Singapura tengah mempercepat langkah menjadi pusat perdagangan dan penyimpanan emas regional dengan menggandeng bank-bank global seperti JPMorgan Chase & Co. dan UBS Group AG. Di tengah reli emas yang menembus rekor tertinggi dunia, ambisi ini membidik bank sentral, family office, hingga investor kaya Asia yang kian memburu aset safe haven.
Fokus:
■ Harga emas mencetak rekor baru didorong permintaan safe haven dan pembelian bank sentral, membuka peluang likuiditas besar di Asia.
■ JPMorgan, UBS, ICBC Standard Bank, DBS, UOB, dan OCBC dilibatkan untuk memperkuat perdagangan dan penyimpanan emas fisik.
■ Singapura membidik bank sentral dan investor kaya Asia yang mencari diversifikasi aset di tengah ketidakpastian global.
Di saat harga emas global melesat dan ketegangan geopolitik belum mereda, Singapura tak ingin sekadar menjadi penonton. Negara-kota itu bergerak senyap namun agresif: merangkul bank-bank papan atas dunia untuk mengubah dirinya menjadi simpul utama perdagangan dan penyimpanan emas di Asia.

Monetary Authority of Singapore (MAS) dalam beberapa bulan terakhir menggelar serangkaian pertemuan dengan pelaku pasar bullion internasional. Di antaranya JPMorgan dan UBS—dua market maker terbesar di pasar emas global—serta ICBC Standard Bank Plc. Dari dalam negeri, tiga bank besar ikut dilibatkan: DBS Group Holdings Ltd., United Overseas Bank Ltd. (UOB), dan Oversea-Chinese Banking Corp Ltd. (OCBC).
Singapura menggandeng JPMorgan dan UBS untuk mewujudkan ambisi menjadi pusat perdagangan emas Asia. Di tengah reli harga emas global, negara-kota ini membidik bank sentral dan investor kaya regional.
Langkah ini bertujuan meningkatkan likuiditas dan menjadikan Singapura sebagai pusat perdagangan emas fisik—bukan sekadar transaksi derivatif. Fokusnya jelas: investor institusi, bank sentral, hingga family office Asia yang dananya terus membesar.
Reli emas global memberi momentum. Sepanjang 2025 hingga awal 2026, harga emas mencetak rekor baru, didorong lonjakan permintaan safe haven, kekhawatiran pelemahan mata uang fiat, serta ketidakpastian geopolitik dan perdagangan. World Gold Council mencatat permintaan emas global tetap solid, terutama dari bank sentral negara berkembang yang agresif menambah cadangan devisa berbasis emas.
“Sejak tahun lalu, MAS secara aktif bekerja sama dengan para pelaku utama pasar emas untuk mencari cara mendukung pertumbuhan pasar emas di Singapura,” ujar juru bicara MAS seperti dikutip Bloomberg.
:
Dari sisi perbankan, optimisme serupa muncul. Kelvin Ng, Head of Group Global Markets UOB, mengatakan, “Ada permintaan yang kuat dan terus meningkat di Asia, di mana investor semakin memandang emas sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian geopolitik.”
Ia menambahkan, “Hal ini diperkuat oleh pertumbuhan Asia Tenggara yang solid dan meningkatnya aliran investasi ke emas batangan, koin, serta produk berbasis emas lainnya.”
Bersaing dengan Hong Kong
Ambisi Singapura tak bisa dilepaskan dari persaingan dengan Hong Kong, yang selama ini lebih dulu dikenal sebagai pusat bullion Asia dengan dukungan Tiongkok. Beijing sendiri mendorong peran emas dalam sistem keuangan global sebagai bagian dari strategi diversifikasi dari dolar AS.
Singapura punya modal kuat: stabilitas politik, sistem hukum yang dipercaya investor global, serta reputasi sebagai wealth management hub Asia. Negara ini juga telah menghapus pajak barang dan jasa untuk logam mulia investasi sejak 2012, meski langkah itu belum langsung memicu lonjakan transaksi saat itu.
Kini momentumnya berbeda. Ledakan jumlah family office—yang menurut data resmi melampaui 1.500 entitas—menciptakan basis permintaan baru untuk penyimpanan emas fisik di brankas lokal.
Kontrak Baru dan Infrastruktur Penyimpanan
Singapore Exchange (SGX) dikabarkan tengah menilai potensi peluncuran kontrak emas baru, setelah sebelumnya menghentikan kontrak Kilobar Gold pada 2018 akibat sepi transaksi. UOB saat ini menjadi satu-satunya bank Singapura yang menawarkan penjualan emas fisik dan layanan vault untuk nasabah ritel, sementara OCBC menjajaki bisnis kustodian emas fisik bagi klien institusi dan high net worth.
Semua rencana masih dalam tahap awal dan bisa berubah. Namun arahnya jelas, Singapura ingin menjadi simpul emas Asia—tempat logam mulia itu diperdagangkan, disimpan, dan dijadikan jangkar stabilitas portofolio global.
Digionary:
● Bullion: Emas atau perak dalam bentuk batangan atau koin dengan kadar tinggi untuk investasi.
● Family Office: Perusahaan pengelola kekayaan milik keluarga superkaya.
● Likuiditas: Kemudahan suatu aset diperdagangkan tanpa memengaruhi harga secara signifikan.
● Market Maker: Institusi yang menyediakan harga beli dan jual untuk menjaga kelancaran perdagangan.
● Safe Haven: Aset yang dianggap aman saat pasar bergejolak.
● Vault: Fasilitas penyimpanan berstandar tinggi untuk aset berharga seperti emas.
#Singapura #Emas #GoldRally #JPMorgan #UBS #Bullion #SafeHaven #Investasi #BankSentral #FamilyOffice #Likuiditas #PasarGlobal #Geopolitik #WealthManagement #AsiaTenggara #HongKong #CadanganDevisa #Komoditas #MarketMaker #EkonomiGlobal
