DBS Group Research menilai pasar saham Singapura masih berpotensi pulih meski bergerak volatil sepanjang 2026. Di tengah ketidakpastian geopolitik global, perang energi, dan tekanan pasar keuangan, DBS memilih strategi investasi berbasis saham artificial intelligence (AI), semikonduktor, dan value stocks yang dinilai lebih tahan terhadap guncangan ekonomi global. Optimisme tersebut bergantung pada perkembangan negosiasi Amerika Serikat-Iran serta stabilitas harga minyak dunia dalam beberapa bulan ke depan.
Digi-Highlights:
■ DBS mempertahankan target indeks STI 5.250 poin meski pasar global dibayangi tensi geopolitik dan volatilitas harga minyak.
■ Saham AI, semikonduktor, dan perusahaan dengan arus kas stabil dinilai paling resilien menghadapi ketidakpastian global.
■ Risiko konflik Timur Tengah dan lonjakan harga minyak hingga US$200 per barel dapat memicu koreksi tajam pasar saham Asia.
Di tengah pasar global yang bergerak tidak menentu, DBS Group Research memilih tetap optimistis terhadap prospek pasar saham Singapura. Namun optimisme itu datang dengan catatan besar: dunia masih berada dalam fase ketidakpastian geopolitik paling sensitif dalam beberapa tahun terakhir.
DBS mempertahankan target akhir tahun untuk Straits Times Index (STI) di level 5.250 poin. Meski demikian, jalur menuju target tersebut diperkirakan tidak akan mulus. Bursa diproyeksi bergerak fluktuatif seiring pasar terus mencermati perkembangan negosiasi Amerika Serikat dan Iran, arah kebijakan suku bunga Federal Reserve, hingga keberlanjutan reli saham berbasis artificial intelligence (AI).
Dalam laporan riset terbarunya, DBS menyebut skenario dasar pasar bergantung pada keberhasilan pembicaraan AS-Iran pada kuartal II-2026. Jika tercapai kesepakatan dan jalur distribusi energi di Selat Hormuz kembali stabil pada Mei atau Juni, tekanan harga minyak diyakini mulai mereda.
DBS memperkirakan lonjakan harga minyak Brent dalam skenario dasar masih akan tertahan di sekitar US$125 per barel sebelum turun menuju kisaran US$80 pada akhir 2026. Probabilitas skenario ini diperkirakan mencapai 50%.
“Pasar saat ini bergerak di tengah kombinasi ketidakpastian geopolitik, risiko energi, dan momentum AI global,” tulis analis DBS Yeo Kee Yan dan Foo Fang Boon dalam laporan tersebut seperti dikutip The Business Times.
Di tengah kondisi tersebut, DBS merekomendasikan strategi investasi yang disebut sebagai “resilience barbell strategy”. Strategi ini memadukan saham berbasis pertumbuhan teknologi dengan saham defensif yang memiliki fundamental pendapatan kuat.
Di satu sisi, DBS melihat saham-saham AI dan semikonduktor masih memiliki prospek pertumbuhan besar. Perusahaan seperti UMS Integration dan AEM disebut menjadi penerima manfaat langsung dari gelombang investasi AI global dan siklus pertumbuhan industri chip yang terus berlanjut.
Optimisme terhadap sektor AI bukan tanpa alasan. Menurut laporan IDC dan Gartner, belanja global untuk infrastruktur AI diperkirakan terus tumbuh dua digit hingga beberapa tahun ke depan. Nvidia, Microsoft, Google, hingga Amazon masih agresif memperbesar investasi data center dan AI generatif.
Momentum AI tersebut juga ikut mengangkat sentimen terhadap saham teknologi Asia, termasuk Singapura. DBS menilai arus dana dari program Equity Market Development Programme turut memperkuat minat investor terhadap sektor teknologi lokal.
Namun DBS juga mengingatkan bahwa euforia AI tetap harus diimbangi dengan perlindungan terhadap risiko global. Karena itu, sisi lain strategi “barbell” diarahkan ke saham-saham defensif yang memiliki backlog proyek besar dan pendapatan lebih stabil.
Perusahaan seperti ST Engineering, Yangzijiang Shipbuilding, dan Yangzijiang Maritime masuk dalam daftar unggulan DBS karena dinilai memiliki visibilitas pendapatan lebih kuat di tengah perlambatan ekonomi global.
Selain itu, DBS melihat saham berbasis dividen dan perusahaan dengan potensi restrukturisasi korporasi mulai kembali menarik perhatian investor. Dorongan reformasi pasar modal Singapura dinilai membuat investor semakin fokus pada transparansi pembagian dividen dan efisiensi alokasi modal perusahaan.
Beberapa saham seperti Genting Singapore, China Aviation Oil, hingga Venture Corporation dinilai berpotensi memperoleh sentimen positif dari tren tersebut. Sementara perusahaan seperti UOL Group dan City Developments Ltd disebut masih memiliki potensi “unlock value” yang belum sepenuhnya terefleksi di pasar.
Meski begitu, DBS mengingatkan pasar masih dibayangi risiko besar. Narasi klasik “sell in May” yang selama ini identik dengan pelemahan pasar dinilai tahun ini berubah menjadi situasi yang sulit diprediksi.
Secara historis, peluang STI mencatatkan kenaikan positif pada periode Mei hanya sekitar 27%. Namun tahun ini, DBS menyebut peluang tersebut ibarat lemparan koin karena arah pasar sangat ditentukan faktor geopolitik global.
Risiko terbesar datang dari kemungkinan gagalnya negosiasi AS-Iran. Dalam skenario terburuk yang memiliki probabilitas sekitar 20%, konflik Iran berpotensi berkembang menjadi konflik regional yang lebih luas dan memicu lonjakan harga minyak Brent ke kisaran US$150 hingga US$200 per barel.
Jika itu terjadi, DBS memperkirakan STI bisa jatuh ke bawah rata-rata pergerakan 200 hari dan terkoreksi ke area 4.300–4.450 poin.
Selain Timur Tengah, DBS menilai terdapat tiga faktor global utama yang akan menentukan arah pasar dalam jangka pendek.
Pertama, transisi kebijakan Federal Reserve Amerika Serikat menuju arah yang lebih hawkish diperkirakan akan menguntungkan saham-saham perbankan besar.
Kedua, pertemuan stabilisasi hubungan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping dipandang penting bagi saham-saham yang sensitif terhadap perdagangan global dan rantai pasok internasional.
Ketiga, laporan kinerja Nvidia pada 20 Mei diperkirakan menjadi ujian besar bagi reli saham AI global. Hasil keuangan Nvidia akan menjadi indikator apakah momentum investasi AI masih cukup kuat menopang pasar teknologi dunia.
DBS menilai dampaknya akan sangat terasa bagi saham-saham teknologi Asia, termasuk perusahaan Singapura seperti Asti dan Avi-Tech yang sebelumnya mencatat performa kuat sepanjang April.
Di tengah seluruh dinamika tersebut, satu hal yang mulai terlihat jelas adalah bahwa AI kini bukan lagi sekadar tema teknologi, melainkan sudah menjadi faktor utama penggerak pasar modal global. Bagi investor, pertarungan saat ini bukan lagi memilih antara saham teknologi atau saham defensif. Tantangan terbesar justru terletak pada bagaimana menyeimbangkan pertumbuhan, risiko geopolitik, dan ketahanan portofolio di era ekonomi yang semakin tidak pasti. ●
Digi-Insights:
■ Pasar global mulai memasuki fase baru yang tidak lagi digerakkan hanya oleh narasi pertumbuhan, tetapi oleh kemampuan bertahan menghadapi ketidakpastian geopolitik, energi, dan teknologi secara bersamaan. Dalam konteks ini, strategi DBS yang mengombinasikan saham berbasis AI dengan saham “value” mencerminkan perubahan cara investor institusi membaca risiko. AI tetap dipandang sebagai mesin pertumbuhan jangka panjang, tetapi volatilitas global membuat investor semakin selektif terhadap perusahaan yang memiliki arus kas kuat, backlog pendapatan jelas, dan daya tahan operasional tinggi.
■ Menariknya, AI kini tidak lagi diposisikan sekadar sebagai tema teknologi, melainkan sebagai infrastruktur ekonomi baru yang memengaruhi arah pasar modal regional. Efek limpahan investasi AI mulai terlihat pada sektor semikonduktor, data center, hingga infrastruktur digital Asia. Namun di saat yang sama, pasar juga menunjukkan pergeseran ke pendekatan “resilience investing” — yakni strategi yang menempatkan ketahanan bisnis dan kemampuan menjaga profitabilitas sebagai faktor utama di tengah risiko perang, fluktuasi energi, dan kebijakan suku bunga global yang lebih agresif.
■ Bagi Asia, terutama Singapura dan kawasan ASEAN, dinamika ini membuka peluang sekaligus tantangan besar. Negara dan perusahaan yang mampu menggabungkan transformasi AI, disiplin keuangan, serta stabilitas regulasi berpotensi menjadi magnet baru investasi global. Sebaliknya, pasar yang terlalu bergantung pada sentimen jangka pendek atau aliran modal asing akan lebih rentan terhadap shock geopolitik dan perubahan arah kebijakan global.
Digionary:
● AI Generatif: Teknologi kecerdasan buatan yang mampu menghasilkan teks, gambar, audio, atau video secara otomatis.
● Barbell Strategy: Strategi investasi yang mengombinasikan aset berisiko tinggi dan aset defensif untuk menjaga keseimbangan portofolio.
● Brent Crude: Patokan harga minyak mentah global yang menjadi acuan perdagangan energi internasional.
● Hawkish: Sikap kebijakan bank sentral yang cenderung mendukung suku bunga tinggi untuk mengendalikan inflasi.
● Resilience Investing: Pendekatan investasi yang fokus pada perusahaan dengan daya tahan kuat terhadap gejolak ekonomi.
● Semiconductor: Industri chip atau perangkat semikonduktor yang menjadi fondasi teknologi digital dan AI modern.
● Straits Times Index (STI): Indeks utama pasar saham Singapura yang mencerminkan kinerja perusahaan-perusahaan terbesar di negara tersebut.
● Value Stocks: Saham perusahaan yang dinilai memiliki valuasi murah dibanding fundamental bisnisnya.
● Volatilitas Pasar: Kondisi naik-turunnya harga aset secara cepat akibat sentimen pasar dan faktor eksternal.
#DBS #AI #ArtificialIntelligence #SahamAI #PasarSaham #Singapura #STI #ValueStocks #Semiconductor #Nvidia #Investasi #Geopolitik #HargaMinyak #FederalReserve #WallStreet #EkonomiGlobal #BursaAsia #DataCenter #TeknologiAI #MarketOutlook
