Survei membuktikan, lebih dari 50% generasi milenial pilih bank digital

- 4 November 2021 - 21:06

digitalbank.id – SEBUAH JAJAK PENDAPAT yang dilansir pertengahan tahun 2021 ini menunjukkan bahwa lebih dari setengah jumlah generasi milenial di dunia sangat senang beralih bahkan sudah memiliki akun di bank digital.

Hasil dari jajak pendapat global yang dilakukan oleh deVere Group terhadap 550+ klien yang lahir antara tahun 1980 dan 1996 menunjukkan bahwa 59% dari mereka yang disurvei hanya yang pernah menggunakan layanan perbankan digital atau berencana untuk beralih menggunakannya tahun ini.

Responden adalah klien yang saat ini tinggal di Amerika Utara, Inggris, Asia, Afrika, Timur Tengah, Asia Timur, Australasia, dan Amerika Latin.

“Boleh jadi, ini merupakan berita buruk bagi bank tradisional, yang tampaknya terus-menerus ‘mengejar ketertinggalan’ dalam beberapa tahun terakhir di tengah berkembangnya ekspektasi pelanggan, persyaratan, peraturan, dan kemajuan teknologi,” ungkap Nigel Green, CEO dan pendiri deVere Group.

Baca juga: Investor global kalap rebutan saham bank digital Indonesia

Hasil jajak pendapat ini menjadi masalah besar bagi bank-bank konvensional, kalau tak mau dikatakqn kuno. “Mengapa? Dua alasan: pertama, generasi milenial adalah kelompok klien yang tumbuh paling cepat; dan kedua, karena mereka menjadi penerima transfer kekayaan terbesar dalam sejarah.”

Menurut beberapa perkiraan, kekayaan sebesar US$68 triliun akan diturunkan dari baby boomer – generasi terkaya yang pernah ada – kepada anak-anak mereka dan ahli waris lainnya (milenial) selama beberapa dekade mendatang.

Green menambahkan, “Milenial tumbuh dengan teknologi. Mereka adalah ‘penduduk asli digital’ atau disebut digital native – mereka lahir ketika teknologi digital sudah berkembang pesat,” tuturnya.

Mereka telah dipengaruhi oleh lonjakan besar dalam teknologi saat mereka dewasa – yang terjadi pada saat yang sama dengan kehancuran keuangan global yang melanda pada tahun 2008. Dengan latar belakang ini, mereka tampaknya menjadi nyaman menggunakan fintech [teknologi keuangan] untuk membantu mereka mengakses, mengelola, dan menggunakan uang mereka daripada menggunakan bank tradisional.

Baca juga: Migrasi investor dari saham bank digital, sementara atau permanen?

Memang, menurut buku putih Facebook berjudul “Millennials + money: The unfiltered journey,” 92% milenium tidak mempercayai bank dan banyak yang menganggapnya sebagai sumber informasi yang tidak dapat diandalkan.

“Milenial mobile-first, ini prioritas pertama. Mereka mengharapkan akses dan kontrol keuangan yang mudah dan cepat dalam genggaman. Mereka menuntut untuk dapat mentransfer uang dan membayar tagihan dalam satu ketukan atau gesekan. Mereka ingin dapat meninjau kebiasaan belanja mereka, ditawari panduan, dan memiliki akses waktu nyata,” kata Green.

Dalam banyak kasus, tambah dia, bank tradisional yang ‘terlalu besar untuk gagal’ berjuang untuk mengimbangi inovasi teknologi yang sekarang mendorong ekspektasi pelanggan yang berubah. Teknologi lama dan model bisnis yang kaku menghadirkan tantangan transformasi yang cukup besar.

Selain kenyamanan, kontrol, dan fleksibilitas saat bepergian yang ditawarkan oleh bank khusus digital, klien juga sangat tertarik dengan kampanye hijau atau kualitas layanan yang peduli lingkungan.

Green mengatakan, pandangan dunia milenial mobile-first, dalam banyak hal, telah dibentuk oleh teknologi. “Wajar jika mereka beralih ke fintech daripada sistem perbankan yang mereka anggap ketinggalan zaman dan/atau tidak dapat dipercaya.”

Pembilasan brand

Wow! Lantas bagaimana dengan di Indonesia? Yuswohady, pakar brand dan Founder/CEO Inventure Indonesia justru lebih terang-terangan mengatakan dalam buku barunya berjudul The Rise of Cool and Agile Brand, 10 tahun terakhir telah terjadi “Pembilasan” brand-brand lama.

“Kalau dikatakan genocide terlalu mengerikan ya, tapi itulah kenyataan, maka saya pakai istilah pembilasan,” tegasnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa 10 tahun terakhir tidak hanya di Indonesia, bahkan di seluruh dunia telah muncul, tumbuh brand-brand baru yang cool dengan model bisnis baru, segar dan bertumbuh secara eksponensial menggantikan brand-brand lama.

Ada tiga penyebab pembilasan tersebut yakni Triple Disruptions yang terdiri dari Digital Disruptions, Millenial Disruptions dan Pandemic Disruptions. Lebih dari 50 perusahaan yang dibunuh oleh generasi milenial. Karena perubahan perilaku dan preferensi. Jadi perusahaan termasuk bank, bila tidak segera menyesuaikan dengan generasi milenial maka akan segera ditinggalkan.

Konsekuensinya, tranformasi bank-bank konvensional ke bank digital menjadi sebuah keharusan agar tidak ikut digulung gelombang pembilasan brand di masa yang tak akan terlalu lama lagi. (SAF)

 

Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.