BI Soroti Urgensi Mitigasi Risiko Siber dan Adopsi AI di Tengah Transformasi Keuangan Digital

- 5 Agustus 2026 - 15:50

Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia Destry Damayanti menekankan urgensi bank sentral adaptif terhadap disrupsi teknologi melalui riset mendalam mengenai kecerdasan artifisial, aset kripto, serta penguatan mitigasi risiko siber dan perubahan iklim.


DIGI-HIGHLIGHTS:

■ Bank sentral global didorong memperdalam kajian terkait pemanfaatan kecerdasan artifisial, aset kripto, dan evolusi mata uang digital.
■ Kerangka pengukuran risiko sistemik harus dikembangkan secara adaptif guna mengantisipasi ancaman siber dan dampak perubahan iklim.
■ Kolaborasi riset lintas sektor menjadi kunci utama dalam merumuskan kebijakan moneter yang tangguh di era digital.


Di tengah gelombang inovasi finansial yang bergerak masif, lanskap perbankan sentral global dihadapkan pada keharusan untuk merespons risiko baru yang belum pernah ada sebelumnya.

Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, menegaskan bahwa percepatan transformasi digital menuntut otoritas moneter tidak hanya mengawasi sistem konvensional, tetapi juga menguasai dinamika teknologi modern seperti kecerdasan artifisial (AI), teknologi finansial, aset kripto, hingga evolusi mata uang digital.

Pernyataan tersebut mengemuka dalam pembukaan Konferensi Internasional Bulletin of Monetary Economics and Banking (BMEB) ke-20 dan Call for Papers di Bali. Destry memaparkan bahwa agenda prioritas bank sentral saat ini harus berfokus pada pemahaman mendalam terhadap implikasi teknologi terhadap sistem pembayaran dan stabilitas moneter. Kehadiran AI dan aset digital di satu sisi membuka efisiensi, namun di sisi lain membawa kompleksitas pengawasan yang menuntut standar keamanan tingkat tinggi.

Selain adopsi teknologi, agenda prioritas ketiga yang disoroti BI adalah perlunya pengembangan kerangka pengukuran risiko sistemik yang jauh lebih adaptif. Otoritas keuangan tidak bisa lagi mengandalkan instrumen konvensional untuk menghadapi ancaman yang bersifat multidimensional. Saat ini, kerangka pengawasan makrofinansial harus secara proaktif memperhitungkan eskalasi ancaman siber, disrupsi akibat perubahan iklim, serta potensi tekanan likuiditas lintas batas negara yang dapat merembet secara cepat ke sektor domestik.

“Bank Indonesia berkomitmen untuk terus memperkuat ekosistem riset yang berkualitas dan relevan bagi kebijakan guna mendukung perumusan kebijakan berbasis bukti (evidence-based policymaking) di tengah perubahan lanskap ekonomi dan keuangan global,” tegas Destry.

Diskusi dalam konferensi internasional tersebut juga memperkuat pandangan bahwa ekosistem keuangan digital masa depan harus dibangun di atas fondasi yang saling terhubung (interoperable) dan tangguh (resilient).

Melalui partisipasi 354 naskah riset dari 34 negara, forum ini menegaskan bahwa kolaborasi global antara akademisi dan pembuat kebijakan merupakan prasyarat mutlak untuk memastikan inovasi digital berjalan seiring dengan terjaganya stabilitas sistem keuangan nasional maupun internasional. (MMS)


DIGIONARY:

● Kecerdasan Artifisial: Simulasi proses kecerdasan manusia oleh mesin atau sistem komputer untuk melakukan analisis data kompleks secara otomatis.
● Risiko Sistemik: Potensi kegagalan suatu lembaga keuangan yang dapat memicu efek domino dan melumpuhkan seluruh sistem keuangan.
● Siber: Segala hal yang berkaitan dengan dunia virtual, jaringan komputer, serta infrastruktur teknologi informasi digital.

#bankindonesia #destrydamayanti #kecerdasanartifisial #asetkripto #risikosiber #transformasidigital #stabilitaskeuangan #bmeb2026 #keuangandigital #makroprudensial #risikosistemik #perbankansentral #ekonomidigital #inovasikeuangan #regulasikeuangan #sistempembayaran #keamanansiber #perubahaniklim #risetbank #kebijakanmoneter

Comments are closed.