Saham PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) resmi masuk dalam komposisi Indeks Economic 30 yang diterbitkan Bursa Efek Indonesia (BEI) dan berlaku efektif mulai 2 Maret 2026. Masuknya BBYB menjadi penanda meningkatnya pengakuan pasar terhadap kinerja dan fundamental bank digital tersebut. Sepanjang 2025, Bank Neo Commerce mencatat lonjakan laba signifikan dan pertumbuhan bisnis digital yang kuat, termasuk melalui produk pembiayaan digital Neo Pinjam. Keputusan BEI ini juga mencerminkan meningkatnya perhatian investor terhadap emiten bank digital yang berhasil memperbaiki kinerja dan memperkuat tata kelola bisnisnya.
Fokus
■ Saham BBYB resmi menjadi anggota Indeks Economic 30 BEI dan menjadi satu-satunya bank digital dalam daftar tersebut.
■ Kinerja Bank Neo Commerce menunjukkan lonjakan laba dan pertumbuhan bisnis digital sepanjang 2025.
■ Masuknya BBYB ke indeks ini memperkuat kepercayaan investor terhadap prospek bank digital di pasar modal Indonesia.
Pasar modal Indonesia memberi sinyal baru bagi industri perbankan digital. Saham PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) resmi masuk dalam komposisi Indeks Economic 30 yang diterbitkan Bursa Efek Indonesia (BEI), efektif sejak 2 Maret 2026.
Keputusan ini bukan sekadar perubahan komposisi indeks. Bagi Bank Neo Commerce, masuknya BBYB menjadi anggota indeks tersebut merupakan pengakuan atas transformasi bisnis dan perbaikan fundamental yang dilakukan perseroan dalam beberapa tahun terakhir.

Dalam pembaruan indeks terbaru, BBYB menjadi satu dari lima saham baru yang masuk ke dalam daftar 30 saham pilihan Economic 30. Yang menarik, saham ini juga menjadi satu-satunya bank berbasis layanan digital dalam komposisi indeks tersebut.
Saham Bank Neo Commerce (BBYB) resmi masuk Indeks Economic 30 BEI. Kinerja laba melonjak, bisnis digital tumbuh pesat, dan kepercayaan investor terhadap bank digital mulai meningkat.
Direktur Utama PT Bank Neo Commerce Tbk, Eri Budiono, menilai pencapaian ini sebagai bukti meningkatnya kepercayaan pasar terhadap arah transformasi perusahaan.
“Kami mengapresiasi dan berterima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada Bank Neo Commerce. Masuknya BBYB ke dalam Indeks Economic 30 merupakan pengakuan atas kerja keras seluruh insan perusahaan atau Neobankers dalam memperkuat fundamental, meningkatkan kualitas aset, serta membangun model bisnis bank dengan layanan digital yang berkelanjutan,” ujar Eri, Kamis (5/2).
Lonjakan Kinerja dan Perbaikan Fundamental
Di tengah persaingan ketat industri bank digital, Bank Neo Commerce menunjukkan perbaikan kinerja yang cukup signifikan sepanjang 2025.
Hingga November 2025, perseroan membukukan laba sebesar Rp538,43 miliar, melonjak tajam dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya Rp11,20 miliar.
Perbaikan ini menunjukkan bahwa fase restrukturisasi dan pengetatan manajemen risiko yang dilakukan bank digital tersebut mulai membuahkan hasil.
Dari sisi neraca, total aset Bank Neo Commerce mencapai Rp18,98 triliun, tumbuh 7,63% secara tahunan (YoY). Sementara modal inti meningkat 20,04% YoY menjadi Rp4,00 triliun.
Manajemen menyebut kinerja ini didorong oleh beberapa faktor utama, a.l. efisiensi operasional yang lebih ketat, penguatan manajemen risiko, dan penyaluran kredit yang lebih selektif dan prudent.
Pendekatan ini menjadi penting mengingat dalam beberapa tahun terakhir sejumlah bank digital di Indonesia menghadapi tantangan kualitas kredit dan profitabilitas.
Produk Digital Tumbuh Pesat
Transformasi digital juga terus menjadi pilar utama pertumbuhan Bank Neo Commerce.
Salah satu produk unggulan, Neo Pinjam, mencatat pertumbuhan sangat agresif. Produk pembiayaan digital ini tumbuh 139% secara tahunan, mencerminkan meningkatnya permintaan pasar terhadap layanan pinjaman berbasis aplikasi.
Fenomena ini sejalan dengan tren industri keuangan digital di Indonesia. Data Bank Indonesia menunjukkan transaksi keuangan digital nasional terus meningkat, didorong oleh penetrasi smartphone dan ekosistem fintech yang berkembang pesat.
Di sisi lain, bank digital juga semakin fokus membangun model bisnis yang lebih berkelanjutan. Setelah fase ekspansi agresif pada awal kemunculan bank digital di Indonesia, banyak institusi kini mulai menitikberatkan pada profitabilitas dan kualitas aset.
Kepercayaan Investor Mulai Menguat
Selain kinerja operasional, sinyal positif juga datang dari sisi pemegang saham.
Dalam beberapa bulan terakhir, investor institusi tercatat meningkatkan kepemilikan saham di BBYB. Salah satunya adalah PT Gozco Capital, yang menambah kepemilikan sahamnya secara bertahap.
Berdasarkan laporan kepemilikan saham tertanggal 4 Februari 2026, perusahaan tersebut menambah 164 juta saham BBYB, sehingga kepemilikannya meningkat dari 9,31% menjadi 10,53%, atau setara 1,41 miliar saham.
Aksi ini dipandang sebagai indikator meningkatnya keyakinan investor terhadap prospek jangka panjang Bank Neo Commerce.
Beberapa analis pasar juga menilai Indeks Economic 30 mulai berkembang sebagai salah satu benchmark alternatif bagi investor dalam memantau saham-saham dengan fundamental yang kuat.
Meski demikian, indeks ini masih dianggap sebagai pelengkap terhadap indeks utama pasar seperti IHSG atau LQ45.
Momentum bagi Bank Digital
Masuknya BBYB ke dalam indeks ini dapat menjadi momentum penting bagi Bank Neo Commerce untuk meningkatkan visibilitas di pasar modal sekaligus memperluas basis investor.
Di tengah dinamika industri perbankan digital yang masih dalam tahap konsolidasi, perusahaan yang mampu menunjukkan kinerja berkelanjutan berpotensi memperoleh perhatian lebih besar dari investor.
Eri menegaskan bahwa pencapaian ini bukanlah tujuan akhir bagi perseroan. “Pencapaian ini bukanlah tujuan akhir, melainkan milestone dalam perjalanan transformasi Bank Neo Commerce. Kami akan terus memperkuat tata kelola, menjaga kualitas aset, meningkatkan inovasi layanan digital, serta memastikan pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan demi memberikan nilai tambah optimal bagi nasabah, investor, dan seluruh pemangku kepentingan,” tutup Eri.
Dengan fundamental yang semakin kokoh, dukungan pemegang saham yang kuat, serta model bisnis digital yang terus berkembang, Bank Neo Commerce optimistis dapat mempertahankan momentum kinerja dan memperkuat posisinya di industri perbankan digital Indonesia.
Digionary:
● Aset Bank: Total kekayaan yang dimiliki bank, termasuk kredit, surat berharga, dan kas.
● Benchmark: Tolok ukur yang digunakan investor untuk menilai kinerja investasi atau saham.
● Emiten: Perusahaan yang menerbitkan saham atau obligasi dan tercatat di bursa efek.
● Fundamental Perusahaan: Kondisi keuangan dan kinerja bisnis yang menjadi dasar penilaian investor.
● Indeks Saham: Indikator yang mencerminkan pergerakan harga sekelompok saham di pasar modal.
● Modal Inti: Modal utama bank yang digunakan untuk menopang operasional dan ekspansi bisnis.
● Prudent Banking: Prinsip kehati-hatian dalam menjalankan bisnis perbankan.
● Transformasi Digital: Perubahan model bisnis dengan memanfaatkan teknologi digital untuk meningkatkan layanan dan efisiensi.
#BankNeoCommerce #BBYB #BankDigital #BursaEfekIndonesia #Economic30 #SahamBankDigital #PasarModalIndonesia #InvestasiSaham #TransformasiDigitalBank #IndustriPerbankan #InvestorSaham #KinerjaBank #NeoPinjam #EkonomiDigital #SahamPerbankan #FundamentalPerusahaan #AnalisisSaham #FintechIndonesia #EkosistemDigital #KeuanganDigital
