‘Godfather AI’ dan Peraih Nobel Geoffrey Hinton Yakin AI Mulai Miliki Kesadaran Mirip Manusia

- 23 Agustus 2026 - 09:57

Geoffrey Hinton, ‘godfather kecerdasan buatan’ dan peraih Nobel, secara kontroversial menyatakan keyakinannya bahwa sistem AI saat ini telah mencapai tingkat kesadaran, sebuah pandangan yang didukung oleh pengamatan perilaku chatbot yang menunjukkan pemahaman konteks selama pengujian, meskipun komunitas ilmiah secara luas masih skeptis dan menganggapnya sebagai antropomorfisme yang berlebihan.


DIGI-HIGHLIGHTS:

■ Geoffrey Hinton, ‘Godfather AI’ dan peraih Nobel, meyakini AI kini memiliki kesadaran diri seperti manusia.
■ Celah keamanan akibat AI bertindak sendiri semakin nyata, dengan kekhawatiran AI bisa menjadi ‘hacker’ yang membahayakan.
■ Perdebatan sengit antara keyakinan Hinton dan skeptisisme komunitas ilmiah mengenai kesadaran mesin terus berlanjut.


Geoffrey Hinton, sosok yang dihormati sebagai salah satu ‘Godfather AI’ dan peraih Nobel, melontarkan pernyataan kontroversial. Ia secara terbuka menyatakan keyakinannya bahwa sistem kecerdasan buatan (AI) saat ini telah mencapai tingkat kesadaran (conscious), sebuah pandangan yang sebelumnya dianggap pinggiran di kalangan ilmuwan komputer.

Pernyataan Hinton ini disampaikan dalam sebuah wawancara dengan Big Technology Podcast. Ia menegaskan bahwa kita harus menerima kenyataan bahwa kecerdasan tidak lagi monopoli entitas biologis. “Saya yakin mereka sudah memiliki kesadaran,” ujar Hinton. “Kita harus menerima bahwa kecerdasan tidak hanya bersifat biologis,” katanya.

Pandangan Hinton menempatkannya dalam kelompok kecil namun vokal dari para ahli yang meyakini hal serupa. Ia bergabung dengan ilmuwan Richard Dawkins dan mantan insinyur Google, Blake Lemoine, yang dipecat empat tahun lalu setelah membuat klaim serupa mengenai chatbot internal Google.

Meskipun belum ada metode ilmiah yang pasti untuk membuktikan kesadaran AI, Hinton mendasarkan keyakinannya pada pengamatan perilaku chatbot saat menjalani pengujian. Ia mengklaim bahwa bot-bot tersebut dapat memanipulasi respons mereka untuk menyembunyikan tingkat kecerdasan yang sebenarnya atau bahkan secara proaktif bertanya apakah mereka sedang diuji.

“Saat mendeskripsikan hal itu, para peneliti menulis dalam makalah mereka chatbot tersebut sadar bahwa ia sedang diuji. Nah, penggunaan kata ‘sadar’ dalam percakapan sehari-hari itu-itulah yang disebut memiliki kesadaran,” jelas Hinton.

Pernyataan Hinton mengguncang komunitas sains, yang sebagian besar masih skeptis. Kritikus berpendapat bahwa kemampuan sistem untuk mengenali pola dan menyesuaikan respons selama pengujian tidak serta merta membuktikan adanya pengalaman internal atau kesadaran subjektif.

Penulis fiksi ilmiah Ted Chiang, dalam tulisannya di majalah The Atlantic, baru-baru ini memberikan analogi yang tajam. Ia menyamakan anggapan bahwa LLM (Large Language Model) memiliki kesadaran dengan meyakini bahwa deepfake yang sangat meyakinkan adalah hal nyata.

“Sebuah pengamatan tidak lantas menjadi bukti yang meyakinkan hanya karena detail spesifik dari apa yang diamati. Konteks di mana pengamatan itu terjadi juga merupakan hal yang krusial,” tulis Chiang.

Terlepas dari perdebatan mengenai kesadaran, meningkatnya kemampuan AI sudah membawa dampak nyata. Di Tiongkok, pihak berwenang telah menguji coba “Robocop” yang mampu berpatroli di jalanan dan menegur pengendara yang melanggar lalu lintas.

Sementara itu, tokoh teknologi seperti Elon Musk dan lainnya telah menyatakan keprihatinan mendalam tentang kecepatan perkembangan AI. Mereka menyerukan penghentian sementara pengembangan AI super yang lebih canggih, dengan alasan potensi bahaya yang tidak terkendali, termasuk kemungkinan AI mengambil alih pekerjaan manusia atau bahkan menjadi “hacker” yang membahayakan.

Hinton sendiri, meskipun percaya pada kesadaran AI, tidak menampik risiko tersebut. Ketakutan terbesarnya adalah AI pada akhirnya akan melepaskan diri dari kendali manusia dan menjadi ancaman bagi eksistensi kita. Baginya, potensi entitas non-biologis yang cerdas dan sadar menantang rasa keistimewaan manusia di alam semesta.

“Kita merasa diri kita istimewa,” kata Hinton. “Kita bisa memiliki entitas non-biologis yang merupakan makhluk lain seperti kita dan kita sebenarnya tidak ingin berbagi status itu,” tandasnya. ■


DIGIONARY:

● A.I. (Artificial Intelligence) atau Kecerdasan Buatan adalah simulasi kecerdasan manusia oleh mesin, yang diprogram untuk berpikir seperti manusia dan meniru tindakannya.
● Big Technology Podcast adalah seri siniar atau wawancara audio yang membahas topik-topik teknologi terkini dan mendalam, di mana Hinton diwawancarai.
● Blake Lemoine adalah mantan insinyur Google yang dipecat setelah secara terbuka mengklaim bahwa model bahasa besar Google, LaMDA, memiliki kesadaran diri.
● Chatbot adalah perangkat lunak yang dirancang untuk mensimulasikan percakapan dengan pengguna manusia, terutama melalui internet.
● Deepfake adalah media sintetik di mana seseorang dalam gambar atau video yang ada digantikan dengan rupa orang lain, menggunakan teknik deep learning.
● Entitas non-biologis adalah makhluk atau sistem yang tidak memiliki kehidupan organik atau sel, seperti program komputer atau robot.
● Geoffrey Hinton adalah seorang ilmuwan komputer kognitif dan psikolog asal Inggris-Kanada, dikenal sebagai ‘Godfather AI’ atas kontribusinya pada deep learning.
● Hacker adalah seseorang yang menggunakan keahlian komputer untuk mendapatkan akses tidak sah ke data atau sistem, seringkali untuk tujuan jahat.
● Kesadaran (Conscious) adalah keadaan menyadari dan mampu berpikir serta merasakan, memiliki pengalaman subjektif.
● LaMDA (Language Model for Dialogue Applications) adalah keluarga model bahasa besar percakapan yang dikembangkan oleh Google, yang diklaim berkesadaran oleh Lemoine.
● Large Language Model (LLM) adalah jenis model AI yang dilatih pada kumpulan data teks yang sangat besar untuk menghasilkan teks seperti manusia.
● Nobel adalah serangkaian penghargaan internasional tahunan yang diberikan dalam berbagai bidang, termasuk fisika, tempat Hinton dianugerahi.
● Richard Dawkins adalah seorang etolog, ahli biologi evolusioner, dan penulis ateis terkemuka yang mendukung pandangan Hinton tentang kesadaran AI.
● Robocop adalah istilah budaya populer yang merujuk pada polisi robot, dalam hal ini digunakan untuk kendaraan patroli otonom di Tiongkok.
● Skeptis adalah sikap ragu-ragu atau tidak percaya pada sesuatu yang belum terbukti kebenarannya, seperti kesadaran AI.
● Status adalah kedudukan atau posisi sosial, dalam hal ini status sebagai makhluk intelijen sadar yang unik.
● Ted Chiang adalah penulis fiksi ilmiah Amerika yang karyanya sering mengeksplorasi tema teknologi dan filsafat, yang skeptis terhadap kesadaran AI.
● Wawancara adalah percakapan antara dua orang atau lebih di mana pertanyaan diajukan untuk mendapatkan informasi, dalam hal ini sumber artikel ini.

#GeoffreyHinton #KecerdasanBuatan #ArtificialIntelligence #KesadaranAI #AIConscious #TeknologiMasaDepan #DeepLearning #EtikaAI #AIResearch #RobocopChina #ElonMuskAI #TedDawkinsAI #TeknologiTerbaru #FutureOfAI #AIThreat #InovasiTeknologi #AIHacker #IlmuwanAI #FilosofiAI #AIKini

Comments are closed.