Mastercard: AI Tak Cukup Hanya Inovatif, Harus Tanpa Celah di Skala Besar

- 1 April 2026 - 08:28

Transformasi kecerdasan buatan (AI) kini memasuki fase baru: bukan lagi soal kecanggihan teknologi, melainkan soal keandalan, kepercayaan, dan dampak nyata. Dari sistem pembayaran global hingga peternakan lebah di India, AI hanya akan bernilai jika mampu bekerja konsisten dalam skala besar dan tetap berpusat pada manusia. Di sisi lain, meningkatnya kejahatan digital seperti romance fraud menunjukkan bahwa teknologi juga memperbesar risiko, sehingga tata kelola dan literasi menjadi kunci.


Fokus:

■ AI memasuki fase implementasi nyata: fokus pada keandalan, skala, dan kepercayaan.
■ Peran manusia tetap krusial dalam memastikan AI berjalan aman dan relevan.
■ Risiko kejahatan digital meningkat, termasuk manipulasi emosional berbasis teknologi.


Di tengah euforia kecerdasan buatan, satu hal mulai disadari pelaku industri global: teknologi secanggih apa pun tak akan berarti jika tidak bisa diandalkan.

Mastercard menegaskan bahwa tantangan terbesar AI hari ini bukan menciptakan inovasi baru, melainkan memastikan teknologi tersebut bekerja tanpa celah ketika digunakan dalam skala besar—terutama di sektor sensitif seperti pembayaran dan deteksi fraud.

Greg Ulrich, Chief AI and Data Officer Mastercard, menekankan bahwa keberhasilan AI tidak ditentukan oleh potensi, melainkan konsistensi performa. “Tata kelola bukan sesuatu yang ditambahkan di akhir implementasi — melainkan fondasi agar AI bisa berjalan secara bertanggung jawab dalam skala besar,” katanya.

Pernyataan ini mencerminkan pergeseran besar dalam industri: dari “AI sebagai eksperimen” menjadi “AI sebagai infrastruktur kritikal”.

Manusia Tetap di Pusat Sistem AI

Meski berbasis algoritma, AI tetap bergantung pada manusia. Janet George, yang memimpin AI Center of Excellence di Mastercard, menyoroti pentingnya memahami batas kemampuan AI. Menurutnya, nilai nyata AI hanya muncul ketika perusahaan mampu mengintegrasikan teknologi dengan proses bisnis dan kebutuhan manusia.

Model “human in the loop”—di mana manusia tetap menjadi pengambil keputusan akhir—menjadi pendekatan yang semakin dominan, terutama dalam sektor keuangan dan layanan publik.

Hal ini sejalan dengan temuan berbagai riset global, termasuk laporan McKinsey dan Deloitte, yang menunjukkan bahwa lebih dari 70% proyek AI gagal memberikan dampak bisnis signifikan karena kurangnya integrasi operasional dan governance yang kuat.

Dari Laboratorium ke Lapangan: AI Menyelamatkan Lebah

Dampak AI tak hanya terasa di ruang rapat korporasi. Di pedesaan India, teknologi ini justru membantu peternak lebah meningkatkan hasil panen. Platform Beekind yang dikembangkan oleh Buzzworthy Ventures memanfaatkan AI untuk memantau kesehatan sarang lebah, memberikan rekomendasi berbasis data, dan meningkatkan produktivitas.

Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan hasil panen, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru—terutama bagi perempuan di komunitas lokal.

Model ini menunjukkan satu hal penting: AI yang dirancang bersama pengguna (bukan untuk pengguna) memiliki peluang sukses jauh lebih besar.

Gelapnya Sisi AI: Penipuan Emosional yang Makin Canggih

Namun, di balik potensi besar AI, ancaman juga ikut berkembang. Salah satu yang paling mengkhawatirkan adalah romance fraud—penipuan berbasis hubungan emosional yang kini semakin canggih dengan bantuan teknologi.

Elisabeth Carter menegaskan bahwa istilah “scam” seringkali meremehkan kejahatan ini. “Romance fraud adalah manipulasi terorganisir yang secara sengaja mengeksploitasi kepercayaan dan emosi korban,” tuturnya.

Penggunaan istilah yang tepat bukan sekadar soal bahasa, tetapi juga berdampak pada cara korban diperlakukan—apakah disalahkan atau dilindungi.

Data global menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Menurut FTC (AS), kerugian akibat romance scam mencapai miliaran dolar setiap tahun, dengan AI kini digunakan untuk membuat identitas palsu yang semakin sulit dideteksi.

Ekonomi Digital Melaju Cepat, Risiko Ikut Membesar

Transformasi digital juga terlihat dari lonjakan bisnis online. Data dari Mastercard Economics Institute menunjukkan bahwa 53% bisnis apparel baru di AS pada 2025 beroperasi sepenuhnya secara online—naik dari 39% pada 2019.

Lonjakan ini mempercepat adopsi AI dalam berbagai lini bisnis, mulai dari pembayaran, customer service, hingga fraud detection.
Namun, semakin digital sebuah ekosistem, semakin besar pula risiko yang harus dikelola—mulai dari kebocoran data hingga manipulasi berbasis AI.

AI tidak lagi berdiri di atas panggung inovasi semata. Ia kini masuk ke jantung operasional bisnis dan kehidupan sehari-hari. Pertanyaannya bukan lagi “apa yang bisa dilakukan AI?”, melainkan bisakah AI dipercaya saat risiko nyata dipertaruhkan? Jawabannya akan menentukan siapa yang memimpin era digital berikutnya.


Digionary:

● AI Governance: Tata kelola penggunaan AI agar aman, etis, dan sesuai regulasi
● Artificial Intelligence (AI): Teknologi yang memungkinkan mesin meniru kecerdasan manusia
● Fraud: Kejahatan penipuan yang disengaja untuk keuntungan finansial
● Human in the Loop: Sistem AI yang tetap melibatkan manusia dalam pengambilan keputusan
● Machine Learning: Cabang AI yang memungkinkan sistem belajar dari data
● Romance Fraud: Penipuan berbasis hubungan emosional untuk menguras uang korban
● Social Engineering: Teknik manipulasi psikologis untuk mendapatkan informasi sensitif
● Tokenisasi: Proses mengubah aset menjadi bentuk digital

#ArtificialIntelligence #AIGovernance #DigitalTrust #AIInnovation #Fintech #CyberSecurity #FraudPrevention #RomanceFraud #DigitalEconomy #MachineLearning #AITrends #TechIndustry #FutureOfWork #DataSecurity #DigitalTransformation #AIIndonesia #FintechNews #CyberCrime #Innovation #Technology

Comments are closed.