Bank Jakarta menutup Februari 2026 dengan dua penghargaan bergengsi sekaligus: Indonesia Enterprise Risk Management Award 2026 dan Indonesia Best CFO Awards 2026. Pengakuan ini menegaskan posisi bank pembangunan daerah tersebut sebagai institusi dengan tata kelola risiko terintegrasi dan kepemimpinan keuangan yang kuat di tengah tekanan industri perbankan nasional yang semakin kompetitif dan terdigitalisasi.
Fokus:
■ Evaluasi komprehensif menegaskan kesiapan Bank Jakarta menghadapi volatilitas industri.
■ Peran CFO tidak hanya menjaga laporan, tetapi mengarahkan pertumbuhan berkelanjutan.
■ Tata kelola yang akuntabel menjadi fondasi ekspansi dan reputasi jangka panjang.
Di saat industri perbankan nasional menghadapi tantangan likuiditas, tekanan margin, dan percepatan digitalisasi, Bank Jakarta justru menegaskan fondasi bisnisnya.
Pada Jumat (27/2), bank pembangunan daerah dengan aset di atas Rp90 triliun ini meraih dua penghargaan sekaligus: Indonesia Enterprise Risk Management Award 2026 yang digelar Economic Review dan Indonesia Best CFO Awards 2026 yang diselenggarakan Warta Ekonomi.

Pengakuan ini datang di tengah dinamika sektor perbankan yang tidak ringan. Data OJK menunjukkan pertumbuhan kredit nasional 2025 berada di kisaran 10–11%, sementara tantangan kualitas aset dan efisiensi biaya menjadi sorotan utama regulator. Dalam konteks itu, konsistensi penguatan manajemen risiko dan disiplin keuangan menjadi kunci keberlanjutan.
Bank Jakarta meraih dua penghargaan nasional 2026 atas manajemen risiko dan kepemimpinan keuangan. Strategi tata kelola disiplin menjadi kunci di tengah tantangan industri perbankan.
Pada ajang 8th Indonesia Enterprise Risk Management Award (IERMA) 2026, Bank Jakarta meraih predikat The Best Indonesia Enterprises Risk Management Gold Award (B) Excellent (4 Star) untuk kategori Regional Development Company Asset >Rp90 Triliun.
Direktur Kepatuhan Bank Jakarta, Ateng Rivai, menegaskan bahwa penghargaan ini bukan sekadar simbol. “Pertumbuhan yang sehat harus ditopang oleh tata kelola yang kuat, manajemen risiko yang disiplin dan akuntabel. Penguatan budaya sadar risiko di seluruh lini organisasi menjadi bagian penting dalam memastikan setiap langkah strategis perusahaan tetap berada dalam koridor prinsip kehati-hatian dan regulasi yang berlaku,” ujar Ateng.
Penilaian dilakukan melalui pendekatan secondary data approach, yakni evaluasi komprehensif berbasis laporan tahunan, profil perusahaan, serta dokumen pendukung lainnya.
Dewan juri menilai beberapa aspek krusial: lingkungan internal dan penetapan sasaran, proses identifikasi dan mitigasi risiko, mekanisme pemantauan berkelanjutan, hingga independensi audit internal.
Di era volatilitas global—dari gejolak geopolitik hingga fluktuasi suku bunga—ketahanan sistem manajemen risiko menjadi pembeda utama antara bank yang tumbuh sehat dan yang terjebak tekanan.
CFO yang Menjaga Irama Pertumbuhan
Penghargaan kedua datang dari Indonesia Best CFO Awards 2026. Direktur Keuangan & Strategi Bank Jakarta, Basaria Martha Juliana, dinobatkan sebagai salah satu penerima penghargaan tersebut.
Penilaian mencakup laporan keuangan audited, pertumbuhan dan profitabilitas, efektivitas pengelolaan struktur biaya dan likuiditas, serta peran CFO dalam mendukung transformasi dan digitalisasi.
Dalam beberapa tahun terakhir, fungsi CFO di industri perbankan memang berevolusi. Tidak lagi sekadar penjaga laporan keuangan, tetapi juga arsitek strategi pertumbuhan dan efisiensi. Dengan rasio kecukupan modal (CAR) perbankan nasional yang berada di atas 25% menurut data regulator, tantangan berikutnya bukan hanya menjaga modal, tetapi memastikan alokasi yang produktif dan berkelanjutan. Di sinilah kepemimpinan keuangan diuji.
Fondasi Kepercayaan Publik
Sekretaris Perusahaan Bank Jakarta, Arie Rinaldi, menilai penghargaan ini menjadi momentum memperkuat transparansi dan komunikasi publik.
“Apresiasi ini menjadi penyemangat bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas komunikasi dan keterbukaan informasi kepada publik. Ke depan, Bank Jakarta akan terus memperkuat kolaborasi, inovasi, serta disiplin dalam penerapan tata kelola guna memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan dan memberikan nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan,” ujarnya.
Bagi bank pembangunan daerah, menjaga kepercayaan publik bukan sekadar reputasi, tetapi fondasi utama ekspansi kredit dan penghimpunan dana.
Lebih dari Sekadar Penghargaan
Dua penghargaan ini pada akhirnya bukan hanya soal trofi. Ia mencerminkan arah strategis: memperkuat manajemen risiko, menjaga kesehatan keuangan, dan memastikan transformasi berjalan dalam koridor kehati-hatian.
Di tengah kompetisi bank besar nasional dan tekanan digitalisasi, bank daerah yang mampu menjaga disiplin tata kelola memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan tumbuh. Bank Jakarta tampaknya memilih jalan itu: membangun fondasi sebelum berlari lebih jauh.
Digionary:
● Audit Internal: Fungsi pengawasan independen untuk memastikan kepatuhan dan efektivitas pengendalian.
● CAR (Capital Adequacy Ratio): Rasio kecukupan modal bank untuk menyerap risiko kerugian.
● Corporate Governance: Sistem tata kelola perusahaan yang transparan dan akuntabel.
● CFO (Chief Financial Officer): Direktur Keuangan yang bertanggung jawab atas strategi dan kesehatan finansial perusahaan.
● Enterprise Risk Management (ERM): Pendekatan terintegrasi dalam mengelola risiko perusahaan.
● Likuiditas: Kemampuan bank memenuhi kewajiban jangka pendek.
● Mitigasi Risiko: Upaya mengurangi potensi dampak risiko.
● Prudential Principle: Prinsip kehati-hatian dalam operasional perbankan.
● Secondary Data Approach: Metode penilaian berbasis dokumen dan informasi publik.
● Transformasi Digital: Proses integrasi teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan layanan.
#BankJakarta #PerbankanIndonesia #EnterpriseRiskManagement #BestCFO2026 #TataKelola #CorporateGovernance #IndustriKeuangan #TransformasiDigital #ManajemenRisiko #CFOLeadership #OJK #BankDaerah #KeuanganBerkelanjutan #Likuiditas #AuditInternal #CAR #EkonomiIndonesia #BankingExcellence #StrategiKeuangan #SustainableGrowth
