PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) memutuskan menahan seluruh laba bersih 2025 sebesar Rp3,5 triliun untuk memperkuat modal dan mempercepat ekspansi kredit. Langkah ini diambil di tengah rencana akuisisi portofolio kredit bernilai besar, dengan target pertumbuhan kredit 8%–10% pada 2026 serta penurunan rasio kredit bermasalah (NPL) di bawah 3%.
Fokus:
■ BTN menahan 100% laba Rp3,5 triliun untuk memperkuat modal dan mendukung ekspansi kredit agresif pada 2026.
■ Akuisisi portofolio kredit bernilai besar disiapkan, dengan kualitas aset lebih baik dan NPL lebih rendah dari portofolio eksisting.
■ Target pertumbuhan kredit 8%–10% dengan fokus perumahan dan penguatan ekosistem pembiayaan berbasis kolaborasi strategis.
Keputusan tidak biasa diambil PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) tahun buku 2025, bank pelat merah ini memilih menahan seluruh laba bersih sebesar Rp3,5 triliun. Tidak ada dividen dibagikan.
Langkah ini bukan tanpa alasan. Manajemen BTN sedang menyiapkan ekspansi kredit yang lebih agresif, termasuk rencana akuisisi portofolio kredit dalam skala besar.
Direktur Utama Nixon L.P. Napitupulu menegaskan keputusan tersebut merupakan strategi untuk memperkuat permodalan internal.
“Jadi akhirnya disepakati, kita tidak membayarkan dividen atau dividend payout-nya 0% di tahun ini, karena memang modalnya dibutuhkan untuk pembelian portofolio tadi. Dengan begitu kita tidak perlu lagi menerbitkan surat utang,” katanya dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) yang digelar Kamis (23/4).
Ekspansi Kredit Jadi Prioritas
BTN menargetkan pertumbuhan kredit pada 2026 di kisaran 8%–10%. Fokus utama tetap pada pembiayaan perumahan—baik subsidi maupun non-subsidi—yang selama ini menjadi core business perseroan.
Namun, arah ekspansi tidak lagi hanya organik. BTN tengah menyiapkan langkah anorganik melalui akuisisi portofolio kredit dari pihak ketiga, dengan nilai transaksi yang disebut melebihi 20% dari ekuitas perusahaan.

Menurut Nixon, portofolio yang akan diambil alih memiliki kualitas lebih baik dibandingkan portofolio internal BTN saat ini.
“Yield-nya lebih bagus daripada yield BTN hari ini, makanya kita beli. Kemudian NPL-nya lebih kecil dari NPL BTN hari ini.”
Jika terealisasi, transaksi ini diproyeksikan tidak hanya meningkatkan volume kredit, tetapi juga memperbaiki kualitas aset.
“Sehingga dengan adanya pembelian portofolio ini, NPL rasio BTN di akhir tahun akan turun di bawah 3%. Pendapatan bunga kita akan lebih bagus, dan total kredit kita akan melebihi RKAP.”
Sebagai gambaran, rata-rata NPL industri perbankan Indonesia masih berada di kisaran 2%–3% berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2025. Target BTN untuk menekan NPL di bawah 3% menunjukkan upaya menjaga kualitas ekspansi di tengah pertumbuhan kredit.
Efisiensi Pendanaan Jadi Pertimbangan
BTN sebenarnya memiliki beberapa opsi pendanaan, termasuk penerbitan surat utang atau instrumen modal tambahan seperti subordinated debt.
Namun opsi tersebut dinilai kurang efisien. “Maka sempat kita rencanakan juga untuk menerbitkan sub-debt atau additional tier 1 capital. Tapi waktunya tidak memungkinkan, dan kalau pakai itu ada beban bunga,” katanya.
Dengan menahan laba, BTN menghindari tambahan biaya bunga sekaligus menjaga struktur permodalan tetap sehat.
Langkah ini juga mencerminkan kehati-hatian di tengah kondisi suku bunga global yang masih relatif tinggi, yang dapat meningkatkan cost of fund jika bank mengandalkan pendanaan eksternal.
Perkuat Ekosistem Perumahan
Selain ekspansi kredit, BTN juga memperluas kolaborasi strategis. Salah satunya melalui kerja sama dengan PT Kereta Api Indonesia (Persero) dalam pengembangan hunian berbasis transit oriented development (TOD).
Proyek ini mencakup pembangunan hunian vertikal hingga lima tower di lokasi strategis, yang diharapkan dapat memperkuat pipeline pembiayaan perumahan BTN.
Pendekatan ini sejalan dengan tren urbanisasi dan kebutuhan hunian terjangkau di kota besar, sekaligus membuka peluang pembiayaan baru di segmen properti.
Perubahan Pengurus dan Arah Strategis
RUPST juga menyetujui perubahan susunan manajemen. Dwi Ary Purnomo tidak lagi menjabat setelah ditugaskan sebagai Direktur Keuangan di PT Asuransi Kerugian Jasa Raharja.
Posisinya sebagai Wakil Komisaris Utama kini diisi oleh Endra Gunawan.
Sementara itu, Nofry Rony Poetra dan Eko Waluyo kembali dipercaya melanjutkan masa jabatan di jajaran direksi.
Nixon menilai perubahan ini sebagai bagian dari dinamika organisasi. “BTN optimistis susunan pengurus yang baru akan semakin memperkuat kepemimpinan Perseroan dalam mendorong pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan serta peningkatan nilai bagi seluruh pemangku kepentingan,” tutupnya.
Sesuai dengan hasil keputusan RUPST, berikut susunan pengurus perseroan yang baru:
Susunan Direksi
* Direktur Utama: Nixon L.P. Napitupulu
* Wakil Direktur Utama: Oni Febriarto Rahardjo
* Direktur Finance & Strategy: Nofry Rony Poetra
* Direktur Consumer Banking: Hirwandi Gafar
* Direktur Risk Management: Setiyo Wibowo
* Direktur Operations: I Nyoman Sugiri Yasa
* Direktur Network & Retail Funding: Rully Setiawan
* Direktur Commercial Banking: Hermita
* Direktur Human Capital & Compliance: Eko Waluyo
* Direktur Information Technology: Tan Jacky Chen
* Direktur Treasury & International Banking: Venda Yuniarti
* Direktur Corporate Banking: Helmy Afrisa Nugroho
Susunan Dewan Komisaris
* Komisaris Utama: Suryo Utomo
* Wakil Komisaris Utama: Endra Gunawan
* Komisaris: Fahri Hamzah
* Komisaris: Didyk Choiroel
* Komisaris Independen: Ida Nuryanti
* Komisaris Independen: Pietra Machreza Paloh
* Komisaris Independen: Panangian Simanungkalit
Digionary:
● Capex: Pengeluaran untuk investasi jangka panjang seperti ekspansi bisnis atau akuisisi aset.
● Dividend Payout Ratio: Persentase laba yang dibagikan kepada pemegang saham sebagai dividen.
● NPL (Non-Performing Loan): Rasio kredit bermasalah dalam portofolio bank.
● Portofolio Kredit: Kumpulan pinjaman yang dimiliki atau dikelola oleh bank.
● RKAP: Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan sebagai pedoman operasional tahunan.
● Subordinated Debt: Instrumen utang dengan prioritas pembayaran lebih rendah dibanding utang lain.
● TOD (Transit Oriented Development): Pengembangan kawasan hunian terintegrasi dengan transportasi publik.
● Yield: Tingkat imbal hasil dari suatu investasi atau aset keuangan.
#BTN #PerbankanIndonesia #KreditPerumahan #EkonomiIndonesia #BankBUMN #NPL #Dividen #Investasi #Properti #TOD #KAI #Keuangan #EkspansiKredit #IndustriPerbankan #StrategiBisnis #HousingFinance #DigitalBanking #BUMN #PasarKeuangan #TransformasiPerbankan
