McKinsey & Company kini memiliki sekitar 60.000 “tenaga kerja”, namun hampir separuhnya bukan manusia. Di bawah kepemimpinan CEO Bob Sternfels, firma konsultan global ini telah mengerahkan hingga 25.000 agen AI dalam waktu kurang dari dua tahun. Langkah agresif ini bukan sekadar adopsi teknologi, melainkan transformasi menyeluruh atas cara kerja, model bisnis, dan keunggulan kompetitif industri konsultan di era kecerdasan buatan.
Fokus Utama:
■ McKinsey kini mengoperasikan hingga 25.000 agen AI yang bekerja berdampingan dengan 40.000 karyawan manusia.
■ AI menggeser peran konsultan dari penyusun rekomendasi menjadi pelaksana transformasi berbasis teknologi.
■ McKinsey beralih dari fee tradisional ke skema berbagi risiko dan hasil bisnis bersama klien.
Bayangkan sebuah firma konsultan global dengan 40.000 karyawan—lalu, dalam waktu kurang dari dua tahun, menambah 25.000 “pekerja” baru tanpa merekrut satu pun manusia. Itulah realitas terbaru McKinsey & Company. Alih-alih sekadar bereksperimen, raksasa konsultan ini secara terbuka menempatkan kecerdasan buatan sebagai bagian inti dari struktur organisasinya.
McKinsey & Company tengah menulis ulang definisi tentang tenaga kerja modern. CEO McKinsey, Bob Sternfels, mengungkapkan bahwa firma konsultan global tersebut kini memiliki sekitar 60.000 tenaga kerja, terdiri dari 40.000 karyawan manusia dan sekitar 20.000 hingga 25.000 agen AI.
Pernyataan itu disampaikan Sternfels dalam wawancara terbaru di podcast Harvard Business Review IdeaCast, serta diperkuat dalam penampilannya di Consumer Electronics Show (CES) di Las Vegas. Seorang juru bicara McKinsey mengonfirmasi kepada Business Insider bahwa angka 25.000 agen AI merupakan estimasi paling akurat saat ini.
Satu setengah tahun lalu, McKinsey baru menggunakan beberapa ribu agen AI. Kini, skalanya melonjak drastis. Target berikutnya bahkan lebih ambisius: setiap karyawan McKinsey akan “didampingi” oleh satu atau lebih agen AI dalam menjalankan pekerjaannya.
Agen AI—yang secara umum didefinisikan sebagai asisten virtual yang mampu bekerja secara otonom—tidak hanya menjalankan perintah. Mereka dapat memecah masalah, menyusun rencana, mengeksekusi tugas, dan mengambil keputusan tanpa perlu instruksi berulang dari manusia. Dalam praktiknya, agen-agen ini kini menangani analisis data, riset industri, penyusunan model bisnis, hingga simulasi strategi klien.
Langkah McKinsey mencerminkan perubahan besar di industri konsultan global. Firma-firma seperti Boston Consulting Group (BCG) dan PwC juga bergerak menjauh dari pekerjaan tradisional berbasis presentasi dan rekomendasi, menuju proyek transformasi berbasis AI yang berlangsung bertahun-tahun dan terintegrasi langsung dengan operasi klien.
Di McKinsey, motor utama transformasi ini adalah QuantumBlack, unit analitik dan AI yang memiliki sekitar 1.700 personel. Menurut Alex Singla, senior partner McKinsey yang memimpin QuantumBlack, pekerjaan berbasis AI kini menyumbang sekitar 40% dari total proyek McKinsey.
“Yang kami cari sekarang adalah talenta yang bisa bergerak lincah antara kerja konsultan klasik dan pola pikir teknolog,” ujar Singla. “Kami ingin orang yang bisa menjadi konsultan McKinsey yang hebat dan sekaligus teknolog yang andal—lalu membentuk mereka menjadi keduanya.”
Pergeseran ini juga mengubah wajah rekrutmen. Di BCG, misalnya, muncul peran baru bernama forward-deployed consultants—konsultan yang tidak hanya memberi saran, tetapi langsung membangun dan menguji solusi AI bersama klien, bahkan melakukan vibe-coding di lapangan.
Namun, transformasi McKinsey tidak berhenti pada cara kerja. Model bisnisnya pun ikut berubah. Sternfels mengungkapkan bahwa firma ini perlahan meninggalkan pendekatan tradisional fee-for-service. Sebagai gantinya, McKinsey kini bekerja sama dengan klien untuk menyusun joint business case—dan ikut bertanggung jawab dalam pembiayaan serta hasil bisnis dari proyek tersebut.
Dengan kata lain, McKinsey tidak lagi sekadar menjual nasihat, tetapi ikut menanggung risiko dan hasil. Dalam konteks ini, AI bukan hanya alat efisiensi, melainkan fondasi baru bagi skala, kecepatan, dan akurasi keputusan bisnis.
Di tengah perdebatan global tentang apakah AI akan menggantikan pekerjaan manusia, McKinsey memilih narasi berbeda: AI sebagai rekan kerja, bukan pengganti. Namun, implikasinya jelas—keunggulan kompetitif firma konsultan di masa depan akan sangat ditentukan oleh seberapa cepat dan dalam mereka mengintegrasikan kecerdasan buatan ke dalam DNA organisasinya.
Ilustrasi: hbr.org
Digionary:
● Agen AI: Asisten virtual otonom yang mampu menganalisis, merencanakan, dan mengeksekusi tugas tanpa instruksi terus-menerus.
● Fee-for-Service: Model bisnis tradisional di mana klien membayar jasa berdasarkan jam kerja atau proyek.
● Forward-Deployed Consultants: Konsultan yang langsung membangun dan menerapkan solusi teknologi di sisi klien.
● Generative AI: Teknologi AI yang mampu menghasilkan teks, kode, analisis, dan konten secara mandiri.
● QuantumBlack: Unit analitik dan AI McKinsey yang memimpin transformasi berbasis data dan kecerdasan buatan.
#McKinsey #ArtificialIntelligence #AIAgents #FutureOfWork #ConsultingIndustry #DigitalTransformation #QuantumBlack #GenerativeAI #AIWorkforce #GlobalConsulting #TechDrivenBusiness #AIRevolution #BusinessStrategy #WorkforceTransformation #ManagementConsulting #Innovation #AIinBusiness #FutureOfConsulting #TechLeadership #GlobalEconomy
