AI Makin Masif, Data Center Kini Jadi Infrastruktur Wajib Perusahaan Besar

- 7 Mei 2026 - 10:45

Gelombang adopsi artificial intelligence (AI) mulai mengubah peta investasi teknologi perusahaan di Indonesia. Di tengah lonjakan kebutuhan komputasi dan keamanan data, perusahaan-perusahaan besar kini dinilai tidak lagi cukup hanya mengandalkan layanan cloud publik. Infrastruktur data center internal mulai menjadi kebutuhan strategis untuk menopang operasional AI, menjaga keamanan siber, sekaligus meningkatkan efisiensi bisnis jangka panjang.


Digi-Highlights:

■ Perusahaan dengan lebih dari 1.000 karyawan mulai menjadikan data center internal sebagai fondasi transformasi digital berbasis AI.
■ Lonjakan penggunaan AI meningkatkan kebutuhan infrastruktur komputasi, pendingin, dan keamanan siber berkapasitas tinggi.
■ Gap literasi digital dan kesiapan SDM masih menjadi tantangan utama dalam percepatan adopsi AI di Indonesia.


Transformasi digital berbasis artificial intelligence (AI) mulai mengubah strategi investasi teknologi perusahaan-perusahaan besar di Indonesia. Jika sebelumnya banyak korporasi mengandalkan layanan cloud eksternal, kini data center internal justru menjadi infrastruktur yang dinilai semakin krusial untuk menjaga daya saing bisnis.

Presiden Direktur Ingram Micro Indonesia, Mulia Dewi Karnadi, mengatakan perusahaan dengan jumlah karyawan lebih dari 1.000 orang umumnya telah memiliki pusat data sendiri. Menurut dia, kebutuhan tersebut semakin mendesak seiring meningkatnya penggunaan AI dalam operasional bisnis.

“Banyak perusahaan di Indonesia kalau kita bilang yang punya karyawan seribu atau lebih umumnya sudah punya data center sendiri,” ujarnya saat bicara di ajang Tech & Telco Forum 2026 bertema Building a Safer Digital Nation: From Connectivity to Cyber Resilience di Jakarta, Rabu (6/5).

Menurut dia, perkembangan AI membuat kebutuhan terhadap infrastruktur digital tidak lagi sekadar pendukung operasional, melainkan menjadi bagian inti dari strategi bisnis perusahaan. Teknologi AI membutuhkan kapasitas komputasi besar, jaringan berkecepatan tinggi, serta sistem pendingin yang lebih kompleks dibanding infrastruktur teknologi konvensional.

Karena itu, banyak perusahaan mulai melakukan modernisasi data center agar mampu menopang beban kerja AI yang terus meningkat. “Artinya mau nggak mau memang semua perusahaan anyway it’s about time untuk mereka punya data center dan sudah AI embedded,” katanya.

AI Ubah Peta Belanja Teknologi

Tren tersebut sejalan dengan meningkatnya investasi global pada infrastruktur AI. Laporan IDC memperkirakan belanja dunia untuk teknologi AI akan melampaui US$500 miliar dalam beberapa tahun ke depan, dengan sebagian besar investasi mengalir ke cloud computing, server AI, cybersecurity, dan data center.

Di Indonesia, kebutuhan data center juga terus tumbuh didorong oleh percepatan ekonomi digital. Data Kementerian Komunikasi dan Digital menunjukkan konsumsi data nasional meningkat signifikan setiap tahun, seiring melonjaknya penggunaan layanan digital, e-commerce, fintech, hingga aplikasi AI generatif.

Kondisi itu membuat perusahaan mulai memprioritaskan kontrol terhadap data dan keamanan sistem internal, terutama di tengah meningkatnya ancaman ransomware dan kebocoran data.

Tantangan SDM dan Literasi Digital

Meski demikian, adopsi AI tidak lepas dari tantangan. Mulia Dewi menilai banyak perusahaan masih menghadapi kesenjangan literasi digital, terutama dari sisi sumber daya manusia.

Karena itu, sebelum mengimplementasikan AI secara luas, perusahaan perlu melakukan AI maturity test untuk mengukur kesiapan organisasi, infrastruktur, serta kompetensi karyawan.

“Karena banyak sekali terjadi gap literasi digital, terutama dari sumber daya manusia. Di sini kita membantu untuk memberikan training yang diperlukan,” ujarnya.

Di tengah kompetisi digital yang semakin ketat, perusahaan kini tidak hanya dituntut mengadopsi AI, tetapi juga memastikan kesiapan infrastruktur dan tata kelola data yang memadai. Dalam konteks itu, data center tak lagi dipandang sekadar fasilitas teknologi, melainkan aset strategis yang menentukan keberlanjutan bisnis di era ekonomi digital.


Digi-Insights:

Ledakan penggunaan artificial intelligence (AI) mendorong banyak perusahaan besar mulai mempertimbangkan membangun data center sendiri sebagai fondasi bisnis digital mereka. Bagi sektor seperti perbankan, fintech, telekomunikasi, hingga e-commerce, data kini menjadi aset strategis yang menentukan daya saing. Kebutuhan AI terhadap komputasi besar, kecepatan akses data, dan keamanan siber membuat perusahaan tidak lagi cukup hanya mengandalkan cloud publik.

Namun, membangun data center bukan keputusan murah. Investasi awal sangat besar karena mencakup pembangunan fasilitas fisik, server, sistem pendingin, jaringan, keamanan siber, hingga infrastruktur listrik cadangan. Tantangan lain adalah tingginya konsumsi energi dan cepatnya perubahan teknologi AI yang membuat infrastruktur harus terus diperbarui setiap beberapa tahun. Di sisi lain, kebutuhan talenta digital seperti AI engineer dan cybersecurity specialist juga masih menjadi hambatan cukup serius di Indonesia.

Namun, meski mahal, data center internal memiliki sejumlah keunggulan strategis. Perusahaan memiliki kontrol penuh atas data, keamanan, dan kepatuhan terhadap regulasi. Hal ini sangat penting bagi industri keuangan yang mengelola data sensitif nasabah. Selain itu, data center internal memberikan performa sistem yang lebih stabil dan cepat, terutama untuk layanan berbasis AI real-time seperti fraud detection, personalisasi layanan, hingga mobile banking.

Di tengah kompleksitas tersebut, banyak perusahaan global kini bergerak ke model hybrid infrastructure, yakni kombinasi antara data center internal dan cloud. Model ini dinilai lebih fleksibel dan efisien karena data sensitif tetap disimpan sendiri, sementara kapasitas komputasi tambahan dapat menggunakan cloud sesuai kebutuhan. Pendekatan hybrid juga membantu perusahaan menekan biaya investasi sekaligus meningkatkan skalabilitas bisnis digital.

digitalbank.id menilai dalam beberapa tahun ke depan, data center akan berevolusi menjadi “AI Factory”, yaitu pusat pengolahan data, analitik, keamanan siber, dan automasi keputusan bisnis secara real-time. Karena itu, perusahaan yang mampu mengelola data, AI, dan keamanan digital secara terintegrasi akan memiliki keunggulan kompetitif paling besar di era ekonomi digital.


Digionary:

● AI Embedded: Integrasi teknologi artificial intelligence ke dalam sistem dan operasional bisnis perusahaan.
● AI Maturity Test: Pengukuran tingkat kesiapan perusahaan dalam mengadopsi teknologi AI secara menyeluruh.
● Cloud Computing: Layanan komputasi berbasis internet yang memungkinkan penyimpanan dan pengolahan data secara daring.
● Cyber Resilience: Kemampuan sistem digital bertahan dan pulih dari serangan siber atau gangguan teknologi.
● Data Center: Fasilitas pusat penyimpanan dan pengolahan data digital perusahaan.
● Generative AI: Teknologi AI yang mampu menghasilkan konten baru seperti teks, gambar, atau kode secara otomatis.
● Infrastruktur Digital: Sistem teknologi yang menopang operasional digital perusahaan, termasuk server dan jaringan data.
● Ransomware: Jenis serangan siber yang mengenkripsi data korban dan meminta tebusan untuk pemulihan akses.

#ArtificialIntelligence #AI #DataCenter #CyberSecurity #DigitalTransformation #CloudComputing #InfrastrukturDigital #TeknologiIndonesia #AIIndonesia #DigitalEconomy #CyberResilience #TechIndustry #EnterpriseTechnology #BigData #GenerativeAI #TechAndTelcoForum #IngramMicro #KeamananData #EkonomiDigital #TransformasiDigital

Comments are closed.