Pasca Rebalancing MSCI, OJK: Harga Saham Indonesia Sudah di Bawah Bursa Asia

- 13 Mei 2026 - 18:32

Pasar saham Indonesia berada dalam tekanan setelah 18 saham emiten nasional terdepak dari indeks global MSCI di tengah pelemahan IHSG dari level tertinggi sepanjang masa pada awal 2026. Namun di balik tekanan tersebut, OJK menilai valuasi saham Indonesia kini justru lebih murah dibanding rata-rata bursa Asia. Regulator melihat kondisi ini sebagai peluang bagi investor jangka panjang, meski volatilitas global dan risiko arus keluar dana asing masih membayangi pasar domestik.


Digital-Highlights:

■ IHSG terkoreksi tajam dari level ATH 9.134 ke kisaran 6.700 akibat tekanan global dan rebalancing MSCI.
■ OJK menyebut valuasi saham Indonesia kini lebih murah dibanding bursa regional dengan PER sekitar 16 kali.
■ Sebanyak 18 saham RI keluar dari indeks MSCI, memicu tekanan pasar dan potensi arus keluar dana asing.


Pasar saham Indonesia tengah menghadapi tekanan besar di tengah gejolak global dan keluarnya sejumlah emiten nasional dari indeks global MSCI. Setelah sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa atau all time high (ATH) di level 9.134 pada pertengahan Januari 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kini turun ke kisaran 6.734.

Tekanan pasar semakin terasa setelah MSCI dalam rebalancing Mei 2026 resmi mengeluarkan 18 saham Indonesia dari berbagai kategori indeks globalnya. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran investor terhadap potensi arus keluar dana asing (capital outflow) dari pasar domestik.

Namun di tengah sentimen negatif itu, Otoritas Jasa Keuangan melihat valuasi saham Indonesia justru mulai menarik dibandingkan pasar regional Asia.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, mengatakan rasio harga terhadap laba atau price to earnings ratio (PER) pasar saham Indonesia kini berada di level sekitar 16 kali.

“IHSG kita sekarang sudah jauh di bawah posisi pada saat terjadi all time high di pertengahan Januari. Sekarang bahkan secara PER regional, tingkat rata-rata PER saham-saham kita sudah ada di bawah PER rata-rata bursa-bursa lainnya. Sekarang tingkatnya di level 16 kali,” ujar Hasan di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu.

Menurut Hasan, kondisi tersebut dapat menjadi peluang bagi investor untuk mulai masuk secara selektif ke pasar modal, terutama pada saham-saham yang memiliki fundamental kuat dan prospek jangka panjang yang baik.

“Kami berharap para investor kita secara selektif memanfaatkan momentum ini untuk masuk di pasar dan memilih saham-saham terbaik yang secara prospektif dapat terus melakukan perbaikan kinerja dari waktu-waktu,” katanya.

Dampak Rebalancing MSCI

Tekanan terhadap IHSG tidak lepas dari keputusan MSCI yang masih membekukan penambahan saham Indonesia ke kategori MSCI Global Standard Index. Dalam pengumuman terbaru, sejumlah saham besar Indonesia resmi keluar dari indeks tersebut.

Beberapa emiten yang terdepak dari MSCI Global Standard Index antara lain PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).

Sementara itu, sejumlah saham lain juga keluar dari kategori MSCI Small Cap Indexes, termasuk PT Aneka Tambang Tbk, PT Bumi Serpong Damai Tbk, dan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk.

Analis pasar menilai keluarnya saham-saham tersebut berpotensi memicu tekanan jangka pendek karena sejumlah dana global berbasis indeks (passive funds) biasanya menyesuaikan portofolio mengikuti komposisi MSCI.

OJK Dorong Reformasi Pasar Modal

Di tengah tekanan tersebut, OJK bersama self-regulatory organization (SRO) terus melakukan reformasi pasar modal untuk meningkatkan kualitas dan daya saing bursa Indonesia.

Hasan mengatakan pelemahan pasar saat ini merupakan bagian dari proses penyesuaian menuju level dasar baru (new baseline) bagi pasar modal Indonesia. Menurutnya, reformasi yang dilakukan diarahkan untuk meningkatkan kualitas emiten agar memenuhi standar indeks global.

“Kami juga mendorong saham untuk masuk ke anggota indeks global pada saatnya memenuhi kriteria yang diharapkan masuk ke index provider global. Jadi, long term gain yang kami kejar dalam upaya rebalancing index provider global,” ujar Hasan.

Langkah reformasi tersebut mencakup peningkatan transparansi emiten, tata kelola perusahaan, likuiditas saham, hingga kualitas free float yang selama ini menjadi perhatian indeks global seperti MSCI.

Investor Asing Masih Hati-hati

Meski valuasi dinilai murah, investor asing masih cenderung berhati-hati terhadap pasar Indonesia. Tekanan terhadap rupiah yang sempat mendekati Rp17.500 per dolar AS turut meningkatkan sensitivitas investor global terhadap aset berisiko di emerging market.

Di sisi lain, sejumlah analis menilai valuasi murah belum otomatis menjadi katalis penguatan pasar jika sentimen global belum stabil. Investor kini menunggu arah kebijakan suku bunga bank sentral utama dunia serta perkembangan ekonomi China dan Amerika Serikat yang sangat memengaruhi arus modal global.

Namun demikian, sebagian pelaku pasar melihat koreksi IHSG saat ini mulai membuka ruang akumulasi bagi investor jangka panjang, terutama pada saham-saham berfundamental kuat yang sebelumnya diperdagangkan pada valuasi premium. ■


Digionary:

● All Time High (ATH): Posisi tertinggi sepanjang sejarah yang pernah dicapai suatu indeks atau saham.
● Capital Outflow: Arus keluarnya dana investor asing dari suatu negara atau pasar keuangan.
● Emerging Market: Kelompok negara berkembang yang memiliki pertumbuhan ekonomi dan pasar keuangan potensial.
● Free Float: Porsi saham perusahaan yang beredar dan dapat diperdagangkan publik di pasar saham.
● IHSG: Indeks Harga Saham Gabungan yang menjadi acuan utama pergerakan pasar saham Indonesia.
● MSCI: Perusahaan penyedia indeks global yang menjadi acuan investor institusi internasional.
● PER (Price to Earnings Ratio): Rasio valuasi saham yang membandingkan harga saham dengan laba perusahaan.
● Rebalancing: Penyesuaian komposisi saham dalam suatu indeks investasi global.
● SRO (Self Regulatory Organization): Lembaga pengatur mandiri di pasar modal seperti BEI, KPEI, dan KSEI.
● Valuasi Saham: Penilaian harga wajar suatu saham berdasarkan kinerja dan prospek perusahaan.

#IHSG #MSCI #OJK #PasarModal #SahamIndonesia #BursaEfekIndonesia #InvestorAsing #RebalancingMSCI #ValuasiSaham #BEI #SahamMurah #EkonomiIndonesia #InvestasiSaham #CapitalMarket #Emiten #BloombergTechnoz #DetikFinance #FinancialMarket #PasarSaham #Investasi

Comments are closed.