PayPal Akui Insiden Keamanan: Peretas Kuasai Sistem, Data dan Uang Pengguna Terpapar

- 23 Februari 2026 - 16:42

Platform pembayaran global PayPal mengakui terjadinya kebocoran data akibat akses tidak sah ke sistem internal sejak 1 Juli hingga 12 Desember 2025. Sekitar 100 pelanggan terdampak, sebagian mengalami transaksi ilegal hingga dana terkuras. Perusahaan mengklaim telah menutup celah keamanan, mereset kata sandi, dan menawarkan layanan pemantauan kredit gratis selama dua tahun. Insiden ini kembali menegaskan rapuhnya keamanan data di sektor fintech global yang terus menjadi sasaran empuk peretas.


Fokus:

■ Akses Tidak Sah Berlangsung Hampir Enam Bulan – Peretas masuk sejak 1 Juli 2025 dan baru terdeteksi pada 12 Desember 2025.
■ Data Sensitif dan Transaksi Ilegal – Nama, email, nomor telepon hingga nomor jaminan sosial ikut terekspos; sejumlah akun mengalami transaksi tak sah.
■ Respons dan Implikasi Global – Reset kata sandi, pengembalian dana, serta layanan pemantauan kredit gratis; insiden ini mempertegas risiko sistem pembayaran digital global.


Akses ilegal itu berlangsung dalam senyap. Tanpa alarm publik, tanpa peringatan dini. Selama hampir enam bulan, sistem internal PayPal diakses pihak tak berwenang sebelum akhirnya perusahaan menyadari adanya aktivitas mencurigakan pada 12 Desember 2025.

Dalam pemberitahuan resmi kepada pelanggan, PayPal menyebut akses awal terjadi pada 1 Juli 2025. Perusahaan menyatakan insiden ini berkaitan dengan “perubahan kode” pada aplikasi pinjaman PayPal Working Capital (PPWC). Namun, detail teknis mengenai bagaimana peretas menembus sistem belum dijelaskan secara rinci.

PayPal mengakui kebocoran data akibat akses tidak sah sejak Juli 2025. Ratusan akun terdampak, sebagian mengalami transaksi ilegal. Bagaimana kronologi dan dampaknya bagi keamanan finansial global?

“Kami menghentikan akses tidak sah ke sistem PayPal,” tulis perusahaan dalam surat pemberitahuan kepada pelanggan.
Namun, pernyataan juru bicara PayPal kepada media internasional menimbulkan tanda tanya. “Ketika ada potensi kebocoran informasi pelanggan, PayPal diwajibkan untuk memberitahu pelanggan yang terdampak. Dalam kasus ini, sistem PayPal tidak diretas. Oleh karena itu, kami menghubungi sekitar 100 pelanggan yang berpotensi terdampak untuk memberikan informasi mengenai hal ini,” katanya.

Di sinilah letak kontradiksinya: jika bukan peretasan, bagaimana mungkin ada “akses tidak sah” selama berbulan-bulan?

Data Sensitif Terekspos

Data yang berpotensi bocor bukan informasi sepele. Nama lengkap, alamat email, nomor telepon, alamat bisnis, tanggal lahir, hingga nomor jaminan sosial disebut termasuk dalam data yang diakses. Bagi pelaku kejahatan siber, kombinasi ini adalah tambang emas untuk pencurian identitas dan fraud finansial.

PayPal juga mengonfirmasi bahwa “beberapa pelanggan mengalami transaksi tidak sah di akun mereka.” Perusahaan menyatakan telah mengembalikan dana yang hilang.

Sebagai langkah mitigasi, PayPal mereset kata sandi akun terdampak dan menawarkan layanan pemantauan kredit serta pemulihan identitas gratis selama dua tahun melalui Equifax.

Tren Serangan ke Sektor Keuangan

Insiden ini bukan kasus terisolasi. Laporan IBM Cost of a Data Breach 2025 mencatat bahwa sektor jasa keuangan termasuk tiga besar industri dengan biaya kebocoran data tertinggi secara global. Rata-rata kerugian per insiden di sektor ini menembus lebih dari US$5 juta, lebih tinggi dari rata-rata global yang berkisar US$4,45 juta.

Perusahaan keamanan siber juga mencatat bahwa serangan terhadap platform pembayaran digital meningkat signifikan dalam dua tahun terakhir, seiring lonjakan transaksi daring pascapandemi dan adopsi layanan keuangan digital lintas negara.
Di Amerika Serikat saja, laporan FBI Internet Crime Complaint Center (IC3) menunjukkan total kerugian akibat kejahatan siber pada 2024 melampaui US$12 miliar, dengan penipuan finansial menjadi kontributor terbesar.

Dengan lebih dari 430 juta akun aktif secara global, PayPal adalah target bernilai tinggi. Sekali celah terbuka, dampaknya bisa lintas negara.

Reputasi dan Kepercayaan

Bagi perusahaan pembayaran digital, kepercayaan adalah segalanya. Insiden keamanan—sekecil apa pun—berisiko menggerus reputasi yang dibangun bertahun-tahun.

Walau PayPal menyatakan hanya sekitar 100 pelanggan yang terdampak, fakta bahwa akses berlangsung hampir setengah tahun menjadi sorotan serius. Dalam dunia keamanan siber, durasi adalah indikator kritis: semakin lama peretas berada di dalam sistem, semakin besar potensi eksploitasi.

Imbauan Keamanan untuk Pengguna

PayPal mengimbau pengguna untuk:

● Menggunakan kombinasi nama pengguna dan kata sandi unik untuk setiap layanan.
● Segera mengubah kata sandi jika mendeteksi aktivitas mencurigakan.
● Tidak sembarang mengklik tautan dalam email
Waspada terhadap pesan bernada urgensi.
● Mengingat bahwa PayPal tidak pernah meminta kata sandi atau kode autentikasi melalui telepon, SMS, atau email.

Langkah ini terdengar standar, namun dalam praktiknya, kelalaian kecil sering menjadi pintu masuk serangan besar.


Digionary:

● Akses Tidak Sah: Masuknya pihak yang tidak memiliki otorisasi resmi ke dalam sistem atau jaringan.
● Data Breach: Insiden kebocoran data akibat peretasan atau kelalaian sistem keamanan.
● Equifax: Perusahaan biro kredit asal AS yang menyediakan layanan pemantauan kredit.
● Fintech: Teknologi yang digunakan untuk menyediakan layanan keuangan secara digital.
● Fraud Finansial: Tindakan penipuan yang bertujuan memperoleh keuntungan uang secara ilegal.
● Identity Theft: Pencurian identitas untuk melakukan kejahatan atau transaksi ilegal.
● Otentikasi Dua Faktor (2FA): Metode keamanan yang memerlukan dua bentuk verifikasi sebelum akses diberikan.
● PayPal Working Capital (PPWC): Layanan pinjaman modal usaha yang disediakan PayPal bagi pelaku bisnis.
● Phishing: Teknik penipuan dengan menyamar sebagai entitas resmi untuk mencuri data pengguna.
● Reset Kata Sandi: Proses penggantian password untuk mencegah akses lanjutan oleh pihak tak sah.

#PayPal #KebocoranData #KeamananSiber #CyberSecurity #DataBreach #Fintech #Peretasan #FraudOnline #TransaksiDigital #PerlindunganData #IdentityTheft #TeknologiKeuangan #DigitalPayment #CyberAttack #PrivasiData #Equifax #KeamananDigital #SiberGlobal #AncamanSiber #PerlindunganKonsumen

Comments are closed.