PT Bank Amar Indonesia Tbk (Amar Bank) memperkuat ekspansi ekosistem finansialnya ke sektor ekonomi kreatif melalui kemitraan strategis bersama JAFF Market, Badan Perfilman Indonesia (BPI), dan enam asosiasi perfilman nasional guna membangun infrastruktur pembiayaan berbasis proyek (project-based financing). Kolaborasi multipemangku kepentingan yang diresmikan di Jakarta pada 26 Juni 2026 ini bertujuan mengatasi kendala inklusi keuangan di industri sinema nasional yang tengah bertumbuh pesat di tengah perlambatan ekonomi global. Langkah ini didukung penuh oleh Kementerian Kebudayaan RI sebagai fondasi krusial bagi transformasi digital hak kekayaan intelektual (IP) menjadi nilai ekonomi berkelanjutan sekaligus menjadi pendorong diversifikasi portofolio kredit perbankan digital di Indonesia.
DIGI-HIGHLIGHTS:
■ Amar Bank menjalin kemitraan strategis dengan JAFF Market, BPI, dan enam asosiasi film guna merancang infrastruktur layanan keuangan yang adaptif bagi ekosistem kreatif berbasis proyek.
■ Sektor perfilman Indonesia menunjukkan resiliensi tinggi di tengah perlambatan ekonomi, ditandai dengan pencapaian rekor 13 film lokal yang berhasil menembus 1.000.000 penonton pada H1 2026.
■ Kolaborasi ini fokus pada komersialisasi kekayaan intelektual (IP) melalui program JAFF IP Connection, membuka peluang adopsi skema credit scoring non-tradisional bagi bank digital.
PT Bank Amar Indonesia Tbk (Amar Bank), pionir perbankan digital nasional, resmi memperluas jangkauan bisnisnya ke sektor ekonomi kreatif dengan memimpin konsorsium pembiayaan dan pengembangan kapasitas industri perfilman Indonesia melalui kemitraan strategis bersama JAFF Market 2026. Langkah ini menandai pergeseran arah strategis industri perbankan digital dalam merancang solusi keuangan kontekstual untuk industri berbasis kekayaan intelektual (IP) dan skema kerja berbasis proyek.
Integrasi institusi keuangan ke dalam industri film merupakan respons adaptif terhadap implementasi Peraturan Pemerintah (PP) No. 24/2022 tentang Ekonomi Kreatif yang mendorong pemanfaatan Hak Kekayaan Intelektual sebagai agunan kredit perbankan. Melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) di Jakarta pada 26 Juni 2026, Amar Bank bersama JAFF Market merangkul Badan Perfilman Indonesia (BPI) serta enam asosiasi utama—APROFI, IFDC, PILAR, INAFEd, ICS, dan ACI—untuk mengintegrasikan ekosistem perfilman dari hulu (produksi) hingga hilir (pasar komersial). Kolaborasi komprehensif ini menjadi motor utama dari ajang “JAFF Market 2026 Powered by Amar Bank” yang dijadwalkan berlangsung pada 28–30 November 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta.
Data Pertumbuhan Sektor Sinema Domestik
Penetrasi perbankan digital ke industri sinema didorong oleh performa sektor ini yang sangat resilien di tengah tren perlambatan ekonomi makro 2026. Merujuk data Cinepoint dalam laporan Industry Trends and Performance in H1 2026, industri layar lebar domestik mencetak rekor baru dengan keberhasilan 13 film Indonesia menembus angka lebih dari 1.000.000 penonton sebelum berakhirnya semester pertama 2026. Pencapaian ini merupakan laju pertumbuhan pasar tercepat sepanjang sejarah perfilman nasional, mengindikasikan tingginya volume perputaran uang dan besarnya potensi serapan investasi di sektor komersial kreatif.
Hadir dalam acara tersebut, Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menilai kolaborasi lintas sektor merupakan fondasi penting bagi keberlanjutan industri film nasional. “Kita tidak hanya ingin menjadi pasar bagi film-film dunia, tetapi juga memperkuat kapasitas produksi, distribusi, dan pembiayaan agar semakin banyak karya Indonesia yang mampu bersaing di tingkat internasional,” kata dia dalam sambutannya di Konferensi Pers JAFF Market 2026 Powered by Amar Bank.
Menurut Fadli, Kementerian Kebudayaan terus mendukung JAFF Market sebagai wujud nyata komitmen negara dalam memperkuat ekosistem perfilman nasional. Hadirnya JAFF Market pun semakin strategis sebagai ruang kolaborasi yang produktif untuk memperkuat jejaring, membuka peluang baru, serta memperluas akses bagi karya dan talenta Indonesia di tingkat internasional.
”Harapannya agar ekosistem perfilman Indonesia yang sedang tumbuh ini dapat berkembang secara inklusif dan berkelanjutan,” lanjut dia.
Presiden Direktur Amar Bank, Vishal Tulsian, menegaskan bahwa mendorong pertumbuhan sektor kreatif membutuhkan perubahan infrastruktur dalam akses pembiayaan.
“JAFF Market telah secara konsisten membuktikan perannya sebagai hub yang kuat dalam membangun ekosistem yang terintegrasi bagi industri film dan kreatif. Oleh karena itu, dukungan kami terhadap JAFF Market 2026 merupakan langkah untuk mendorong ekosistem multipemangku kepentingan, di mana kami mengajak para pembuat kebijakan dan pelaku industri untuk berkolaborasi dalam merancang layanan keuangan yang sesuai dengan kebutuhan industri kreatif. Dengan bergerak menuju solusi yang selaras dengan model bisnis unik industri ini, kita dapat memastikan bahwa potensi kreatif dapat sepenuhnya ditransformasikan menjadi nilai ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Vishal.
Market Director JAFF Market, Linda Gozali, menilai perkembangan tersebut menjadi sinyal bahwa industri film Indonesia memasuki fase yang semakin matang. Menurut dia, tantangan industri saat ini tidak lagi hanya menghasilkan lebih banyak film, tetapi juga memastikan setiap proyek memiliki akses terhadap pembiayaan, pasar, serta peluang kolaborasi yang lebih luas.
”Di sinilah JAFF Market mengambil peran sebagai market hub. Kami melihat semakin banyak proyek menemukan mitra pendanaan, talenta memperoleh peluang pengembangan, dan IP Indonesia menjangkau pasar yang lebih luas. Pengalaman dua tahun terakhir menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap platform industri seperti JAFF Market terus meningkat, seiring semakin besarnya minat investasi dan kolaborasi di sektor perfilman,” kata Linda.
Sementara itu, Ketua Umum Badan Perfilman Indonesia (BPI), Fauzan Zidni, menegaskan bahwa kehadiran JAFF Market sebagai marketplace merupakan salah satu tonggak paling krusial bagi industri sinema saat ini. Platform ini menjadi ruang krusial yang mempertemukan seluruh stakeholder perfilman dari berbagai lini.
Ia juga mengapresiasi Amar Bank yang kembali menjadi mitra utama JAFF Market tahun ini. Menurut dia, komitmen Amar Bank untuk memahami karakteristik industri film dan mendorong lahirnya solusi keuangan yang relevan menjadi langkah penting dalam memperkuat ekosistem perfilman Indonesia.
”Kami di BPI diberikan mandat untuk memajukan ekosistem perfilman, dan secara keekonomian serta pertemuan bisnis, JAFF Market telah menjadi agenda yang paling penting,” ungkap Fauzan.
Analisis dan Strategi Model Bisnis
Langkah Amar Bank memasuki kemitraan tahun kedua ini bukan lagi sekadar program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), melainkan sebuah manuver bisnis terukur untuk membuka vertikal pasar pembiayaan baru. Industri kreatif tradisional kerap menghadapi hambatan unbankable akibat karakteristik arus kas yang tidak menentu dan ketergantungan pada skema pendanaan per proyek (project-to-project).
Struktur pembiayaan konvensional perbankan yang kaku sering kali gagal memitigasi risiko di sektor non-manufaktur ini. Melalui JAFF Market, Amar Bank berupaya memecahkan kebuntuan tersebut dengan mengintegrasikan kapabilitas finansial teknologi (fintech) miliknya untuk menilai kelayakan kredit berdasarkan valuasi hak kekayaan intelektual (IP) serta rekam jejak kolaborator industri.
Dampak Industri dan Prospek ke Depan
Kemitraan komprehensif ini diimplementasikan melalui rangkaian program terstruktur dalam JAFF Market 2026, mencakup Film Industry Exhibitions, JAFF Future Project, Talent Day, Film Lab, Film & Market Conference, Market Screening, Company Showcase, Networking Events, hingga JAFF IP Connection (sebelumnya dikenal sebagai JAFF Content Market).
Bagi industri perbankan digital secara luas, keberhasilan penetrasi Amar Bank di ekosistem ini akan memicu adopsi teknologi credit scoring baru berbasis kecerdasan buatan (AI) yang mampu menganalisis risiko data non-tradisional di sektor kreatif. Langkah ini membuka jalan bagi diversifikasi portofolio kredit perbankan, meningkatkan indeks inklusi keuangan nasional, serta memperkuat kontribusi sektor perbankan terhadap produk domestik bruto (PDB) dari ranah ekonomi kreatif.
Sinergi multipemangku kepentingan yang melibatkan regulator, perbankan digital, dan pelaku industri kreatif ini membuktikan bahwa keberlanjutan ekonomi bioskop tanah air tidak bisa lagi bersandar pada aspek estetika seni semata. Orkestrasi pembiayaan yang adaptif, transparan, dan inklusif adalah kunci utama untuk mentransformasikan talenta serta karya lokal menjadi komoditas ekonomi yang berdaya saing global di kancah internasional. ●
DIGI-INSIGHTS:
Langkah PT Bank Amar Indonesia Tbk (Amar Bank) merambah pembiayaan sektor perfilman lewat JAFF Market 2026 merupakan manifestasi strategi diversifikasi aset (blue ocean strategy) yang sangat cerdas di tengah ketatnya persaingan perebutan likuiditas perbankan digital. Selama ini, sebagian besar bank digital di Indonesia terjebak dalam lingkaran kompetisi kredit konsumer generik dan pembiayaan UMKM ritel konvensional dengan risiko rasio kredit bermasalah (NPL) yang tinggi akibat perang suku bunga. Sektor ekonomi kreatif, khususnya industri film yang mencetak performa impresif di paruh pertama 2026, menyajikan ceruk pasar baru dengan potensi profitabilitas tinggi. Namun, untuk menaklukkan industri berbasis proyek ini, bank digital dituntut menggeser model mitigasi risiko konvensional mereka menuju pemanfaatan ekosistem data yang terintegrasi penuh.
Kunci utama keberhasilan adopsi pembiayaan kekayaan intelektual (IP) ini terletak pada transformasi digital dalam sistem analisis kredit perbankan. Bank tidak lagi bisa mengandalkan laporan laba rugi tradisional atau kepemilikan aset fisik (collateral-based lending). Ke depan, integrasi teknologi kecerdasan buatan (AI) di sektor credit scoring mutlak diperlukan untuk mengalkulasi valuasi IP, tren perilaku konsumen (customer behaviour) di platform streaming, hingga proyeksi penjualan tiket bioskop secara real-time. Di sisi lain, lompatan digital ini wajib diimbangi dengan arsitektur tata kelola keamanan siber (cybersecurity architecture) yang mumpuni. Kebocoran data riset pasar atau pembajakan aset digital sebelum masa rilis proyek film dapat secara instan menghancurkan nilai keekonomian agunan IP tersebut, yang pada gilirannya akan langsung mengekspos perbankan pada risiko gagal bayar yang masif.
Dari perspektif regulasi dan masa depan industri, sinergi multipemangku kepentingan ini merupakan momentum krusial bagi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk merumuskan regulasi turunan PP No. 24/2022 secara lebih rigid terkait standardisasi penilai hak kekayaan intelektual (IP appraisers) komersial. Jika standardisasi penaksir nilai kekayaan intelektual ini berhasil ditegakkan, industri perbankan nasional akan memiliki kepastian hukum yang kuat untuk menjadikan sektor kreatif sebagai salah satu penopang utama pertumbuhan kredit. Kemitraan Amar Bank ini bukan sekadar tentang mendanai sebuah festival atau film, melainkan tentang membangun fondasi awal jembatan finansial digital baru di mana kreativitas talenta lokal dikonversi secara sistematis ke dalam neraca keuangan bank sebagai aset produktif berdaya saing global. ●
DIGIONARY:
● Agunan : Aset atau barang berharga yang diserahkan debitur kepada bank sebagai jaminan atas pinjaman kredit yang diterima.
● Asosiasi Perfilman : Organisasi resmi yang mewakili dan menaungi para profesional serta pekerja di berbagai lini industri sinema.
● Business Matching : Proses mempertemukan pelaku usaha dengan calon investor atau mitra strategis untuk menjajaki peluang kerja sama bisnis.
● Credit Scoring : Sistem penilaian kelayakan kredit calon debitur menggunakan algoritma dan analisis data historis keuangan maupun non-keuangan.
● Ekonomi Kreatif : Sektor ekonomi yang mengandalkan kreativitas, keahlian, dan bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan kerja.
● Ekosistem Finansial : Jaringan interaksi komprehensif antara institusi perbankan, teknologi keuangan, regulator, dan pengguna jasa keuangan di pasar.
● Hak Kekayaan Intelektual (IP) : Hak hukum eksklusif yang diberikan oleh otoritas negara atas hasil kreativitas pikiran atau karya intelektual manusia.
● Inklusi Keuangan : Kondisi di mana seluruh lapisan masyarakat memiliki akses yang mudah, aman, dan terjangkau terhadap produk jasa keuangan formal.
● JAFF Market : Hub industri pasar film terbesar di Asia Tenggara yang menghubungkan sineas, investor, dan penyedia solusi bisnis finansial.
● Market Hub : Pusat atau platform perantara yang berfungsi mempertemukan permintaan pasar dengan penawaran produk serta investasi industri.
● Nota Kesepahaman (MoU) : Dokumen legal formal yang mencatat kesepakatan awal antara dua pihak atau lebih sebelum ikatan perjanjian resmi diterbitkan.
● Perbankan Digital : Institusi bank yang mengoptimalkan seluruh operasional dan layanan jasanya secara penuh melalui infrastruktur elektronik pintar.
● Portofolio Kredit : Kumpulan seluruh komitmen pinjaman atau fasilitas pembiayaan yang disalurkan bank kepada berbagai sektor debitur.
● Project-Based Financing : Skema pendanaan khusus di mana pembayaran kembali pinjaman bergantung penuh pada arus kas dari hasil proyek yang didanai.
● Resiliensi : Kemampuan suatu sektor industri untuk bertahan, beradaptasi, dan pulih dengan cepat dari tekanan perlambatan ekonomi makro.
#AmarBank #JAFFMarket2026 #FinancingCreativeEconomy #PerbankanDigital #EkonomiKreatif #InklusiKeuangan #KementerianKebudayaan #FadliZon #VishalTulsian #BadanPerfilmanIndonesia #IPConnection #ProjectFinancing #KreditPerbankan #DigitalTransformation #PasarFilmASEAN #Cinepoint2026 #ResiliensiEkonomi #AsosiasiFilm #FintechIndonesia #digitalbankid
