Bank DBS Indonesia melihat agenda keberlanjutan di Indonesia mulai bergeser dari sekadar pemenuhan kepatuhan menuju bagian dari strategi bisnis, ketahanan usaha, dan daya saing. Riset bersama Tenggara Strategics memetakan lima sektor—energi dan infrastruktur, teknologi dan telekomunikasi, pangan dan agribisnis, kesehatan dan farmasi, serta logam dan pertambangan—yang memiliki peluang investasi besar, tetapi masih menghadapi persoalan kesiapan proyek, infrastruktur, teknologi, regulasi, risiko, dan struktur pembiayaan.
DIGI-HIGHLIGHTS:
■ Transisi energi membuka investasi besar, tetapi keterbatasan jaringan listrik dan kesiapan proyek masih menjadi penghambat utama pengembangan energi bersih.
■ AI mengubah ekonomi digital, sementara kebutuhan pusat data, cloud dan cybersecurity meningkatkan permintaan terhadap infrastruktur digital yang lebih efisien.
■ Keberlanjutan menjadi faktor daya saing, terutama bagi komoditas ekspor yang menghadapi tuntutan karbon, ketertelusuran dan standar lingkungan global.
Keberlanjutan di Indonesia mulai memasuki babak yang berbeda. Jika sebelumnya lebih banyak ditempatkan sebagai agenda kepatuhan dan pelaporan, kini faktor lingkungan, sosial, dan tata kelola semakin masuk ke ruang keputusan bisnis: investasi, rantai pasok, teknologi, efisiensi biaya hingga akses pembiayaan.
Perubahan tersebut menjadi temuan utama riset Bank DBS Indonesia bersama Tenggara Strategics bertajuk The Sustainability Shift: Indonesia’s Industrial Landscape in Five Key Sectors, Opportunities and Risks.
Riset itu memetakan perubahan di lima kelompok industri strategis, yakni energi, energi terbarukan dan infrastruktur; teknologi, media dan telekomunikasi; pangan dan agribisnis; kesehatan dan farmasi; serta logam dan pertambangan.
Benang merahnya sama: perusahaan dituntut semakin serius mengintegrasikan keberlanjutan ke dalam bisnis. Namun, jalannya tidak seragam.
“Di tengah perubahan lanskap bisnis yang semakin kompleks, perusahaan membutuhkan perspektif yang jelas untuk menentukan prioritas dan mengambil keputusan jangka panjang. Keberlanjutan kini semakin berkaitan erat dengan ketahanan usaha, daya saing, dan penciptaan nilai. Namun, pergeseran menuju bisnis yang lebih berkelanjutan tidak memiliki satu jalur yang sama di setiap sektor. Melalui riset ini, Bank DBS Indonesia berupaya memberikan insights yang lebih terarah mengenai perubahan yang terjadi di berbagai sektor strategis, sekaligus peluang dan tantangan yang perlu diantisipasi dunia usaha,” kata Director of Institutional Banking Group PT Bank DBS Indonesia, Anthonius Sehonamin.
Perubahan tersebut juga berlangsung ketika kerangka pembiayaan berkelanjutan di Indonesia semakin matang. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menerbitkan Taksonomi untuk Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI) Versi 3 pada 2026. Kerangka tersebut telah memperluas cakupan klasifikasi aktivitas ekonomi berkelanjutan ke seluruh sektor yang berkaitan dengan kontribusi iklim nasional, sekaligus menambahkan sektor seperti manufaktur, pertanian, informasi dan komunikasi, serta aktivitas profesional dan teknis.
Dengan demikian, tantangan keberlanjutan kini bukan hanya bagaimana perusahaan menjalankan proyek hijau, tetapi bagaimana proyek tersebut dibuat cukup matang untuk memperoleh modal.
Lima Sektor, Lima Persoalan
Sektor energi menghadapi perubahan paling mendasar. Elektrifikasi kendaraan, pembangunan pusat data, hilirisasi mineral, industrialisasi dan peningkatan konsumsi rumah tangga akan meningkatkan kebutuhan listrik dalam jangka panjang.
Kementerian ESDM sebelumnya memproyeksikan kebutuhan listrik Indonesia pada 2060 mencapai sekitar 1.885 TWh.
Di sisi lain, Indonesia memiliki potensi energi baru terbarukan sekitar 3.687 GW. Namun, kapasitas pembangkit EBT yang telah terpasang hingga Juni 2026 baru sekitar 16,3 GW.
Kesenjangan tersebut menunjukkan bahwa persoalan Indonesia bukan kekurangan potensi energi bersih, melainkan kemampuan mengubah potensi menjadi proyek yang dapat dibangun dan dibiayai.
Peluang karena itu tidak hanya berada pada pembangkit surya, panas bumi, air atau angin. Investasi juga dibutuhkan untuk battery energy storage system (BESS), modernisasi jaringan, transmisi dan elektrifikasi industri.
Teknologi: AI Mengubah Kebutuhan Infrastruktur Digital
Di sektor teknologi, media dan telekomunikasi, pertumbuhan tidak lagi hanya bertumpu pada jumlah koneksi.
Ledakan penggunaan kecerdasan buatan (AI) menciptakan kebutuhan baru terhadap pusat data, komputasi awan, jaringan berkapasitas besar dan keamanan siber.
Laporan e-Conomy SEA 2025 dari Google, Temasek dan Bain & Company memperkirakan ekonomi digital Indonesia hampir mencapai US$100 miliar pada 2025, tumbuh 14% dibandingkan tahun sebelumnya dan tetap menjadi ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara.
Indonesia juga menunjukkan adopsi AI yang tinggi. Google mencatat 80% pengguna di Indonesia berinteraksi dengan AI setiap hari, sementara 79% pengguna aktif mempelajari atau meningkatkan keterampilan terkait AI.
Konsekuensinya, kebutuhan energi pusat data akan ikut meningkat. Karena itu, pusat data yang menggunakan energi lebih bersih dan efisien menjadi salah satu titik temu antara pertumbuhan digital dan agenda keberlanjutan.
“Momentum pertumbuhan AI membuat pusat data menjadi growth engine baru bagi ekosistem digital Indonesia. Namun, ketersediaan energi terbarukan dan kepastian kebijakan ke depan akan sama pentingnya dengan besarnya potensi pasar dalam menentukan keputusan investasi,” kata Chairman Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO), Hendra Suryakusuma.
Pangan: Produktivitas Menggantikan Ekspansi Lahan
Pada pangan dan agribisnis, tekanan keberlanjutan semakin mengubah cara industri tumbuh.
Kelapa sawit menjadi salah satu contoh paling jelas. Indonesia merupakan produsen sawit terbesar dunia, tetapi ruang pertumbuhan tidak lagi semata-mata berasal dari pembukaan lahan baru.
Produktivitas perkebunan, peremajaan tanaman, ketertelusuran dan kepatuhan terhadap standar pasar internasional justru menjadi semakin penting.
Tekanan itu datang bersamaan dengan meningkatnya tuntutan pasar terhadap rantai pasok bebas deforestasi dan praktik produksi yang lebih bertanggung jawab.
“Tantangan keberlanjutan kelapa sawit ke depan bukan lagi soal ekspansi lahan, melainkan bagaimana produktivitas ditingkatkan secara bertanggung jawab. Produsen kini bergerak ke arah penanaman kembali, intensifikasi, dan penguatan ketertelusuran digital untuk memenuhi standar seperti RSPO dan EUDR, sekaligus mempertahankan akses ke pasar global,” kata Kompartemen Hubungan Stakeholders Bidang Sustainability Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Agam Fatchurrochman.
Peluang baru juga muncul di sektor perunggasan seiring program Makan Bergizi Gratis (MBG), sementara teknologi pertanian, cold chain, traceability, pupuk organik dan pembiayaan rantai pasok berpotensi menjadi bagian dari infrastruktur pertumbuhan berikutnya.
Kesehatan: Ketahanan Rantai Pasok Menjadi Agenda Industri
Sektor kesehatan menghadapi persoalan yang berbeda. Tantangan utamanya bukan hanya akses layanan, tetapi juga ketahanan rantai pasok obat dan bahan baku.
Ketergantungan terhadap bahan baku farmasi impor masih tinggi. Kementerian Kesehatan pada Juni 2026 menyebut sekitar 70% hingga 80% bahan baku obat Indonesia masih bergantung pada impor, meski telah menurun dari tingkat lebih dari 90% sebelumnya.
Data tersebut menunjukkan bahwa strategi sustainability di sektor kesehatan juga berkaitan dengan ketahanan industri.
Lokalisasi bahan baku secara selektif, diversifikasi pemasok dan penguatan manufaktur dalam negeri menjadi peluang investasi. Namun, membangun seluruh rantai produksi secara domestik tidak selalu ekonomis sehingga pemilihan produk dan tahapan produksi menjadi penting.
Dalam ekosistem digital, pengembangan healthtech juga membuka ruang baru. DBS Foundation, misalnya, mendukung DoctorTool, perusahaan teknologi kesehatan yang mengembangkan rekam medis digital terintegrasi dengan BPJS Kesehatan dan SATUSEHAT.
Pertambangan: Nikel Harus Naik Kelas
Indonesia telah menjadi kekuatan utama dalam industri nikel global. Reuters melaporkan pangsa Indonesia terhadap produksi nikel dunia telah meningkat menjadi lebih dari 60% pada 2025.
Namun, keunggulan sumber daya tidak otomatis menjadi keunggulan kompetitif jangka panjang.
Tuntutan pasar global semakin mengarah pada jejak karbon produk, asal bahan baku, ketertelusuran dan praktik pertambangan.
Artinya, pertanyaan bagi industri nikel bukan lagi hanya berapa banyak yang dapat diproduksi, tetapi berapa banyak nilai tambah yang bisa diciptakan dengan intensitas karbon yang lebih rendah.
“Seiring meningkatnya perhatian pasar terhadap carbon performance, produk nikel dengan intensitas karbon yang lebih rendah berpotensi memiliki diferensiasi nilai di pasar global. Pemanfaatan energi terbarukan, penguatan ketertelusuran, dan praktik pertambangan yang bertanggung jawab akan semakin penting dalam mempertahankan daya saing dan akses Indonesia ke pasar global serta rantai pasok baterai,” kata Direktur dan Chief Sustainability and Corporate Affairs Officer PT Vale Indonesia Tbk, Budiawansyah.
Tidak Semua Proyek Hijau Otomatis Bankable
Di sinilah persoalan pembiayaan menjadi penting. Besarnya peluang investasi berkelanjutan tidak berarti seluruh proyek otomatis dapat memperoleh kredit atau pembiayaan.
Bank tetap harus melihat profil risiko, arus kas, kesiapan proyek, struktur kontrak, kepastian regulasi dan kemampuan proyek memenuhi persyaratan pembiayaan.
Dengan kata lain, sebuah proyek dapat memiliki manfaat lingkungan yang besar sekaligus belum cukup matang secara komersial.
Karena itu, DBS Indonesia mengatakan peran bank tidak berhenti pada penyediaan modal. Instrumen yang ditawarkan mencakup sustainability financing, sustainability-linked financing, structured finance, blended finance, business lending, trade finance dan pembiayaan rantai pasok, termasuk dukungan advisory.
Pendekatan tersebut terlihat dalam sejumlah transaksi. Di sektor teknologi, DBS Indonesia menjadi Joint Mandated Lead Arranger dan Green Loan Coordinator untuk fasilitas green loan Rp1,7 triliun kepada Princeton Digital Group untuk mendukung pembangunan pusat data hyperscale berbasis energi terbarukan di Indonesia.
Di sektor pangan, DBS memberikan fasilitas pra-ekspor US$20 juta kepada Sucden Coffee Indonesia dan mendukung Adena Coffee melalui skema blended finance bersama DBS Foundation yang telah menjangkau lebih dari 2.000 petani kecil.
Di pertambangan, DBS Indonesia berperan sebagai facility agent dalam transaksi sustainability-linked loan Rp13,5 triliun kepada Vale Indonesia yang dikaitkan dengan target penurunan intensitas emisi karbon dan peningkatan penggunaan energi terbarukan.
Sementara di sektor energi, bank mendukung pembiayaan proyek energi terbarukan, termasuk panas bumi, serta pengembangan ekosistem elektrifikasi kendaraan listrik dan infrastruktur penukaran baterai.
Pendekatan advisory juga digunakan DBS dalam mendampingi PT TBS Energi Utama Tbk menyusun Climate Transition Plan menuju netralitas karbon pada 2030.
Dari ESG Menuju Ketahanan Bisnis
Perubahan paling penting dari agenda keberlanjutan adalah bergesernya pertanyaan perusahaan.
Dulu, keberlanjutan kerap dipandang sebagai kewajiban pelaporan. Kini pertanyaannya lebih fundamental: bagaimana perubahan iklim, regulasi, teknologi, rantai pasok dan tuntutan konsumen memengaruhi kelangsungan bisnis?
Dalam konteks itu, sustainability semakin dekat dengan konsep resilience.
Perusahaan energi harus memikirkan ketahanan pasokan listrik. Perusahaan teknologi harus memastikan pusat data memperoleh energi yang cukup dan efisien. Industri pangan perlu menjaga produktivitas sekaligus akses pasar. Industri kesehatan harus mengurangi risiko gangguan pasokan. Sementara perusahaan tambang harus menjaga agar produk tetap kompetitif ketika standar karbon global semakin ketat.
William Simadiputra, Head of Research PT Bank DBS Indonesia, mengatakan perubahan tersebut membutuhkan pendekatan yang menggabungkan pertumbuhan dan keberlanjutan.
“Bagi kami, temuan riset ini menegaskan bahwa strategi yang akan memenangkan persaingan ke depan adalah yang mampu memadukan penciptaan nilai, ketahanan, dan keberlanjutan sekaligus, bukan memilih salah satu di antaranya,” kata William.
Riset DBS Indonesia kemudian merumuskan lima prioritas bagi pelaku usaha: bergerak ke segmen rantai nilai yang lebih tinggi, membangun infrastruktur pendukung pertumbuhan, memasukkan sustainability ke dalam keputusan komersial, memperluas resilience financing, serta membangun ekosistem lintas sektor.
Arah tersebut sejalan dengan perkembangan kebijakan nasional. TKBI Versi 3 OJK kini tidak lagi hanya menjadi klasifikasi aktivitas ekonomi, tetapi juga menyediakan kriteria teknis, mekanisme penilaian pada tingkat entitas dan portofolio, serta mekanisme sunsetting dan grandfathering.
Artinya, pembiayaan berkelanjutan Indonesia bergerak menuju tahap yang semakin terukur.
Bagi dunia usaha, implikasinya cukup jelas: label hijau saja tidak lagi memadai. Proyek harus memiliki model bisnis yang kuat, risiko yang terukur, dampak yang dapat dibuktikan dan struktur pembiayaan yang masuk akal.
Bagi perbankan, tantangannya juga berubah. Bank bukan hanya dituntut menyalurkan dana ke sektor berkelanjutan, tetapi memahami sektor, membantu menyiapkan proyek dan menjembatani kepentingan komersial dengan target transisi.
Pada akhirnya, sustainability shift bukan sekadar perubahan cara perusahaan berbicara tentang lingkungan. Ia mulai menjadi bagian dari cara perusahaan menentukan investasi, mengelola risiko dan mempertahankan daya saing. (MMS) ■
DIGIONARY:
● Advisory. Layanan konsultasi strategis untuk membantu perusahaan mengambil keputusan bisnis atau pembiayaan.
● API (Active Pharmaceutical Ingredient). Bahan aktif yang menjadi komponen utama dalam suatu obat.
● Bankability. Tingkat kelayakan suatu proyek untuk memperoleh pembiayaan berdasarkan risiko, arus kas dan prospek bisnis.
● BESS (Battery Energy Storage System). Sistem penyimpanan energi menggunakan baterai untuk menyimpan dan menyalurkan listrik saat dibutuhkan.
● Blended Finance. Skema pembiayaan yang menggabungkan sumber dana publik, filantropi atau komersial untuk meningkatkan kelayakan proyek.
● Carbon Performance. Kinerja perusahaan atau produk dalam mengelola dan menurunkan intensitas emisi karbon.
● Climate Transition Plan. Rencana strategis perusahaan untuk mengubah kegiatan bisnis menuju ekonomi rendah karbon.
● EUDR (European Union Deforestation Regulation). Regulasi Uni Eropa yang menetapkan persyaratan terkait risiko deforestasi pada komoditas tertentu yang masuk ke pasar Eropa.
● Green Loan. Pinjaman yang penggunaannya ditujukan untuk proyek atau kegiatan yang memenuhi kriteria lingkungan tertentu.
● Green Data Center. Pusat data yang dirancang untuk mengurangi konsumsi energi dan dampak lingkungan, termasuk melalui penggunaan energi terbarukan.
● Net Zero Emission (NZE). Kondisi ketika emisi gas rumah kaca yang dilepaskan seimbang dengan emisi yang diserap atau dihilangkan.
● Resilience Financing. Pembiayaan yang ditujukan untuk meningkatkan kemampuan bisnis menghadapi risiko dan gangguan jangka panjang.
● RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil). Organisasi dan standar global yang mendorong produksi serta rantai pasok minyak sawit berkelanjutan.
● Structured Finance. Pembiayaan dengan struktur khusus yang dirancang menyesuaikan karakteristik, risiko dan arus kas suatu transaksi.
● Sustainability-linked Financing. Pembiayaan yang persyaratan atau harganya dikaitkan dengan pencapaian target keberlanjutan tertentu.
● Sustainability Financing. Pembiayaan yang diarahkan untuk mendukung kegiatan atau proyek dengan manfaat lingkungan dan/atau sosial.
● Sustainability Shift. Pergeseran pendekatan perusahaan dari keberlanjutan sebagai kepatuhan menuju bagian dari strategi bisnis.
● TKBI (Taksonomi untuk Keuangan Berkelanjutan Indonesia). Kerangka klasifikasi aktivitas ekonomi yang digunakan sebagai acuan dalam pengembangan dan alokasi pembiayaan berkelanjutan di Indonesia.
● Traceability. Kemampuan melacak asal-usul dan perjalanan produk sepanjang rantai pasok.
● TWh (Terawatt-hour). Satuan energi yang digunakan untuk mengukur produksi atau konsumsi listrik dalam skala besar.
#Sustainability #SustainabilityShift #DBSIndonesia #BankDBS #KeuanganBerkelanjutan #SustainableFinance #ESG #GreenFinance #EnergiTerbarukan #TransisiEnergi #EkonomiDigital #AI #DataCenter #Agribisnis #KetahananPangan #Farmasi #Kesehatan #Nikel #Pertambangan #EkonomiIndonesia
sustainability Indonesia, sustainability shift Indonesia, Bank DBS Indonesia, riset DBS Indonesia 2026, keuangan berkelanjutan Indonesia, sustainable finance Indonesia, pembiayaan hijau Indonesia, ESG Indonesia, transisi energi Indonesia, energi terbarukan Indonesia, ekonomi digital Indonesia, AI dan data center Indonesia, green data center Indonesia, industri sawit berkelanjutan, ketahanan pangan Indonesia, industri farmasi Indonesia, bahan baku obat Indonesia, industri nikel Indonesia, hilirisasi nikel Indonesia, sustainability linked loan Indonesia,
