial yang sehat. Ia juga menilai pendidikan pengelolaan keuangan seharusnya diajarkan sejak sekolah. “Saya juga berpikir manajemen keuangan seharusnya diajarkan di sekolah agar anak muda mempelajari keterampilan ini lebih awal.”

Gaya Hidup Konsumtif dan Tekanan Biaya Hidup

Masalah yang lebih kompleks muncul ketika pengelolaan keuangan tidak berjalan baik. Seorang pekerja layanan pelanggan berusia 29 tahun yang meminta disebut sebagai Mr Chan mengaku belum pernah mendengar strategi literasi keuangan nasional.

Ia bahkan menghadapi kesulitan mengendalikan kebiasaan belanjanya. “Kadang saya membeli sesuatu tanpa benar-benar memikirkan apakah saya membutuhkannya,” katanya.

Di akhir bulan, Chan kerap menyadari pengeluarannya melebihi anggaran. “Kadang saya membeli sesuatu tanpa benar-benar memikirkan apakah saya membutuhkannya. Pada akhir bulan, saya sadar saya telah menghabiskan lebih banyak uang dari yang seharusnya.”

Saat ini ia juga sedang melunasi pinjaman pribadi yang diambil untuk membayar utang sebelumnya. “Rasanya seperti terjebak dalam lubang finansial karena saya mencoba melunasi utang sambil tetap mengelola pengeluaran harian.”

Inflasi Membuat Menabung Semakin Sulit

Kondisi ekonomi juga menambah tekanan bagi generasi muda. Lee Jiuan, seorang insinyur listrik berusia 29 tahun, mengaku belum pernah mendengar program NS2.0 dan lebih banyak mengandalkan saran orang tua atau informasi dari internet.

Ia menggambarkan kondisi keuangannya sebagai “50-50”. “Saya bisa membayar sebagian besar tagihan tepat waktu, tetapi hampir tidak ada yang tersisa untuk ditabung setelah menutupi pengeluaran harian dan sewa,” katanya.

Menurut Lee, kenaikan biaya hidup dan inflasi membuat pekerja muda semakin sulit menyisihkan uang. “Sebagian besar anggaran saya habis untuk pengeluaran sehari-hari.”

Tantangan Literasi Keuangan di Asia Tenggara

Masalah literasi finansial bukan hanya terjadi di Malaysia. Berbagai riset menunjukkan kondisi serupa di banyak negara berkembang.

Survei global yang dilakukan oleh Standard & Poor’s menunjukkan tingkat literasi keuangan di Malaysia berada di sekitar 36%, relatif lebih baik dibanding beberapa negara berkembang tetapi masih jauh dari ideal.

Sementara laporan dari OECD menegaskan bahwa literasi keuangan menjadi salah satu faktor penting dalam stabilitas ekonomi rumah tangga, terutama di tengah digitalisasi layanan keuangan dan meningkatnya akses kredit.

Di kawasan Asia Tenggara, bank sentral dan regulator keuangan mulai mendorong program literasi finansial nasional untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengelola utang, investasi, dan tabungan.

Strategi Nasional yang Perlu Diperluas
Program National Strategy for Financial Literacy 2026–2030 (NS2.0) dirancang sebagai kerangka nasional untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pengelolaan keuangan pribadi.

Strategi ini mencakup berbagai inisiatif, mulai dari edukasi keuangan di sekolah, kampanye publik, hingga pemanfaatan teknologi digital untuk penyebaran informasi.

Namun kenyataannya, tingkat kesadaran di kalangan generasi muda masih terbatas. Tanpa pendekatan yang lebih agresif dan kreatif—terutama melalui media digital yang dekat dengan generasi muda—program tersebut berisiko tidak mencapai dampak yang diharapkan.

Bagi generasi muda yang menghadapi tekanan biaya hidup, literasi finansial bukan lagi sekadar pengetahuan tambahan. Ia menjadi keterampilan hidup yang menentukan stabilitas ekonomi di masa depan.


Digionary:

● Anggaran (Budgeting) – Proses merencanakan dan mengatur pengeluaran serta pendapatan agar keuangan tetap seimbang.
● Inflasi – Kenaikan harga barang dan jasa secara umum yang mengurangi daya beli masyarakat.
● Literasi Keuangan – Kemampuan memahami dan mengelola keuangan pribadi seperti menabung, berinvestasi, dan mengatur utang.
● NS2.0 (National Strategy for Financial Literacy 2026–2030) – Program nasional Malaysia untuk meningkatkan literasi keuangan masyarakat.
● Pinjaman Pribadi – Kredit yang diberikan bank atau lembaga keuangan kepada individu untuk berbagai kebutuhan konsumsi.
● Utang Konsumtif – Utang yang digunakan untuk kebutuhan konsumsi, bukan untuk investasi atau menghasilkan pendapatan.

#LiterasiKeuangan #KeuanganPribadi #GenerasiMuda #Finansial #EkonomiAsia #Malaysia #FinancialLiteracy #Inflasi #ManajemenKeuangan #EdukasiKeuangan #PerencanaanKeuangan #AnakMuda #UtangKonsumtif #Budgeting #Menabung #Fintech #EkonomiDigital #InvestasiPemula #PerilakuKonsumtif #StrategiKeuangan

Comments are closed.