Bom Waktu Kredit Digital Malaysia, 70% Pengguna ‘Pay Later’ Adalah Warga Berpenghasilan Rendah!

- 30 Januari 2026 - 11:32

Denomena Buy Now, Pay Later (BNPL) di Malaysia mencapai titik krusial dengan total pinjaman menembus RM4,9 miliar [setara dengan Rp18 triliun] pada akhir 2025, di mana 70% penggunanya berasal dari kelompok pendapatan rendah B40. Meski volume transaksi melonjak hingga 66% dalam setahun, tren ini memicu alarm kewaspadaan karena besarnya ketergantungan kelompok rentan dan anak muda pada utang digital untuk memenuhi kebutuhan konsumsi harian yang mendesak.


​Fokus:

■ ​Dominasi Kelompok B40: Mayoritas pengguna BNPL adalah masyarakat berpenghasilan rendah yang menggunakan skema cicilan untuk kebutuhan dasar.
■ ​Ledakan Transaksi Digital: Terjadi lonjakan nilai transaksi sebesar 78% menjadi RM21,3 miliar, mencerminkan pergeseran masif gaya hidup konsumtif digital.
■​Risiko Kredit Macet: Saldo tunggakan mencapai RM160,2 juta, menuntut regulasi yang lebih ketat melalui Consumer Credit Oversight Board (CCOB).


​Utang BNPL Malaysia tembus RM4,9 miliar. 70% pengguna berasal dari kelompok B40 dan anak muda. Simak risiko ledakan utang digital di tengah gaya hidup konsumtif.


Bayang-bayang krisis utang rumah tangga di Malaysia kini bergeser ke ranah digital. Sebuah laporan terbaru mengungkap fakta mencemaskan: lebih dari 70% pengguna aktif layanan Buy Now, Pay Later (BNPL) berasal dari kelompok masyarakat B40—klasifikasi ekonomi dengan pendapatan terendah di negeri jiran tersebut.

​Data yang dirilis Gugus Tugas Consumer Credit Oversight Board (CCOB) dalam sidang Dewan Rakyat yang dikutip dari fintechnews.my menunjukkan bahwa total pinjaman BNPL yang beredar telah menyentuh angka RM4,9 miliar per 31 Desember 2025. Angka ini mencakup sekitar 0,3% dari total utang rumah tangga Malaysia. Meski terlihat kecil secara proporsi nasional, penetrasinya di akar rumput sangat masif.

​Kementerian Keuangan Malaysia mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2025, platform BNPL telah memproses 243 juta transaksi dengan nilai total mencapai RM21,3 miliar. Ini merupakan lonjakan fantastis sebesar 78% dibandingkan tahun 2024 yang hanya mencatat nilai transaksi RM12 miliar.

​Urusan Perut yang Dicicil

Berbeda dengan kartu kredit konvensional yang sering dikaitkan dengan barang mewah, BNPL di Malaysia justru menjadi penyambung hidup. Sekitar 40% transaksi dilakukan oleh kaum muda untuk pengeluaran rutin seperti makanan, bahan pokok, transportasi, dan jasa layanan harian. Dengan rata-rata nilai transaksi hanya RM91, terlihat jelas bahwa masyarakat tidak sedang mencicil gadget terbaru, melainkan mencicil biaya hidup sehari-hari.

​Namun, kemudahan ini membawa konsekuensi pahit. Saldo tunggakan atau kredit macet (overdue) tercatat mencapai RM160,2 juta, atau sekitar 3,3% dari total pinjaman. Angka ini menjadi lampu kuning bagi regulator di tengah masifnya kampanye pemasaran dari penyedia jasa BNPL.

​Berdasarkan laporan Malaysia Fintech Report 2025, saat ini terdapat sekitar 6,5 juta pengguna BNPL di Malaysia. Ketergantungan ini terpusat pada tiga pemain besar yang mendominasi pasar. Kondisi ini memicu kekhawatiran mengenai efektivitas regulasi kredit digital dan perlindungan konsumen, terutama bagi mereka yang belum memiliki literasi keuangan yang mumpuni.

​Urgensi Perlindungan Konsumen

Menanggapi situasi ini, Kementerian Keuangan Malaysia menegaskan pentingnya pengawasan melalui Undang-Undang Kredit Konsumen yang tengah digodok. Tujuannya jelas: memastikan penyedia kredit digital tidak “menjebak” warga miskin dalam lingkaran utang yang tak berujung.

​Sektor perbankan digital juga sebenarnya tengah berkembang pesat dengan simpanan mencapai RM3,1 miliar dari 2 juta pengguna. Namun, agresivitas BNPL yang menyasar segmen non-bankable (masyarakat yang tidak terjangkau bank) memerlukan perhatian khusus agar tidak menjadi bom waktu ekonomi di masa depan.


​Digionary:

​● B40: Kelompok 40% terbawah dalam distribusi pendapatan rumah tangga di Malaysia.
● BNPL (Buy Now, Pay Later): Skema pembiayaan jangka pendek yang memungkinkan konsumen melakukan pembelian dan membayarnya di kemudian hari, biasanya tanpa bunga jika dibayar tepat waktu.
● CCOB (Consumer Credit Oversight Board): Gugus tugas yang dibentuk pemerintah Malaysia untuk mengatur dan mengawasi penyedia kredit non-bank.
● Dewan Rakyat: Majelis rendah dalam parlemen Malaysia.
● Outstanding Loan: Saldo pinjaman yang masih berjalan atau belum dilunasi oleh peminjam.
​Hashtags:
#FintechMalaysia #BNPL #EkonomiMalaysia #UtangDigital #B40 #KreditKonsumen #BeritaBisnis #GayaHidup #TeknologiKeuangan #Kuala Lumpur #EkonomiDigital #PayLater #LiterasiKeuangan #InfoMalaysia #RegulasiKeuangan #KreditMacet #Finansial #ManajemenUtang #TrendPasar #Investasi

Comments are closed.