Perusahaan di seluruh dunia sedang memasuki fase baru transformasi AI. Bukan lagi sekadar chatbot atau otomasi sederhana, tetapi AI otonom (agentic), AI berbasis perangkat fisik (physical), dan AI berbasis kedaulatan teknologi (sovereign) yang memaksa organisasi merombak cara kerja, tata kelola, infrastruktur, hingga strategi bisnis lintas negara.
Fokus:
■ Agentic AI membuat perusahaan harus mendesain ulang alur kerja dan tata kelola karena AI kini bisa bertindak sendiri.
■ Physical AI mengubah operasi nyata melalui robot dan sensor, menjadi fondasi otomasi industri berikutnya.
■ Sovereign AI menjadikan lokasi teknologi, data, dan infrastruktur sebagai isu strategis bisnis global.
Selama ini banyak perusahaan merasa sudah “menggunakan AI” hanya karena memiliki chatbot, dashboard analitik, atau otomasi sederhana. Padahal, gelombang AI terbaru justru sedang terjadi di level yang jauh lebih dalam: AI yang bisa bekerja sendiri, AI yang masuk ke dunia fisik lewat robot dan sensor, serta AI yang kini dipengaruhi oleh isu kedaulatan negara. Inilah fase di mana AI bukan lagi alat bantu, melainkan arsitek ulang cara perusahaan beroperasi.
Perusahaan global kini menghadapi apa yang disebut sebagai velocity paradox: tekanan untuk mengadopsi AI secepat mungkin agar tetap kompetitif, namun di saat yang sama harus berjalan hati-hati karena teknologi berkembang jauh lebih cepat daripada model operasional perusahaan.
Riset terbaru Deloitte bertajuk State of AI in the Enterprise: The Untapped Edge, yang melibatkan lebih dari 3.200 pemimpin bisnis dan TI dunia, menunjukkan bahwa inovasi AI perusahaan kini bergerak kuat di tiga area utama, yakni agentic AI, physical AI, dan sovereign AI.
Banyak organisasi memang sudah merasakan peningkatan produktivitas dari AI. Namun, hanya sebagian kecil yang benar-benar menggunakan AI untuk mendesain ulang bisnis, bukan sekadar mengoptimalkan proses lama.
1. Agentic AI: AI yang Bisa Bekerja Sendiri
Pasar agentic AI diproyeksikan mencapai US$45 miliar pada 2030, naik dari US$8,5 miliar pada 2026. AI jenis ini tidak sekadar menjawab pertanyaan, tetapi mampu merencanakan, menalar, dan mengeksekusi tugas bertahap lintas fungsi bisnis.
Sebanyak 74% perusahaan dalam survei Deloitte berencana mengimplementasikan agentic AI dalam dua tahun ke depan. Penggunaan awal terlihat di customer service, namun sektor keuangan, penerbangan, dan manufaktur sudah mulai memanfaatkan AI ini untuk membantu pengambilan keputusan.
Potensi terbesarnya ada pada koordinasi rantai pasok, riset dan pengembangan, manajemen pengetahuan, dan keamanan siber.
Agentic, Physical, dan Sovereign AI menjadi tiga gelombang besar yang memaksa perusahaan dunia mendesain ulang proses kerja, tata kelola, dan strategi teknologi di tengah tekanan regulasi dan persaingan global.
Namun masalah besar muncul dimana hanya 21% pemimpin yang mengaku sudah memiliki tata kelola matang untuk AI otonom. Padahal, sistem ini bisa mengambil tindakan sendiri, berinteraksi dengan pelanggan, bahkan menyentuh proses inti bisnis.
Perusahaan yang sukses justru memulai dari area berisiko rendah, sambil membangun tata kelola lintas fungsi: legal, IT, compliance, dan bisnis.
2. Physical AI: AI yang Masuk ke Dunia Nyata
Jika agentic AI bekerja di ranah digital, physical AI membawa AI ke dunia nyata melalui robot, sensor, drone, dan kendaraan otonom. Sebanyak 58% perusahaan sudah menggunakan physical AI dalam skala tertentu, dan angka ini diproyeksikan mencapai 80% dalam dua tahun.
Penggunaan paling masif terjadi di manufaktur, logistik, dan pertahanan. Asia Pasifik sebagai kawasan terdepan adopsi robot kolaboratif di lini produksi, drone inspeksi otomatis, lengan robot pemilih barang, hingga forklift otonom menjadi contoh nyata.
Dalam survei, inovasi enterprise dari physical AI paling besar datang dari intelligent security system (21%), robotics (20%), dan digital twin (19%). Physical AI diperkirakan akan menjadi fondasi transformasi operasional perusahaan di masa depan.
3. Sovereign AI: Ketika Lokasi AI Jadi Isu Strategis
Inilah dimensi AI yang paling baru dan paling strategis: di mana AI dibuat dan siapa yang mengendalikannya kini menjadi isu bisnis. Sovereign AI berbicara tentang kemandirian teknologi. Pemerintah di berbagai negara mulai berinvestasi besar dalam chip, infrastruktur AI, satelit, dan pusat data untuk mengurangi ketergantungan pada vendor asing.
Hanya 11% perusahaan di Amerika yang bergantung pada solusi AI asing untuk sebagian besar sistem mereka. Bandingkan dengan 32% di Eropa, Timur Tengah, dan Afrika. Sebanyak 77% pemimpin mengatakan lokasi pengembangan AI kini menjadi faktor penting dalam memilih teknologi. Diperkirakan hampir US$100 miliar akan diinvestasikan dalam komputasi sovereign AI pada 2026.
Artinya, perusahaan multinasional kini harus memikirkan di mana data disimpan, chip apa yang digunakan, siapa yang mengontrol infrastruktur, dan tentunya kepatuhan regulasi tiap negara.
Digionary:
● Agentic AI: AI otonom yang mampu menjalankan tugas bertahap tanpa instruksi terus-menerus.
● AI Governance: Sistem tata kelola untuk memastikan AI aman dan etis.
● AI Stack: Susunan teknologi AI dari chip hingga aplikasi.
● Digital Twin: Replika digital dari sistem fisik.
● Ethical Guardrails: Batasan etika dalam penggunaan AI.
● Intelligent Security System: Sistem keamanan berbasis AI.
● Physical AI: AI yang terintegrasi dengan robot dan perangkat fisik.
● Robotics: Penggunaan robot dalam operasional industri.
● Sovereign AI: Kedaulatan teknologi AI berbasis lokasi dan kontrol negara.
● Velocity Paradox: Tekanan adopsi cepat AI dengan risiko operasional.
#ArtificialIntelligence #AgenticAI #PhysicalAI #SovereignAI #AIGovernance #EnterpriseAI #DigitalTransformation #Robotics #DigitalTwin #CyberSecurity #SupplyChain #AIInnovation #TechStrategy #DataSovereignty #FutureOfWork #AIAdoption #Automation #Industry40 #AIRegulation #GlobalTechnology
