Kecerdasan buatan tak lagi sekadar alat bantu di McKinsey. Teknologi ini kini mengubah struktur tenaga kerja raksasa konsultan global tersebut secara mendasar. Peran yang berhadapan langsung dengan klien tumbuh agresif, sementara pekerjaan non-klien menyusut, bahkan ketika produktivitas melonjak. Dengan puluhan ribu agen AI yang mulai diperlakukan layaknya “karyawan digital”, McKinsey sedang menguji model baru dunia kerja—dan memberi sinyal keras kepada korporasi global: beradaptasi dengan cepat atau tersingkir.
Selama hampir satu abad, pertumbuhan firma konsultan identik dengan penambahan manusia. McKinsey & Company kini mematahkan pakem lama itu. Kecerdasan buatan memungkinkan perusahaan ini tumbuh—sambil memangkas sebagian tenaga kerjanya—tanpa kehilangan daya saing, bahkan dengan produktivitas yang lebih tinggi.
Fokus Utama:
■ AI mengubah struktur tenaga kerja McKinsey secara simultan: tumbuh dan menyusut.
■ Munculnya agen AI sebagai “karyawan digital” dalam skala besar.
■ Pergeseran paradigma dunia kerja: kecepatan organisasi mengalahkan strategi.
Kecerdasan buatan (AI) bukan lagi eksperimen di McKinsey. Teknologi ini telah menjadi fondasi baru dalam cara firma konsultan terbesar dunia tersebut menyusun tenaga kerjanya. Bob Sternfels, Global Managing Partner McKinsey, membeberkan angka-angka keras yang menunjukkan betapa radikalnya perubahan itu.
Berbicara di ajang Consumer Electronics Show (CES) 2026 di Las Vegas, Sternfels mengatakan AI telah “mengubah secara fundamental” struktur organisasi McKinsey. Perusahaan kini mampu menambah dan memangkas pekerjaan secara bersamaan—namun tetap mencatat pertumbuhan agregat.
Pendekatan ini disebut Sternfels sebagai strategi “25 kuadrat”. Peran yang berhadapan langsung dengan klien—ikon klasik konsultan McKinsey—tumbuh sekitar 25%. Pada saat yang sama, peran non-klien yang mencakup sekitar separuh tenaga kerja menyusut sekitar 25%, meski output dari segmen tersebut justru meningkat 10%.
“Model kami selama ini identik dengan gagasan bahwa pertumbuhan hanya bisa terjadi jika jumlah karyawan total bertambah. Sekarang model itu terbelah. Kami bisa tumbuh di sisi yang berhadapan dengan klien, dan menyusut di sisi lain, namun tetap mencatat pertumbuhan secara keseluruhan,” kata Sternfels seperti dikutip Business insider. “Ini paradigma baru dan dinamika baru,” tambahnya.
Saat ini, McKinsey mempekerjakan sekitar 40.000 karyawan manusia. Namun yang mengejutkan, perusahaan juga telah memiliki sekitar 25.000 AI agents—agen kecerdasan buatan yang dirancang untuk bekerja secara mandiri layaknya karyawan digital. Sternfels mengatakan, agen-agen ini mampu menangani satu fungsi pekerjaan secara utuh.
Ia bahkan memperkirakan, pada akhir tahun ini jumlah agen AI akan setara dengan jumlah karyawan manusia di McKinsey.
Lonjakan produktivitas menjadi kunci di balik transformasi tersebut. Sternfels mengungkapkan bahwa adopsi AI telah menghemat sekitar 1,5 juta jam kerja hanya dalam satu tahun, terutama dari aktivitas pencarian data dan sintesis informasi. Pekerjaan yang sebelumnya ditangani konsultan junior kini diambil alih mesin, mendorong para konsultan manusia “naik kelas”.
Alih-alih tenggelam dalam tugas rutin, konsultan McKinsey kini lebih fokus pada persoalan kompleks yang membutuhkan penilaian manusia, intuisi bisnis, dan kreativitas strategis.
Fenomena ini mencerminkan perubahan yang lebih luas di industri konsultansi global. Business Insider sebelumnya melaporkan bagaimana AI mulai mengubah cara firma-firma besar seperti McKinsey menghasilkan uang, termasuk pergeseran menuju skema outcome-based pricing, di mana klien membayar berdasarkan hasil, bukan jam kerja.
Bagi generasi profesional muda, Sternfels memberikan pesan yang lugas untuk mengasah kemampuan yang tidak bisa ditiru mesin. Ia menekankan pentingnya aspirasi yang tepat, penilaian manusia, dan kreativitas sejati—kompetensi yang masih sulit digantikan AI, bahkan ketika teknologi berkembang dengan kecepatan tinggi.
Transformasi McKinsey, menurut Sternfels, juga menjadi cerminan tantangan besar yang dihadapi perusahaan mapan di seluruh dunia. “Ini soal bagaimana mentransformasi entitas lama menjadi sesuatu yang berbeda,” ujarnya. “Untuk perusahaan besar yang sudah ada, pilihannya jelas—bertransformasi atau mati.”
Kecepatan menjadi faktor penentu. Sternfels menyebut hampir semua CEO yang ia temui kini dihantui pertanyaan yang sama: bagaimana membuat organisasi bergerak lebih cepat. “Sejujurnya, ini semakin kurang soal strategi, dan semakin soal kecepatan organisasi,” katanya. “Perusahaan sekarang bergerak dengan kecepatan seperti warp speed.”
Digionary:
● AI Agents: Sistem kecerdasan buatan yang mampu bekerja secara mandiri dan menjalankan fungsi pekerjaan end-to-end
● Artificial Intelligence (AI): Teknologi yang memungkinkan mesin meniru kecerdasan manusia, termasuk analisis dan pengambilan keputusan
● Client-Facing Roles: Posisi yang berinteraksi langsung dengan klien
● Non-Client-Facing Roles: Posisi pendukung internal yang tidak berhubungan langsung dengan klien
● Outcome-Based Pricing: Model penetapan harga berbasis hasil, bukan waktu kerja
● Paradigma Baru: Cara pandang atau model kerja yang berbeda dari praktik sebelumnya
● Produktivitas: Rasio antara output yang dihasilkan dan sumber daya yang digunakan
● Warp Speed: Istilah metaforis untuk menggambarkan kecepatan perubahan yang sangat tinggi
#McKinsey #ArtificialIntelligence #AIWorkforce #KonsultanGlobal #TransformasiBisnis #MasaDepanKerja #AIagents #Produktivitas #DigitalWorkforce #TeknologiBisnis #CES2026 #ManajemenPerubahan #Kepemimpinan #InovasiOrganisasi #ConsultingIndustry #FutureOfWork #CorporateTransformation #BusinessStrategy #HumanAndAI #GlobalBusiness
