Ketidakpastian ekonomi global yang memecahkan rekor pada 2026 membuat masyarakat semakin berhati-hati mengelola uang. Di tengah inflasi yang masih membayangi dan daya beli yang tertekan, menyimpan seluruh dana dalam bentuk tunai dinilai tidak lagi cukup. DANA mendorong masyarakat mulai melakukan diversifikasi aset ke instrumen seperti emas dan Surat Berharga Negara (SBN) agar keuangan tetap stabil dan nilai uang tidak terus tergerus inflasi.
Fokus:
■ Ketidakpastian ekonomi global dan inflasi membuat masyarakat semakin memilih menahan konsumsi dan memperbesar tabungan.
■ Menyimpan seluruh dana dalam bentuk kas dinilai berisiko karena nilainya dapat tergerus inflasi.
■ Emas dan SBN menjadi pilihan instrumen yang lebih stabil untuk menjaga nilai aset di tengah kondisi pasar yang bergejolak.
Tahun 2026 belum menjadi tahun yang ramah bagi kondisi ekonomi global. Ketegangan geopolitik, inflasi yang belum sepenuhnya reda, serta perubahan pola konsumsi masyarakat membuat banyak orang memilih bermain aman dalam mengelola keuangan.
Namun, menurut DANA, bermain aman tidak berarti menyimpan seluruh dana dalam bentuk tunai. Di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi, masyarakat justru didorong untuk mulai melakukan diversifikasi aset agar kondisi finansial tetap stabil dan tidak mudah tergerus inflasi.

Indikator ketidakpastian global memang sedang berada di level yang belum pernah terjadi sebelumnya. World Uncertainty Index pada Februari 2026 melonjak hingga 106.862, tertinggi sepanjang sejarah. Angka tersebut bahkan melampaui periode krisis keuangan global 2008, pandemi Covid-19, maupun serangan 11 September.
Tekanan serupa juga terasa di Indonesia. Badan Pusat Statistik mencatat inflasi tahunan pada Maret 2026 mencapai 3,48%, meski lebih rendah dibanding Februari yang sebesar 4,76%. Inflasi masih dipicu oleh kenaikan harga pangan, transportasi, perumahan, hingga kebutuhan rumah tangga.
Dalam situasi seperti itu, masyarakat cenderung memperbesar tabungan dan mengurangi konsumsi. Fenomena ini lazim disebut precautionary saving, yakni perilaku “bermain aman” dengan memperkuat cadangan dana saat ekonomi sedang tidak menentu.
Namun, menyimpan seluruh dana dalam bentuk tunai juga bukan tanpa risiko. Uang tunai memang memberi rasa aman dalam jangka pendek, tetapi nilainya bisa terus tergerus jika inflasi lebih tinggi dibanding bunga simpanan.
Head of Investment and Insurance DANA, Ivan Kusuma, mengatakan bahwa masyarakat perlu mulai memikirkan instrumen yang dapat menjaga nilai aset dalam jangka panjang.
“Menumpuk dana dalam bentuk tunai dalam jangka panjang berisiko tergerus inflasi, sehingga nilai riilnya dapat menurun. Oleh karena itu, memegang kas sebaiknya dilakukan secukupnya untuk kebutuhan likuiditas dan dana darurat, sementara sebagian lainnya dialokasikan ke aset atau instrumen yang memiliki potensi menjaga nilai terhadap inflasi,” katanya.
Di tengah kondisi pasar yang berfluktuasi, emas masih menjadi salah satu instrumen yang banyak dipilih karena dianggap relatif tahan terhadap inflasi. Selain emas, Surat Berharga Negara atau SBN juga dinilai menarik karena menawarkan imbal hasil yang lebih stabil melalui kupon berkala. Instrumen SBN memiliki tingkat risiko yang relatif rendah karena dijamin pemerintah. Meski nilainya tetap bisa berfluktuasi mengikuti pergerakan suku bunga dan pasar obligasi, instrumen ini dinilai cocok bagi investor pemula yang ingin membangun portofolio secara bertahap.
“Untuk investor pemula, fokus pada instrumen yang relatif stabil dan membangun portofolio secara bertahap jauh lebih penting dibandingkan mengejar imbal hasil tinggi. Penting juga untuk menjaga diversifikasi aset dan menyesuaikannya dengan profil risiko masing-masing,” kata Ivan.
Menurut Ivan, masih banyak masyarakat yang menganggap investasi obligasi atau SBN hanya bisa dilakukan oleh kalangan mapan dengan modal besar. Padahal, persepsi tersebut sudah tidak lagi relevan.
“Yang sering jadi miskonsepsi, investasi obligasi seperti SBN dianggap membutuhkan modal besar. Padahal, saat ini sudah banyak produk yang bisa dimulai dari Rp1 juta. Ini membuka peluang bagi lebih banyak orang, terutama anak muda, untuk mulai membangun portofolio sejak dini,” lanjutnya.
Akses terhadap instrumen investasi pun kini semakin mudah. Melalui aplikasi DANA, pengguna dapat membeli e-SBN secara digital melalui mitra distribusi resmi pemerintah.
Produk yang tersedia mencakup Obligasi Ritel Indonesia, Sukuk Ritel, Saving Bond Retail, dan Sukuk Tabungan. Seluruh instrumen tersebut dapat dibeli sesuai jadwal penerbitan pemerintah.
DANA menilai, kemudahan akses ini penting untuk memperluas inklusi keuangan, khususnya di kalangan generasi muda yang mulai sadar pentingnya investasi tetapi sering kali masih bingung menentukan instrumen yang tepat.
Saat ini, DANA mengklaim telah menjangkau lebih dari 200 juta pengguna di Indonesia. Selain layanan pembayaran digital, perusahaan juga terus memperluas fitur keuangan, mulai dari investasi, asuransi, hingga edukasi keuangan digital.
“Dengan dukungan teknologi dan keamanan berlapis, DANA ingin membuat investasi jadi lebih mudah diakses dan tidak terasa rumit. Harapannya, semakin banyak masyarakat yang berani memulai, sehingga tidak hanya bertahan di tengah ketidakpastian, tapi juga bisa membangun stabilitas finansial yang lebih sehat ke depan,” tutup Ivan.
Digionary:
● Diversifikasi aset: Strategi menyebar dana ke berbagai instrumen investasi untuk mengurangi risiko.
● Emas: Instrumen investasi yang sering dipilih saat inflasi tinggi karena nilainya cenderung stabil.
● Inflasi: Kenaikan harga barang dan jasa secara umum yang mengurangi daya beli masyarakat.
● Kas: Uang tunai atau dana yang disimpan di rekening dan mudah digunakan kapan saja.
● Kupon: Imbal hasil atau bunga yang dibayarkan secara berkala kepada pemegang obligasi atau SBN.
● Obligasi: Surat utang yang diterbitkan pemerintah atau perusahaan dengan imbal hasil tertentu.
● Precautionary saving: Kebiasaan menambah tabungan untuk berjaga-jaga di tengah ketidakpastian ekonomi.
● Profil risiko: Tingkat toleransi seseorang terhadap potensi kerugian dalam berinvestasi.
● SBN: Surat Berharga Negara yang diterbitkan pemerintah untuk membiayai APBN.
● Sukuk: Instrumen investasi berbasis syariah yang memberikan imbal hasil sesuai prinsip Islam.
● World Uncertainty Index: Indeks global yang mengukur tingkat ketidakpastian ekonomi dan politik dunia.
#DANA #DiversifikasiAset #Inflasi #SBN #Emas #Investasi #eSBN #ObligasiRitel #SukukRitel #SavingBondRetail #SukukTabungan #KeuanganPribadi #LiterasiKeuangan #InvestasiPemula #EkonomiIndonesia #KetidakpastianEkonomi #Inflasi2026 #DompetDigital #PerencanaanKeuangan #FinancialPlanning
