Citigroup kembali memangkas 1.000 karyawan sebagai bagian dari restrukturisasi besar yang menargetkan pengurangan total 20.000 pegawai hingga akhir 2026. Langkah ini mencerminkan upaya agresif manajemen di bawah CEO Jane Fraser untuk merampingkan organisasi, meningkatkan profitabilitas, dan memperbaiki persoalan tata kelola data serta manajemen risiko di tengah tekanan persaingan global dan perubahan industri jasa keuangan.
Fokus Utama:
■ PHK 1.000 karyawan menjadi bagian dari target pengurangan 20.000 pegawai Citi hingga akhir 2026.
■ Efisiensi diarahkan untuk memperbaiki profitabilitas, tata kelola data, dan manajemen risiko yang selama ini membebani Citi.
■ Langkah Citi mencerminkan tren global perbankan yang terdorong efisiensi, digitalisasi, dan persaingan ketat.
Gelombang efisiensi kembali menerpa industri perbankan global. Citigroup, salah satu bank terbesar dunia, memulai tahun 2026 dengan keputusan sulit: memangkas 1.000 karyawan hanya dalam satu pekan. Langkah ini bukan respons sesaat, melainkan bagian dari peta jalan restrukturisasi jangka panjang yang dirancang untuk mengubah wajah Citi agar lebih ramping, gesit, dan kompetitif.
Perusahaan jasa keuangan multinasional asal Amerika Serikat, Citigroup, kembali melanjutkan langkah perampingan organisasi dengan memangkas sekitar 1.000 karyawan pada pekan ini. Pemutusan hubungan kerja (PHK) tersebut menjadi bagian dari rencana besar yang telah diumumkan sejak dua tahun lalu, yakni mengurangi total tenaga kerja hingga 20.000 orang sampai akhir 2026.
Mengutip laporan Reuters, Selasa (13/1/2026), Citi belum merinci secara detail unit atau wilayah mana yang paling terdampak oleh gelombang PHK terbaru ini. Namun, berdasarkan laporan tahunan terakhir, per 31 Desember 2024 Citi tercatat memiliki sekitar 229.000 karyawan tetap di seluruh dunia.
Dalam pernyataan resminya, manajemen Citi menegaskan bahwa proses restrukturisasi masih akan terus berlanjut.
“Perubahan ini mencerminkan penyesuaian yang kami lakukan agar jumlah karyawan, lokasi, dan keahlian yang dimiliki sesuai dengan kebutuhan bisnis saat ini,” ujar juru bicara perusahaan.
Langkah ini tidak dapat dilepaskan dari agenda besar transformasi yang digagas CEO Jane Fraser sejak ia mengambil alih pucuk kepemimpinan pada 2021. Fraser berupaya mengatasi berbagai persoalan struktural yang selama bertahun-tahun membebani kinerja Citi, mulai dari rendahnya profitabilitas dibanding para pesaing global, kompleksitas organisasi lintas negara, hingga masalah kronis dalam tata kelola data dan manajemen risiko.
Pada akhir 2023, manajemen Citi secara terbuka menyampaikan rencana ambisius untuk menyederhanakan struktur bisnis, memangkas lapisan birokrasi, dan memusatkan sumber daya pada segmen yang dianggap paling menguntungkan. Restrukturisasi tersebut turut memicu perombakan manajemen di sejumlah divisi strategis, termasuk unit wealth management dan teknologi.
Terbaru, Citi menunjuk Gonzalo Luchetti sebagai direktur keuangan (CFO), menggantikan Mark Mason, sebuah sinyal kuat bahwa perubahan tidak hanya menyasar tenaga kerja, tetapi juga arah kepemimpinan dan pengelolaan keuangan internal.
Di Amerika Serikat sendiri, posisi Citi di segmen perbankan ritel relatif lebih kecil dibandingkan bank-bank raksasa lain seperti JPMorgan Chase atau Bank of America. Citi hanya mengoperasikan sekitar 650 kantor cabang yang terkonsentrasi di enam wilayah metropolitan utama—sebuah fakta yang turut menjelaskan fokus bank ini pada layanan korporasi, institusional, dan lintas negara.
Citi dijadwalkan merilis laporan kinerja keuangan kuartal IV dalam pekan ini. Pasar akan mencermati sejauh mana langkah efisiensi tersebut mulai tercermin pada perbaikan kinerja laba dan rasio biaya terhadap pendapatan (cost to income ratio).
Di tingkat global, langkah Citi sejalan dengan tren yang lebih luas di industri jasa keuangan. Tekanan biaya, perlambatan ekonomi, serta percepatan adopsi teknologi digital dan kecerdasan buatan mendorong banyak bank besar untuk memangkas tenaga kerja, menyederhanakan operasional, dan menata ulang model bisnis mereka.
Foto: Victor J. Blue/Bloomberg
Digionary:
● Cost to Income Ratio: Rasio efisiensi bank yang mengukur biaya operasional terhadap pendapatan.
● Manajemen Risiko: Sistem pengelolaan risiko keuangan, operasional, dan kepatuhan dalam perbankan.
● PHK: Pemutusan hubungan kerja antara perusahaan dan karyawan.
● Restrukturisasi: Penataan ulang organisasi, operasional, atau keuangan untuk meningkatkan kinerja.
● Wealth Management: Layanan pengelolaan aset dan kekayaan bagi nasabah bernilai tinggi.
#Citigroup #PHKPerbankan #Restrukturisasi #BankGlobal #IndustriKeuangan #JaneFraser #EfisiensiBisnis #PerbankanInternasional #ManajemenRisiko #TransformasiDigital #KeuanganGlobal #PHK2026 #WealthManagement #EkonomiGlobal #IndustriPerbankan #BisnisKeuangan #TekananEkonomi #BankAmerika #RestrukturisasiPerusahaan #FinansialGlobal
