Salesforce meluncurkan inovasi antarmuka berbasis agen kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) bernama AIforce dalam helatan Dreamforce 2026 di San Francisco, Amerika Serikat. Langkah strategis ini menggeser paradigma interaksi perangkat lunak dari tombol visual konvensional (user interface) menuju sistem otonom yang berkomunikasi langsung melalui API dan CLI. Melalui integrasi tiga sistem utama—termasuk kemitraan strategi Claudeforce bersama Anthropic—Salesforce memungkinkan perusahaan membangun aplikasi dan analisis bisnis secara otomatis tanpa kode (no-code) dengan jaminan sistem keamanan Zero Data Retention.
DIGI-HIFHLIGHTS:
■ Salesforce merilis AIforce untuk mengubah interaksi software konvensional menjadi antarmuka berbasis agen AI otonom.
■ Integrasi Claudeforce mempermudah koneksi server MCP dan API secara otomatis tanpa perlu kerumitan teknis headless.
■ Uji coba Claudeforce telah diadopsi 40 perusahaan, mencatat 4.000 pengguna aktif harian di internal Salesforce.
Raksasa penyedia perangkat lunak manajemen hubungan pelanggan (customer relationship management/CRM), Salesforce, mengumumkan pendekatan baru dalam pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) enterprise. Dalam ajang tahunan Dreamforce 2026 di San Francisco, Amerika Serikat, perseroan meluncurkan AIforce, yakni rangkaian fitur antarmuka berbasis agen AI otonom.
Inovasi ini menandai pergeseran fundamental dalam cara industri berinteraksi dengan aplikasi bisnis. Selama lima dekade terakhir, pengguna bergantung pada antarmuka visual (user interface/UI) tradisional seperti menekan tombol atau menavigasi menu. Sebaliknya, agen AI mengoperasikan perangkat lunak secara langsung melalui application programming interface (API) dan command-line interface (CLI).
President of Applications and Marketing Salesforce Patrick Stokes menjelaskan bahwa produk utama perusahaan kini berfokus pada kekuatan platform pengolah data yang aman ketimbang sekadar tampilan visual.
“Dengan kemampuan tersebut, agen dapat berinteraksi dengan perangkat lunak untuk membantu menyelesaikan pekerjaan pengguna,” ujarnya dalam Dreamforce Virtual News Preview, Selasa (15/9).
Pendekatan ini sejalan dengan arah strategis perseroan dalam merespons evolusi teknologi informasi global. Chairman and CEO Salesforce Marc Benioff menilai integrasi model AI ke dalam alur kerja korporasi merupakan tahap krusial bagi efisiensi industri.
“AI sedang menciptakan revolusi dalam cara kita berinteraksi dengan teknologi. Kami menggabungkan kecerdasan model AI dengan seluruh konteks yang telah dibangun pelanggan di Salesforce untuk menciptakan sistem yang cerdas, dinamis, dan dapat disesuaikan,” kata Benioff.
Dalam penerapannya, Salesforce menyiapkan tiga arsitektur antarmuka utama. Pertama, Claudeforce, yang menghubungkan ekosistem Salesforce dengan model AI Claude milik Anthropic. Kedua, Slackforce, yang mengintegrasikan fitur Slackbot dan Slack Surfaces. Ketiga, Agentforce Coworker, yang ditujukan bagi pengguna antarmuka tradisional Lightning.
Sebelumnya, pengintegrasian sistem agen AI pada tingkat korporasi mengandalkan pendekatan headless yang membutuhkan kerumitan teknis tinggi. Lewat Claudeforce, perikatan antara Salesforce dan Anthropic menghadirkan plug-in terotomatisasi melalui skema open beta di platform AppExchange. Komponen penting seperti server Model Context Protocol (MCP), pengaturan hak akses, hingga proteksi data Zero Data Retention akan terkonfigurasi secara otomatis saat dipasang di Claude Enterprise.
Saat ini, Claudeforce sedang diuji coba oleh sekitar 40 perusahaan berskala global. Di internal Salesforce sendiri, sekitar 4.000 pengguna aktif harian telah mengadopsi fitur tersebut untuk analisis data harian dan pembuatan aplikasi berbasis perintah suara atau teks tanpa menulis kode pemrogramaan (zero-code). ■
DIGIONARY:
● Agentic AI (Agen AI): Sistem kecerdasan buatan otonom yang dapat mengambil keputusan, mengeksekusi perintah, dan menyelesaikan alur kerja tanpa instruksi manual langkah-demi-langkah dari pengguna.
● AppExchange: Marketplace aplikasi bisnis milik Salesforce tempat pengguna dapat mengunduh dan mengintegrasikan perangkat lunak pihak ketiga.
● Application Programming Interface (API): Antarmuka pemrogram aplikasi yang memungkinkan dua atau lebih program komputer untuk saling berkomunikasi dan bertukar data.
● Command-Line Interface (CLI): Antarmuka berbasis teks yang digunakan untuk menjalankan program, mengelola berkas, dan berinteraksi dengan sistem komputer melalui ketikan perintah.
● Customer Relationship Management (CRM): Sistem manajemen strategi dan teknologi untuk mengelola interaksi, data, serta hubungan perusahaan dengan pelanggan.
● Headless Architecture: Arsitektur perangkat lunak yang memisahkan bagian depan (front-end atau UI) dari logika sistem belakang (back-end atau pemrosesan data).
● Model Context Protocol (MCP): Standar protokol yang menghubungkan model kecerdasan buatan dengan sumber data atau sistem eksternal secara terstruktur.
● User Interface (UI): Tampilan visual tempat pengguna berinteraksi langsung dengan aplikasi atau perangkat elektronik melalui tombol, menu, dan tata letak grafis.
● Zero Data Retention: Kebijakan keamanan digital di mana vendor AI atau penyedia layanan tidak menyimpan atau merekam data transaksi pengguna setelah pemrosesan selesai.
● Zero-Code / No-Code: Metode pengembangan perangkat lunak yang memungkinkan pengguna membuat aplikasi atau otomatisasi tanpa perlu menulis baris kode pemrograman.
#salesforce #aiforce #claudeforce #anthropic #dreamforce2026 #agenai #crm #teknologikertas #aplikasibisnis #artificialintelligence #sistemoperasiai #openbeta #appexchange #zerodataretention #interaksimanusiaai #transformasidigital #otomatisasibisnis #revolusiai #teknologisolid #inovasisoftware
