Bank Neo Commerce mencatat lonjakan kinerja signifikan sepanjang 2025 dengan laba bersih mencapai Rp565,69 miliar—melonjak tajam 2.745%. Di tengah kompetisi bank digital yang semakin ketat, BNC memperkuat fondasi bisnis melalui efisiensi operasional, kualitas aset yang terjaga, serta ekspansi layanan digital, sekaligus menyiapkan strategi agresif di 2026 melalui penyaluran kredit berkualitas dan peluncuran BNPL.
Fokus:
■ Lonjakan profitabilitas ekstrem hingga 2.745% menandai keberhasilan transformasi digital.
■ Fundamental bank menguat: aset, likuiditas, dan kualitas kredit tetap terjaga.
■ Strategi 2026 fokus pada kredit berkualitas dan ekspansi produk digital, termasuk BNPL.
Setelah melewati fase transformasi yang panjang, Bank Neo Commerce akhirnya memetik hasil nyata. Sepanjang 2025, bank digital ini mencatat laba bersih Rp565,69 miliar—melonjak drastis dibandingkan Rp19,88 miliar pada tahun sebelumnya.
Lonjakan hingga 2.745% itu bukan sekadar angka, melainkan cermin perubahan fundamental dalam cara bank ini mengelola bisnis—dari model konvensional menuju bank digital yang lebih efisien dan terukur.
Direktur Utama Eri Budiono menegaskan, capaian ini bukan hasil instan, melainkan buah dari strategi yang dijalankan secara disiplin.
“Tahun 2025 menjadi momentum penting bagi Bank Neo Commerce dalam memperkuat fundamental bisnis dan memastikan bahwa setiap langkah pertumbuhan yang kami lakukan tetap berada dalam koridor kehati-hatian. Kami berhasil mencatatkan peningkatan kinerja yang baik dengan tetap menjaga kualitas aset, meningkatkan efisiensi operasional, serta mengoptimalkan model bisnis digital yang kami miliki,” katanya, Selasa (31/3).
Aset Tumbuh, Likuiditas Longgar
Di tengah tekanan industri perbankan digital yang masih mencari model bisnis ideal, BNC justru menunjukkan stabilitas. Total aset bank mencapai Rp18,97 triliun, tumbuh 8,99% YoY. Sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) naik menjadi Rp14,03 triliun—indikasi kuat meningkatnya kepercayaan nasabah.
Struktur pendanaan BNC juga relatif sehat dimana tabungan tercatat p3,50 triliun dan deposito Rp9,86 triliun. Sedangkan dari sisi risiko, kualitas kredit tetap terjaga. Rasio kredit bermasalah (NPL Net) berada di level 0,89%—jauh di bawah ambang batas industri.
Likuiditas bahkan tergolong sangat longgar. Loan to Deposit Ratio (LDR) hanya 51,21%, sementara Liquidity Coverage Ratio (LCR) mencapai 614,93%. Angka ini memberi ruang besar bagi ekspansi kredit ke depan.
Efisiensi Jadi Kunci
Perbaikan paling mencolok terlihat pada efisiensi operasional. Rasio BOPO turun drastis ke 84,18% dari sebelumnya 99,34%. Cost to Income Ratio (CIR) berada di 31,33%—angka yang menunjukkan mesin operasional mulai bekerja optimal. Margin bunga bersih (NIM) tercatat tinggi di 14,39%, memperkuat profitabilitas. Sementara itu ROA naik ke 3,11% dan ROE melonjak ke 15,13%.
Kinerja ini menempatkan BNC dalam posisi yang semakin kompetitif di tengah ketatnya persaingan bank digital di Indonesia, yang menurut berbagai riset industri masih menghadapi tantangan profitabilitas.
Modal Tebal, Ruang Ekspansi Terbuka
Dari sisi permodalan, BNC juga mempertebal bantalan risiko. Modal inti naik menjadi Rp4,03 triliun. Sementara Capital Adequacy Ratio (CAR) melonjak ke 49,07%—jauh di atas ketentuan regulator.
Struktur modal yang kuat ini menjadi fondasi penting untuk ekspansi bisnis, terutama dalam penyaluran kredit dan pengembangan produk digital baru.
Digital Jadi Tulang Punggung
Transformasi digital bukan lagi jargon bagi BNC. Bank ini terus memperkuat ekosistem layanan melalui aplikasi neobank, termasuk transaksi harian, pembiayaan digital dan layanan keuangan untuk individu dan UMKM.
Basis nasabah pun terus tumbuh, didorong oleh pengalaman digital yang lebih seamless dan fokus pada keamanan sistem. Momentum ini semakin diperkuat dengan masuknya saham BBYB ke dalam indeks Economic 30 per 2 Maret 2026—indikator meningkatnya kepercayaan pasar.
Strategi 2026: Kredit Berkualitas dan BNPL
Memasuki 2026, BNC mengubah fokus dari sekadar pertumbuhan ke kualitas. “Memasuki tahun 2026, kami akan terus fokus pada pertumbuhan kredit yang berkualitas serta mengoptimalkan potensi bisnis melalui penguatan produk dan layanan perbankan digital untuk meningkatkan potensi fee based income.
“Salah satu inisiatif strategis yang tengah kami siapkan adalah peluncuran layanan Buy Now Pay Later (BNPL) dengan mitra yang direncanakan hadir pada pertengahan tahun 2026, sebagai bagian dari upaya kami dalam memperluas akses pembiayaan yang aman, terukur, dan relevan dengan kebutuhan nasabah,” tutup Eri.
Langkah ini sejalan dengan tren industri, di mana produk BNPL menjadi salah satu motor pertumbuhan kredit konsumtif di era digital—meski tetap menyimpan risiko jika tidak dikelola secara disiplin. ■
Digionary:
● BOPO: Rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional, indikator efisiensi bank
● BNPL: Buy Now Pay Later, skema pembayaran cicilan tanpa kartu kredit
● CAR: Rasio kecukupan modal bank untuk menyerap risiko
● CIR: Cost to Income Ratio, ukuran efisiensi operasional
● DPK: Dana yang dihimpun bank dari masyarakat (tabungan, giro, deposito)
● LCR: Liquidity Coverage Ratio, kemampuan bank memenuhi kebutuhan likuiditas jangka pendek
● LDR: Loan to Deposit Ratio, perbandingan kredit terhadap dana pihak ketiga
● NIM: Net Interest Margin, margin keuntungan dari bunga
● NPL: Non-Performing Loan, rasio kredit bermasalah
● ROA: Return on Assets, kemampuan menghasilkan laba dari aset
● ROE: Return on Equity, tingkat pengembalian terhadap modal
#BankNeoCommerce #BankDigital #PerbankanIndonesia #LabaBank #TransformasiDigital #FintechIndonesia #BNPL #EkonomiDigital #IndustriPerbankan #KreditDigital #Neobank #InklusiKeuangan #SahamBBYB #EfisiensiBisnis #ProfitBank #DigitalBanking #InvestasiIndonesia #KeuanganDigital #UMKMIndonesia #TeknologiFinansial
