Belanja ritel Amerika Serikat sepanjang musim liburan 2025 tumbuh sekitar 4%, mencerminkan ketahanan konsumsi di tengah anggaran rumah tangga yang makin ketat. Data Visa dan Mastercard menunjukkan konsumen berbelanja lebih cermat, memanfaatkan teknologi AI untuk membandingkan harga, berburu promosi lebih awal, serta mengandalkan kenyamanan belanja daring. Elektronik dan fesyen menjadi pendorong utama, sementara toko fisik tetap mendominasi volume transaksi.
Fokus Utama:
■ Belanja ritel AS tumbuh sekitar 4% di tengah tekanan anggaran rumah tangga.
■ Konsumen makin mengandalkan AI, promo awal, dan belanja daring untuk menghemat biaya.
■ Elektronik dan fesyen memimpin pertumbuhan, sementara toko fisik tetap dominan.
Tekanan biaya hidup tak sepenuhnya memadamkan selera belanja warga Amerika Serikat. Musim liburan 2025 justru mencatat kenaikan penjualan ritel sekitar 4%, dengan konsumen semakin cerdas, lebih terencana, dan kian mengandalkan teknologi—mulai dari kecerdasan buatan hingga promosi lebih awal—untuk menjaga anggaran tetap terkendali.
Penjualan ritel di Amerika Serikat meningkat sekitar 4% sepanjang musim liburan tahun ini, menurut data awal yang dirilis Visa dan Mastercard pada Selasa (23/12). Angka tersebut menunjukkan daya tahan konsumsi rumah tangga, meskipun masyarakat menghadapi anggaran yang lebih ketat dan tekanan harga yang belum sepenuhnya mereda.
Data Visa dan Mastercard, yang dihimpun dari miliaran transaksi di jaringan pembayaran mereka, mengindikasikan bahwa belanja yang solid berlanjut hingga Desember. Konsumen disebut semakin berhitung dalam mengambil keputusan, tanpa sepenuhnya menahan belanja untuk kebutuhan non-primer.
Ekonom utama Visa, Wayne Best, kepada Reuters menyebut konsumen kini jauh lebih terarah. “Pembeli lebih berhati-hati dan sering menggunakan alat kecerdasan buatan untuk menemukan serta membandingkan harga agar anggaran belanja diskresioner mereka bisa dimaksimalkan.”
Nada serupa disampaikan Kepala Ekonom Mastercard Economics Institute, Michelle Meyer, yang menyoroti perubahan pola waktu belanja. Ia menyebut konsumen berbelanja lebih awal dan memanfaatkan promosi sejak dini demi mendapatkan harga terbaik.
Strategi pengecer yang menggelar diskon lebih cepat—bahkan sebelum puncak musim belanja—terbukti efektif mengunci transaksi. Laporan Visa menunjukkan total belanja ritel AS, tidak termasuk otomotif, bahan bakar, dan restoran, tumbuh 4,2% pada periode 1 November hingga 21 Desember. Angka ini sedikit di bawah proyeksi Visa pada Oktober yang memperkirakan pertumbuhan 4,6% untuk periode dua bulan penuh.
Sementara itu, Mastercard—yang memasukkan belanja ritel dan layanan makanan dalam perhitungannya—mencatat kenaikan penjualan 3,9% secara tahunan pada periode yang sama. Angka tersebut justru melampaui proyeksi awal Mastercard sebesar 3,6%. Kedua data ini belum disesuaikan dengan inflasi, namun tetap memberi gambaran kuat tentang ketahanan konsumsi.
Baik Visa maupun Mastercard menekankan peran belanja daring yang terus tumbuh lebih cepat dibandingkan toko fisik, didorong oleh kenyamanan berbelanja dari rumah dan kemudahan membandingkan harga secara real time. Meski demikian, toko fisik belum kehilangan dominasinya. Visa mencatat, 73% transaksi masih terjadi di gerai offline, sementara 27% dilakukan secara online.
Dari sisi kategori, elektronik menjadi motor utama pertumbuhan. Penjualan televisi, ponsel pintar, dan perangkat elektronik lainnya melonjak 5,8% berdasarkan data Visa. Pakaian dan aksesori menyusul dengan kenaikan 5,3%. Mastercard menambahkan bahwa diskon musiman, cuaca yang lebih dingin, serta kebutuhan menyegarkan lemari pakaian turut mendorong belanja fesyen, di samping meningkatnya minat terhadap perhiasan tahun ini.
Tren ini sejalan dengan berbagai riset konsumen terbaru di AS yang menunjukkan adopsi AI—mulai dari chatbot hingga aplikasi pembanding harga—semakin memengaruhi keputusan belanja. Teknologi bukan hanya membantu konsumen menghemat, tetapi juga mengubah cara mereka merencanakan pengeluaran.
Bagi pelaku ritel, pesan dari musim liburan 2025 cukup jelas: konsumen belum berhenti belanja, tetapi menuntut nilai lebih. Diskon tepat waktu, pengalaman belanja yang mudah, serta pemanfaatan teknologi kini menjadi faktor penentu dalam memenangkan hati pembeli di tengah persaingan yang semakin ketat.
Digionary:
● AI (Artificial Intelligence): Teknologi kecerdasan buatan yang digunakan untuk analisis dan pengambilan keputusan
● Belanja Diskresioner: Pengeluaran non-primer yang dapat ditunda atau disesuaikan
● Brick-and-Mortar: Toko fisik konvensional
● E-commerce: Perdagangan barang dan jasa melalui platform digital
● Elektronik Konsumen: Produk elektronik untuk penggunaan pribadi, seperti TV dan ponsel
● Inflasi: Kenaikan harga barang dan jasa secara umum
● Jaringan Pembayaran: Sistem yang memproses transaksi kartu pembayaran
● Kartu Kredit: Alat pembayaran non-tunai berbasis pinjaman
● Mastercard Economics Institute: Unit riset ekonomi Mastercard
● Musim Liburan: Periode belanja puncak menjelang akhir tahun
● Promo Awal: Diskon yang diberikan sebelum puncak musim belanja
● Ritel: Penjualan barang langsung kepada konsumen
● Visa Chief Economist: Kepala ekonom Visa yang menganalisis tren konsumsi
#BelanjaLiburan #RitelAS #Visa #Mastercard #AIShopping #KonsumenCerdas #EkonomiAS #BelanjaOnline #RetailSales #HolidaySpending #TeknologiRitel #Elektronik #FashionRetail #PerilakuKonsumen #EkonomiGlobal #PembayaranDigital #Diskon #Ecommerce #BisnisGlobal #TrenBelanja
