Citigroup memperkirakan aktivitas IPO di Indonesia masih akan lesu pada paruh pertama 2026. Meski IHSG mencetak rekor, likuiditas pasar dinilai belum cukup kuat untuk menopang penawaran saham baru berskala besar, membuat emiten dan investor cenderung menahan diri.
Fokus Utama:
■ Citigroup memproyeksikan IPO di Indonesia masih sepi pada paruh pertama 2026 karena likuiditas pasar saham dinilai belum cukup kuat menopang transaksi ekuitas berskala besar.
■ Meski IHSG mencetak rekor, Citi menilai penguatan indeks tidak otomatis mencerminkan kualitas likuiditas yang dibutuhkan investor institusi dalam aksi IPO.
■ Stagnasi nilai ECM di kisaran US$1 miliar menunjukkan pasar masih dangkal, membuat emiten cenderung menunda IPO hingga kondisi likuiditas membaik.
Indeks Harga Saham Gabungan mencetak rekor, transaksi harian tampak semarak. Namun di balik euforia itu, pintu penawaran umum perdana belum terbuka lebar. Citigroup memberi sinyal jelas: pasar saham Indonesia belum cukup likuid untuk menyambut gelombang IPO besar pada awal 2026.
Citigroup memproyeksikan aktivitas penawaran umum perdana saham (IPO) di Indonesia masih belum akan bergairah pada paruh pertama 2026. Proyeksi ini disampaikan seiring penilaian bahwa likuiditas pasar saham domestik belum menunjukkan pemulihan yang cukup solid untuk menopang transaksi ekuitas berskala besar.
Head of Asia Equity Capital Markets Syndicate Citi, Rob Chan, menyatakan bahwa kondisi pasar dalam jangka pendek belum mendukung munculnya IPO signifikan di Indonesia.
“Aktivitas IPO dalam jangka pendek di Indonesia, kami tidak memperkirakan adanya IPO signifikan pada paruh pertama tahun ini,” ujar Rob dalam Asia South Investment Banking Outlook 2026 secara daring, Jumat (16/1).
Menurut Citi, sepanjang 2025 total aktivitas equity capital market (ECM) di Indonesia hanya berada di kisaran US$1 miliar, relatif stagnan dibandingkan tahun sebelumnya. Angka tersebut mencerminkan rendahnya kedalaman pasar dan terbatasnya likuiditas yang menjadi faktor utama dalam keputusan investasi institusi global.
Situasi ini dinilai kontras dengan pergerakan IHSG yang justru mencetak rekor baru. Namun bagi investor institusi, penguatan indeks belum tentu mencerminkan kualitas likuiditas yang memadai.
Likuiditas yang tipis berisiko membuat harga saham mudah berfluktuasi tajam, menyulitkan proses price discovery dalam IPO, sekaligus meningkatkan risiko bagi investor jangka panjang.
Sejumlah analis menilai kondisi ini juga dipengaruhi oleh arus dana asing yang masih selektif, suku bunga global yang relatif ketat, serta preferensi investor terhadap saham-saham berkapitalisasi besar dibandingkan emiten baru.
Di sisi lain, otoritas pasar modal mencatat masih ada perusahaan yang mengantre IPO. Namun mayoritas berasal dari emiten beraset jumbo dengan valuasi konservatif, yang cenderung menunggu momentum likuiditas lebih ideal sebelum melantai di bursa.
Dengan kata lain, pasar saham Indonesia belum kekurangan calon emiten—yang kurang justru kedalaman pasar untuk menyerap saham baru secara optimal.
Meta Deskripsi
Citigroup memperkirakan IPO di Indonesia masih lesu awal 2026. Meski IHSG mencetak rekor, likuiditas pasar dinilai belum cukup kuat untuk mendukung penawaran saham baru.
Digionary:
● ECM (Equity Capital Market): Aktivitas penghimpunan dana melalui penerbitan saham di pasar modal.
● IHSG: Indeks Harga Saham Gabungan, indikator utama pergerakan pasar saham Indonesia.
● IPO: Proses penawaran saham perdana perusahaan kepada publik.
● Likuiditas Pasar: Kemampuan pasar menyerap transaksi jual beli tanpa memicu volatilitas harga berlebihan.
● Price Discovery: Proses pembentukan harga wajar saham melalui mekanisme pasar.
#IPO2026 #PasarModalIndonesia #IHSG #Citigroup #LikuiditasPasar #SahamIndonesia #EquityMarket #ECM #InvestasiSaham #BursaEfekIndonesia #PasarSaham #InvestorGlobal #IPOIndonesia #EkonomiIndonesia #KeuanganGlobal #CapitalMarket #MarketOutlook #SahamIPO #Investasi2026 #BloombergTechnoz
