Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) global pada 2025 mencapai level tertinggi sejak pandemi. Untuk pertama kalinya, perusahaan-perusahaan teknologi raksasa secara terbuka menyebut kecerdasan buatan (AI) sebagai faktor utama pemangkasan tenaga kerja. Namun di balik narasi efisiensi, sejumlah akademisi menilai AI kerap dijadikan tameng atas kesalahan strategi perekrutan masa lalu.
Fokus Utama:
■ AI secara terbuka diakui sebagai faktor pemicu PHK massal oleh perusahaan-perusahaan besar global.
■ Tekanan efisiensi biaya dan perubahan model bisnis mempercepat adopsi AI di berbagai sektor.
■ Akademisi menilai AI kerap dijadikan alasan untuk menutupi kesalahan perekrutan berlebihan pascapandemi.
PHK global 2025 melonjak tajam. Perusahaan raksasa terang-terangan menyebut AI sebagai alasan efisiensi, namun benarkah AI satu-satunya penyebab?
Perusahaan-perusahaan besar belakangan ini mulai berbicara secara gamblang, ribuan pekerja harus di-PHKkarena AI. Tahun 2025 menandai titik balik ketika kecerdasan buatan tak lagi sekadar alat bantu produktivitas, melainkan alasan resmi di balik gelombang PHK terbesar sejak krisis Covid-19.
Pasar tenaga kerja global kembali terguncang. Data firma konsultan Challenger, Gray & Christmas menunjukkan, sepanjang 2025 AI telah memicu hampir 55.000 PHK di Amerika Serikat. Secara total, jumlah pekerja yang kehilangan pekerjaan mencapai 1,17 juta orang, tertinggi sejak 2020.
Tekanan inflasi yang belum sepenuhnya reda, kenaikan tarif, serta tuntutan efisiensi biaya membuat banyak korporasi mencari jalan pintas. AI tampil sebagai jawaban yang dianggap rasional, yakni lebih cepat, lebih murah, dan tidak menuntut kenaikan gaji.
Studi Massachusetts Institute of Technology (MIT) memperkuat narasi ini. AI disebut telah mampu menggantikan sekitar 11,7% pekerjaan di AS dan berpotensi memangkas biaya upah hingga US$1,2 triliun. Angka yang sulit diabaikan oleh direksi perusahaan mana pun.
Untuk pertama kalinya, sejumlah perusahaan teknologi papan atas secara terbuka menyebut AI dalam strategi restrukturisasi dan PHK. Mengutip CNBC Internasional, daftar itu mencakup Amazon, Microsoft, Salesforce, IBM, CrowdStrike, hingga Workday.
Amazon menjadi sorotan setelah memangkas 14.000 posisi korporasi pada Oktober 2025. Manajemen menyebut langkah tersebut sebagai bagian dari penguatan investasi pada proyek-proyek strategis, termasuk AI.
Microsoft tak jauh berbeda. Sepanjang 2025, raksasa perangkat lunak ini telah memangkas sekitar 15.000 karyawan. CEO Satya Nadella menegaskan transformasi AI mendorong perubahan besar dalam model bisnis dan kebutuhan tenaga kerja perusahaan. Salesforce bahkan lebih terang-terangan. Perusahaan ini memangkas 4.000 staf layanan pelanggan, seiring meningkatnya peran AI. CEO Marc Benioff menyebut teknologi tersebut kini telah menangani hingga setengah dari beban kerja perusahaan.
IBM, CrowdStrike, dan Workday juga mengikuti pola serupa. Meski IBM mengklaim tetap membuka lowongan di sektor yang membutuhkan pemikiran kritis, perusahaan itu mengakui AI telah menggantikan ratusan posisi administratif.
Efisiensi atau Koreksi Kesalahan Lama?
Namun, tidak semua pihak sepakat dengan narasi AI sebagai penyebab utama. Sejumlah akademisi menilai AI kerap dijadikan kambing hitam atas kesalahan strategis yang dibuat perusahaan sendiri.
Fabian Stephany dari Oxford Internet Institute menyebut gelombang PHK ini lebih banyak dipicu oleh perekrutan berlebihan saat pandemi, ketika perusahaan berlomba-lomba memperbesar tim di tengah lonjakan permintaan digital.
“Ini sebagian merupakan pemecatan terhadap orang-orang yang sebenarnya tidak memiliki prospek jangka panjang yang berkelanjutan. Namun alih-alih mengakui kesalahan perhitungan dua atau tiga tahun lalu, perusahaan menjadikan AI sebagai kambing hitam,” ujar Stephany.
Pandangan ini menempatkan AI bukan sebagai penyebab tunggal, melainkan katalis yang mempercepat koreksi struktural di dunia kerja global.
Yang jelas, 2025 menandai fase baru hubungan antara teknologi dan tenaga kerja. AI kini tak lagi berada di belakang layar. Ia hadir di ruang rapat direksi, memengaruhi neraca keuangan, dan menentukan siapa yang bertahan—dan siapa yang tidak.
Bagi pekerja, sinyalnya tegas: keahlian rutin dan administratif semakin rentan. Sebaliknya, pekerjaan yang menuntut pemikiran kritis, kreativitas, dan pengambilan keputusan strategis menjadi benteng terakhir yang belum mudah ditembus mesin.
Digionary:
● Artificial Intelligence (AI): Teknologi yang memungkinkan mesin meniru kecerdasan manusia
● Efisiensi Biaya: Upaya menekan pengeluaran tanpa menurunkan output utama
● PHK: Pemutusan hubungan kerja
● Restrukturisasi: Penataan ulang organisasi atau bisnis
● Transformasi Digital: Perubahan operasional berbasis teknologi digital
#AI #PHK #KecerdasanBuatan #PasarTenagaKerja #EfisiensiBiaya #PerusahaanTeknologi #TransformasiDigital #EkonomiGlobal #DuniaKerja #Otomatisasi #FutureOfWork #Layoffs #BigTech #Produktivitas #Reskilling #UpSkilling #MITResearch #OxfordInstitute #DigitalEconomy #Workforce
