Gubernur bank sentral dan otoritas jasa keuangan se-Asia Pasifik, didampingi dua peraih Nobel Ekonomi, berkumpul di Bali dalam Biennial Policy Conference (BPC) 2026 untuk memperkuat sinergi kebijakan lintas otoritas dan negara. Konferensi ini menonjolkan peran sentral bank sentral sebagai penjaga stabilitas makrofinansial dalam merespons disrupsi teknologi, perubahan iklim, dan fragmentasi geoekonomi. Para tokoh menekankan bahwa inovasi digital dan adopsi AI harus dirancang inklusif untuk kesejahteraan masyarakat, sementara stabilitas harga tetap menjadi jangkar utama yang memungkinkan inovasi tumbuh aman dan berkelanjutan di tengah dinamika ekonomi global.
DIGI-HIGHLIGHTS:
■ Sinergi lintas negara mutlak diperlukan bank sentral untuk hadapi perubahan kompleks akibat teknologi dan fragmentasi geoekonomi global.
■ Peraih Nobel Ekonomi Prof. Peter Howitt soroti peran sektor keuangan yang stabil untuk biayai laju inovasi negara jangka panjang.
■ Peraih Nobel Ekonomi Prof. Daron Acemoglu tekankan AI harus memperkuat stabilitas ekonomi, bukan memperlebar kesenjangan sosial masyarakat.
Di tengah pusaran disrupsi teknologi yang kian kencang, ancaman perubahan iklim, dan fragmentasi geoekonomi global, para penjaga stabilitas makrofinansial Asia-Pasifik merapatkan barisan. Bali menjadi tuan rumah Biennial Policy Conference (BPC) pada 26-27 Agustus 2026, mempertemukan para anggota dewan gubernur bank sentral dan otoritas jasa keuangan sekawasan.
Pertemuan krusial ini tak hanya menjadi ajang diskusi rutin, melainkan sebuah penegasan akan mutlaknya sinergi kebijakan lintas otoritas dan lintas negara untuk memastikan inovasi digital, termasuk AI, mampu mengerek kesejahteraan masyarakat tanpa mengoyak stabilitas keuangan yang menjadi fondasi kemajuan.
Konferensi kebijakan dua tahunan ini terasa kian berbobot dengan kehadiran dua tokoh dunia, peraih Nobel Ekonomi, yakni Prof. Peter Howitt dan Prof. Daron Acemoglu. Sinergi kebijakan lintas batas negara menjadi kian krusial agar bank sentral mampu menjalankan fungsi ganda: menjaga stabilitas makrofinansial sekaligus mengarahkan pemanfaatan teknologi baru demi kemaslahatan publik yang lebih luas.
“Perubahan global kini semakin kompleks akibat disrupsi teknologi, perubahan iklim, dan fragmentasi geoekonomi. Di tengah kondisi itu, inovasi menjadi motor utama pertumbuhan, sementara stabilitas ekonomi dan keuangan menjadi jangkar yang membuat inovasi bisa tumbuh dengan aman. Karena itu, sinergi kebijakan lintas otoritas dan lintas negara menjadi keharusan,” tegas Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Thomas Djiwandono, saat menutup BPC di Bali, Senin (31/8).
Thomas menggarisbawahi bahwa stabilitas adalah prasyarat fundamental bagi kemajuan suatu negara, terutama di tengah dinamika creative destruction yang terus menggerakkan ekonomi. Bank sentral harus berdiri sebagai penjaga utama stabilitas makrofinansial yang memungkinkan inovasi berkembang dengan aman. bauran kebijakan yang terintegrasi pun harus terus berinovasi merespons guncangan yang semakin nonlinier.
“Teknologi membawa efisiensi, tetapi efisiensi tidak boleh terpisah dari kemanusiaan. Inklusivitas tidak datang dengan sendirinya bersama teknologi, melainkan harus dirancang ke dalamnya,” ujar Thomas. BI secara aktif mengambil peran untuk mengarahkan perkembangan ekosistem digital agar teknologi tetap menjadi sarana mencapai manfaat ekonomi yang inklusif. Ia menekankan pula bahwa persoalan multidimensi yang dihadapi saat ini tidak dapat diselesaikan oleh bank sentral secara soliter.
“Kolaborasi lintas negara dan jaring pengaman keuangan kawasan dibutuhkan sebagai perisai bersama dalam menghadapi dinamika siklus keuangan global,” tambahnya.
Stabilitas Harga, Jangkar Inovasi Jangka Panjang
Dalam pandangannya, Prof. Peter Howitt menyoroti dua jalur utama yang mendorong inovasi sebagai motor pertumbuhan jangka panjang. Pertama, faktor nonfinansial, yaitu persaingan usaha yang sehat dan perlindungan kekayaan intelektual. Kedua, peran sektor keuangan yang kuat dan stabil dalam membiayai laju inovasi suatu negara. Prof. Howitt menekankan peran strategis bank sentral dalam menjaga stabilitas harga sebagai jangkar bagi keberlanjutan inovasi.
“Inflasi tinggi meningkatkan ketidakpastian dan biaya pendanaan, sementara guncangan finansial dapat menekan aktivitas riset dan pengembangan yang penting bagi kapasitas inovasi jangka panjang,” terang Howitt.
Regulasi bank sentral perlu menjaga keseimbangan antara stabilitas sistem keuangan dan dukungan terhadap inovasi.
Sementara itu, Prof. Daron Acemoglu memperkuat pandangan tersebut dengan melihat peran negara sebagai faktor kunci dalam menentukan manfaat kemajuan teknologi.
“Arah pengembangan teknologi, khususnya kecerdasan artifisial (AI), akan menentukan apakah kemajuan tersebut dapat memperkuat stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat atau justru memperlebar kesenjangan,” ungkap Acemoglu. Ia menekankan pula pentingnya penguatan kapasitas dan tata kelola lembaga agar arah kemajuan teknologi dapat memberi manfaat secara luas bagi manusia.
Konferensi ini juga mengangkat sejumlah isu strategis lainnya. Pada aspek kebijakan makrofinansial, disepakati perlunya penguatan kerangka kebijakan terintegrasi untuk merespons perubahan ekonomi yang kian kompleks. Di bidang transformasi digital, perkembangan Central Bank Digital Currency (CBDC), tokenisasi, aset digital, dan pemanfaatan AI semakin mendorong kebutuhan akan ekosistem digital yang efisien, saling terhubung, dan tangguh. Sementara itu, risiko perubahan iklim yang meningkat turut menempatkan pengelolaan risiko iklim dan mobilisasi pembiayaan berkelanjutan sebagai bagian integral dalam memperkuat ketahanan ekonomi kawasan.
Berbagai perkembangan tersebut memperkuat kebutuhan akan kebijakan yang adaptif, tata kelola yang kuat, serta sinergi regional dan global untuk menjaga stabilitas makrofinansial dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di Asia-Pasifik. (NCK) ■
DIGIONARY:
● AI (Artificial Intelligence): Kecerdasan buatan, teknologi yang memungkinkan mesin untuk belajar dari data, menyesuaikan diri dengan input baru, dan melakukan tugas-tugas seperti manusia.
● Anchor Ecosystem: Peran utama pemerintah daerah sebagai jangkar atau pusat dalam membangun ekosistem ekonomi daerah yang saling terhubung.
● APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah): Rencana keuangan tahunan pemerintah daerah yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.
● API (Application Programming Interface): Kumpulan aturan dan protokol yang memungkinkan berbagai aplikasi perangkat lunak untuk berkomunikasi dan berinteraksi satu sama lain.
● ASN (Aparatur Sipil Negara): Profesi bagi pegawai negeri sipil dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja yang bekerja pada instansi pemerintah.
● Aset Digital: Representasi digital dari aset berwujud atau tidak berwujud yang memiliki nilai, sering kali didasarkan pada teknologi blockchain atau buku besar terdistribusi.
● Bank Indonesia (BI): Bank sentral Republik Indonesia yang bertanggung jawab menjaga kestabilan nilai rupiah dan sistem pembayaran.
● Bank Sentral: Institusi yang bertanggung jawab atas kebijakan moneter dan stabilitas sistem keuangan suatu negara atau kawasan.
● BPC (Biennial Policy Conference): Konferensi Kebijakan Dua Tahunan, sebuah forum pertemuan berkala untuk membahas isu-isu kebijakan moneter dan stabilitas sistem keuangan.
● CAGR (Compound Annual Growth Rate): Tingkat Pertumbuhan Tahunan Gabungan, ukuran pertumbuhan rata-rata tahunan suatu investasi selama periode waktu tertentu.
● CBDC (Central Bank Digital Currency): Mata uang digital yang dikeluarkan dan dijamin oleh bank sentral suatu negara.
● CASA (Current Account and Savings Account): Dana murah yang berasal dari giro dan tabungan, yang menjadi sumber dana stabil dan berbiaya rendah bagi bank.
● Cloud Computing: Komputasi awan, pengiriman layanan komputasi melalui internet untuk menawarkan inovasi yang lebih cepat dan sumber daya yang fleksibel.
● Core Banking: Sistem perbankan inti yang memproses semua transaksi perbankan dasar dan mengelola data nasabah.
● Creative Destruction: Penghancuran kreatif, proses inovasi ekonomi di mana teknologi baru terus-menerus menggantikan teknologi lama, mendorong pertumbuhan jangka panjang.
● Digital-Native: Karyawan atau individu yang dibesarkan di dunia digital dan sangat terbiasa dengan teknologi sejak usia muda.
● Ekosistem Digital: Jaringan interaksi antara entitas digital, seperti platform, aplikasi, dan pengguna, yang saling terhubung dan mempengaruhi satu sama lain.
● Fiskal: Terkait dengan pendapatan dan pengeluaran pemerintah suatu negara.
● Fintech (Financial Technology): Teknologi finansial, inovasi teknologi dalam layanan keuangan untuk meningkatkan efisiensi dan aksesibilitas.
● Fragmentation: Fragmentasi, pemisahan atau perpecahan dalam sistem geoekonomi atau pasar global.
● GWM (Giro Wajib Minimum): Sejumlah dana minimal yang harus disimpan bank umum di Bank Indonesia sebagai cadangan likuiditas.
● Housing Financial Ecosystem: Ekosistem keuangan perumahan komprehensif yang mencakup layanan dan produk keuangan untuk kepemilikan dan pengelolaan rumah.
● IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan): Indeks pasar saham utama yang melacak kinerja semua saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.
● Inklusi Keuangan: Akses masyarakat terhadap berbagai layanan dan produk keuangan formal yang terjangkau.
● Intermediasi: Fungsi bank dalam menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya kembali dalam bentuk kredit.
● KLM (Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial): Kebijakan Bank Indonesia memberikan insentif berupa kelonggaran pemenuhan GWM bagi bank yang menyalurkan kredit ke sektor produktif.
● Likuiditas: Kemampuan bank untuk memenuhi kewajiban keuangan jangka pendeknya dengan segera.
● LQ45: Indeks pasar saham yang melacak kinerja 45 saham paling likuid di Bursa Efek Indonesia.
● Makrofinansial: Isu-isu yang berkaitan dengan stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan dan dampaknya terhadap perekonomian makro.
● Moneter: Kebijakan yang berkaitan dengan peredaran uang, suku bunga, dan kestabilan harga dalam suatu perekonomian.
● NPL (Non-Performing Loan): Rasio kredit bermasalah, menunjukkan persentase kredit yang tidak lancar atau macet dari total kredit.
● OJK (Otoritas Jasa Keuangan): Lembaga independen yang bertugas mengatur, mengawasi, dan memeriksa kegiatan di sektor jasa keuangan di Indonesia.
● Riset dan Pengembangan (R&D): Kegiatan yang dilakukan untuk menemukan pengetahuan baru dan menerapkan pengetahuan tersebut untuk menciptakan produk atau layanan baru.
● Shared Technology: Teknologi bersama, penggunaan bersama teknologi canggih antar-BPD dalam KUB untuk efisiensi biaya.
● Silo: Cara kerja di mana unit-unit dalam organisasi beroperasi secara terpisah tanpa kolaborasi.
● SSB (Surat-Surat Berharga): Instrumen investasi berupa surat utang atau surat berharga lainnya yang diterbitkan oleh pemerintah atau korporasi.
● Tokenisasi: Proses mengubah aset berwujud atau tidak berwujud menjadi token digital pada blockchain.
● Treasury: Fungsi pengelolaan likuiditas, investasi, dan risiko keuangan di perbankan atau korporasi.
● Unit Economics: Ekonomika unit, analisis pendapatan dan biaya terkait dengan satu unit nasabah atau transaksi.
#AsiaPasifik #BankSentral #StabilitasMakrofinansial #BaliConference #BiennialPolicyConference #PeraihNobel #ProfPeterHowitt #ProfDaronAcemoglu #KecerdasanArtifisial #EkosistemDigital #TransformasiDigital #KreditProduktif #Inflasi #KebijakanMakroprudensial #KLM #LiterasiKeuangan #KeuanganInklusif #JaringPengamanKeuangan #InovasiTeknologi #PertumbuhanBerkelanjutan
