DANA Ungkap Mayoritas UMKM Binaan Belum Adopsi QRIS, Akses Pembiayaan Terhambat

- 29 Juni 2026 - 14:13

DANA Indonesia mengungkap bahwa masih banyak pelaku UMKM yang belum mengadopsi layanan pembayaran digital seperti QRIS, bahkan di antara peserta program pemberdayaan SisBerdaya dan DisBerdaya 2026 yang melibatkan lebih dari 6.800 perempuan UMKM dan penyandang disabilitas. Temuan ini menjadi potret kesenjangan digitalisasi keuangan di level akar rumput yang berpotensi menghambat akses pembiayaan dan perluasan pasar bagi usaha kecil.


DIGI-HIGHLIGHTS:

■ DANA temukan masih banyak peserta program pemberdayaan UMKM yang belum memiliki QRIS, meski konsumen semakin memilih transaksi nontunai. Kesenjangan ini berpotensi memperlebar eksklusi pasar bagi usaha mikro.
■ Pencampuran keuangan pribadi dan usaha serta ketiadaan pencatatan arus kas menjadi hambatan fundamental UMKM mengakses pembiayaan formal, mendorong DANA memasukkan materi pengelolaan keuangan digital dalam program SisBerdaya.
■ Evaluasi program 2023-2025 menunjukkan peningkatan pendapatan peserta 113% dan pertumbuhan produksi 126% dalam enam bulan pasca pendampingan, membuktikan literasi digital dapat menjadi katalis produktivitas UMKM.


Mayoritas pelaku UMKM yang tergabung dalam program pemberdayaan DANA Indonesia masih belum memanfaatkan layanan pembayaran digital seperti QRIS, meski transaksi nontunai telah menjadi preferensi utama konsumen. Temuan dari lebih dari 6.800 peserta program SisBerdaya dan DisBerdaya 2026 ini menegaskan bahwa kesenjangan adopsi teknologi keuangan di level akar rumput tetap menjadi tantangan serius dalam mempercepat transformasi digital UMKM nasional.

Director of Communications DANA Indonesia Olavina Harahap mengungkapkan fakta mengejutkan dari program SisBerdaya dan DisBerdaya 2026. Dari lebih dari 6.800 UMKM perempuan dan perempuan penyandang disabilitas yang menjadi peserta, banyak yang belum memiliki QRIS—standar pembayaran digital yang kini menjadi infrastruktur transaksi nasional.

“Bahkan peserta-peserta yang ikut program ini, yang kami minta punya QRIS supaya bisa jualan, belum semuanya memiliki. Padahal itu salah satu bagian penting dari digitalisasi keuangan,” ujar Olavina di sela Offline Mentoring Workshop SisBerdaya dan DisBerdaya 2026 di Jakarta, Jumat (26/6).

Pernyataan ini mengindikasikan bahwa kesenjangan digital tidak hanya terjadi pada UMKM di luar ekosistem digital, tetapi juga pada mereka yang sudah terjangkau oleh program pemberdayaan korporasi. Ini menjadi sinyal bahwa percepatan digitalisasi UMKM membutuhkan intervensi yang lebih intensif dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk regulator, perbankan, dan perusahaan teknologi finansial.

Perilaku Konsumen Sudah Berubah
Olavina menekankan urgensi adopsi pembayaran digital bagi pelaku usaha kecil. Perubahan perilaku konsumen Indonesia yang semakin beralih ke transaksi nontunai membuat kepemilikan QRIS bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan syarat untuk tetap kompetitif di pasar.

“Kalau mereka tidak punya layanan keuangan digital, bagaimana orang mau membeli? Sekarang orang sudah lebih senang menggunakan QRIS,” katanya.

Data Bank Indonesia menunjukkan transaksi QRIS terus mencatat pertumbuhan eksponensial. Adopsi yang rendah di kalangan UMKM, terutama segmen mikro dan ultra-mikro, dapat mengakibatkan eksklusi pasar yang semakin lebar karena konsumen cenderung memilih merchant yang menyediakan opsi pembayaran digital.

Masalah Pencatatan Keuangan

Selain kendala adopsi QRIS, DANA menemukan tantangan fundamental lain: rendahnya kualitas administrasi keuangan UMKM. Banyak pelaku usaha masih mencampurkan keuangan pribadi dan usaha, serta belum memiliki pencatatan arus kas yang terstruktur. Kondisi ini menjadi hambatan serius ketika UMKM ingin mengakses pembiayaan formal dari perbankan atau lembaga keuangan.

“Kami mengajarkan bagaimana mengatur keuangan secara digital untuk UMKM. Itu penting karena dari sana mereka bisa memiliki pencatatan yang lebih baik dan ke depan akan lebih mudah mengakses pembiayaan,” ujar Olavina.

Pemisahan keuangan pribadi dan usaha merupakan prinsip dasar yang menjadi syarat penilaian kredit oleh bank. Tanpa catatan keuangan yang tertib, UMKM akan terus terperangkap dalam jerat pembiayaan informal berbunga tinggi.

Strategi DANA: Dari Literasi ke Pembiayaan

Program SisBerdaya—yang diinisiasi DANA bersama Ant International Foundation sejak 2023—dirancang sebagai jalur bertahap menuju inklusi keuangan penuh. Selain pembayaran digital dan pencatatan keuangan, peserta juga didorong memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) sebagai legalitas usaha serta memanfaatkan media sosial untuk memperluas pemasaran.

DANA menargetkan peserta yang telah matang secara digital dapat mengakses pembiayaan melalui layanan DANA Bisnis ke depannya. “Tujuannya memang ke sana, supaya mereka nantinya bisa lebih mudah mendapatkan akses pembiayaan. Tapi kami melakukannya pelan-pelan,” ujar Olavina.

Tahun ini program menjaring lebih dari 6.800 peserta dari berbagai daerah. Sebanyak 35 finalis terpilih mengikuti mentoring intensif dan berkesempatan memperoleh bantuan pengembangan usaha dengan total hadiah Rp750 juta. Kategori usaha peserta didominasi sektor makanan dan minuman (52%), fesyen dan aksesori (23,3%), serta kerajinan tangan (8,8%).

Dampak Terukur dan Implikasi bagi Perbankan

Berdasarkan evaluasi DANA terhadap pelaksanaan program sepanjang 2023-2025, peserta mencatat rata-rata peningkatan pendapatan sebesar 113% dan pertumbuhan produksi sebesar 126% dalam enam bulan setelah mengikuti pendampingan. Angka ini menunjukkan bahwa kombinasi literasi digital dan pengelolaan keuangan yang tepat dapat menghasilkan lompatan produktivitas yang signifikan.

Bagi industri perbankan, temuan DANA ini menjadi sinyal bahwa kolaborasi dengan perusahaan teknologi finansial dalam membangun kapasitas UMKM dapat membuka pasar kredit baru. UMKM yang telah memiliki rekam jejak digital—baik melalui QRIS, pencatatan keuangan digital, maupun riwayat transaksi—menjadi segmen yang lebih bankable dan dapat dinilai kelayakan kreditnya melalui pendekatan alternative credit scoring berbasis data. ●


DIGI-INSIGHTS:

Temuan DANA bahwa peserta program pemberdayaannya sendiri belum sepenuhnya mengadopsi QRIS menunjukkan bahwa persoalan digitalisasi UMKM bukan hanya soal infrastruktur, melainkan soal perubahan perilaku dan kesiapan ekosistem pendukung. Bank Indonesia telah menyediakan standar QRIS, tetapi adopsinya membutuhkan edukasi intensif yang melampaui sekadar pendaftaran. Ini adalah celah yang membuka peluang kolaborasi lebih dalam antara bank, fintech, dan pemerintah daerah untuk mendorong akuisisi merchant mikro dengan insentif yang tepat sasaran.

Ketiadaan pencatatan keuangan yang rapi di kalangan UMKM adalah hambatan struktural yang membuat bank kesulitan menyalurkan kredit ke segmen ini, meskipun target penyaluran kredit UMKM terus dinaikkan regulator. Namun data dari program SisBerdaya—dengan kenaikan pendapatan 113% dan produksi 126%—membuktikan bahwa begitu UMKM mendapatkan pendampingan manajemen keuangan dasar, produktivitas mereka melejit. Ini menegaskan bahwa bank perlu mempertimbangkan pembiayaan berbasis program pendampingan, bukan sekadar berbasis agunan.

Bagi perbankan, kolaborasi dengan fintech seperti DANA membuka akses ke data transaksi dan perilaku yang selama ini tidak terlihat di radar biro kredit konvensional. UMKM yang sudah menggunakan QRIS dan memiliki pencatatan keuangan digital menghasilkan jejak data yang dapat diolah menjadi skor kredit alternatif. Ke depan, bank yang mampu membangun model underwriting berbasis data digital ini akan mendominasi pasar pembiayaan UMKM—segmen yang selama ini kurang terlayani namun memiliki volume agregat yang sangat besar. Program seperti SisBerdaya adalah cetak biru bagaimana literasi, teknologi, dan akses pembiayaan dapat dirangkai menjadi satu pipa inklusi yang terukur dan menguntungkan. ●


DIGIONARY:

● Alternative Credit Scoring: Metode penilaian kelayakan kredit menggunakan data non-tradisional seperti riwayat transaksi digital, aktivitas media sosial, atau perilaku pembayaran.
● Arus Kas (Cash Flow): Catatan masuk dan keluarnya uang dalam suatu usaha yang menjadi indikator kesehatan keuangan dan dasar penilaian kredit.
● DANA Bisnis: Layanan dari DANA Indonesia yang menyasar pelaku usaha untuk mendukung transaksi dan pengelolaan keuangan bisnis.
● DisBerdaya: Program turunan SisBerdaya yang secara khusus menyasar perempuan penyandang disabilitas untuk meningkatkan kapasitas usaha berbasis digital.
● Embedded Finance: Integrasi layanan keuangan—seperti pembayaran atau pinjaman—ke dalam platform non-keuangan yang digunakan konsumen.
● Financial Inclusion (Inklusi Keuangan): Kondisi di mana seluruh lapisan masyarakat memiliki akses terhadap layanan keuangan formal yang terjangkau dan berkualitas.
● NIB (Nomor Induk Berusaha): Identitas resmi pelaku usaha yang diterbitkan pemerintah, menjadi syarat legalitas dan akses ke berbagai layanan.
● QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard): Standar kode QR nasional yang ditetapkan Bank Indonesia untuk memfasilitasi pembayaran digital lintas penyedia.
● SisBerdaya: Program pemberdayaan UMKM perempuan yang diinisiasi DANA bersama Ant International Foundation sejak 2023.
● UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah): Klasifikasi usaha berdasarkan skala aset dan omzet yang menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia.

#DANAIndonesia #DigitalisasiUMKM #QRIS #InklusiKeuangan #UMKMnaikKelas #PembayaranDigital #Fintech #DigitalBanking #TransformasiDigital #PemberdayaanPerempuan #SisBerdaya #DisBerdaya #AksesPembiayaan #EkonomiDigital #BankIndonesia #FinancialInclusion #TransaksiNontunai #AlternativeCreditScoring #OJK #AntInternational

Comments are closed.