Pembiayaan buy now pay later (BNPL) atau paylater yang disalurkan perusahaan pembiayaan terus melesat dan menembus Rp11,24 triliun per November 2025. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pertumbuhan tetap tinggi meski mulai melambat, sementara rasio kredit bermasalah masih terjaga. Di balik ekspansi agresif ini, regulator mulai menyoroti tantangan keberlanjutan, risiko gagal bayar, serta perlindungan konsumen di tengah masifnya adopsi paylater di Indonesia.
Fokus Utama:
■ Pembiayaan paylater perusahaan pembiayaan mencapai Rp11,24 triliun per November 2025 dengan pertumbuhan 68,61% YoY, menegaskan BNPL sebagai mesin baru industri multifinance.
■ Meski tumbuh pesat, laju pertumbuhan BNPL melambat dibandingkan September–Oktober 2025, menjadi sinyal awal perlunya strategi ekspansi yang lebih selektif.
■ NPF gross BNPL berada di level 2,78%, relatif aman, namun OJK tetap menyoroti risiko gagal bayar dan perlindungan konsumen di tengah adopsi masif paylater.
Industri pembiayaan Indonesia tengah menyaksikan ledakan baru: paylater. Skema beli sekarang bayar nanti yang semula identik dengan platform digital kini menjadi mesin pertumbuhan perusahaan pembiayaan. Namun, di tengah pertumbuhan dua digit yang impresif, OJK mengingatkan bahwa laju ekspansi harus diimbangi tata kelola risiko yang ketat.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kinerja pembiayaan buy now pay later (BNPL) atau paylater yang disalurkan perusahaan pembiayaan mencapai Rp11,24 triliun per November 2025. Angka ini menandai pertumbuhan signifikan secara tahunan, sekaligus menegaskan posisi paylater sebagai salah satu pendorong utama industri multifinance.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) OJK Agusman menyatakan, pembiayaan BNPL perusahaan pembiayaan tumbuh 68,61% secara year on year (YoY).
“Adapun BNPL perusahaan pembiayaan tumbuh 68,61% secara year on year (YoY),” ujar Agusman dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner (RDK) OJK, Jumat (9/1/2026).
Meski tumbuh tinggi, OJK mencermati adanya sinyal perlambatan. Pada Oktober 2025, pembiayaan BNPL tercatat Rp10,85 triliun atau tumbuh 69,71% YoY, sementara pada September 2025 pertumbuhannya bahkan mencapai 88,65% YoY dengan nilai Rp10,31 triliun. Pola ini menunjukkan ekspansi masih berlanjut, namun tidak lagi seagresif kuartal sebelumnya.
Dari sisi kualitas pembiayaan, OJK menilai risiko masih relatif terkendali. Non Performing Financing (NPF) gross BNPL perusahaan pembiayaan tercatat 2,78% per November 2025, sedikit membaik dibandingkan Oktober 2025 sebesar 2,79%.
“NPF gross BNPL perusahaan pembiayaan per November 2025 sebesar 2,78%,” kata Agusman.
Data ini menempatkan BNPL multifinance dalam zona aman, meski tetap perlu diwaspadai. Sejumlah riset industri menunjukkan, pengguna paylater di Indonesia didominasi generasi muda dengan literasi keuangan yang belum merata. Laporan Bank Indonesia dan OJK sebelumnya juga menggarisbawahi potensi risiko over-leverage rumah tangga akibat kemudahan akses kredit digital.
Bagi industri multifinance, paylater kini bukan sekadar produk pelengkap, melainkan sumber pertumbuhan baru di tengah ketatnya pembiayaan kendaraan dan alat berat. Namun bagi regulator, lonjakan ini menuntut pengawasan ekstra agar ekspansi tidak berujung pada lonjakan kredit bermasalah atau praktik pemasaran yang merugikan konsumen.
Digionary:
● BNPL (Buy Now Pay Later): Skema pembiayaan yang memungkinkan konsumen membeli barang atau jasa sekarang dan membayarnya kemudian.
● Multifinance: Perusahaan pembiayaan non-bank yang menyalurkan kredit konsumtif dan produktif.
● NPF (Non Performing Financing): Rasio pembiayaan bermasalah yang menunjukkan tingkat risiko kredit.
● OJK: Otoritas Jasa Keuangan, lembaga pengawas sektor jasa keuangan Indonesia.
● YoY (Year on Year): Perbandingan kinerja pada periode yang sama tahun sebelumnya.
#Paylater #BNPL #Multifinance #OJK #KeuanganDigital #Pembiayaan #FintechIndonesia #KreditDigital #InklusiKeuangan #RisikoKredit #NPF #IndustriKeuangan #RegulasiKeuangan #EkonomiDigital #Konsumen #LiterasiKeuangan #KeuanganNasional #DataOJK #FinansialIndonesia #BisnisKeuangan
