ILO: Hampir 80 Juta Pekerja di ASEAN Kini Gunakan AI, Ancaman PHK Massal Belum Terjadi

- 12 Juli 2026 - 15:09

Adopsi kecerdasan buatan (AI) di pasar tenaga kerja Asia Tenggara terus meningkat. Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) memperkirakan sekitar 80 juta pekerja atau 22,9% dari total tenaga kerja di ASEAN kini telah memanfaatkan AI dalam pekerjaannya. Namun, berbeda dengan kekhawatiran banyak pihak, ILO menilai AI belum memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) secara luas. Tantangan terbesar justru terletak pada kesiapan pemerintah, perusahaan, dan pekerja untuk beradaptasi dengan transformasi dunia kerja yang semakin cepat.


DIGI-HIGHLIGHTS:

■ ILO memperkirakan 80 juta pekerja atau 22,9% tenaga kerja ASEAN telah memanfaatkan AI dalam aktivitas pekerjaan sehari-hari.
■ AI belum memicu PHK massal. Teknologi ini lebih banyak mengubah cara bekerja dan meningkatkan produktivitas dibanding menggantikan pekerja.
■ ILO meminta pemerintah memperkuat tata kelola AI, meningkatkan keterampilan digital, dan menyiapkan pekerja menghadapi transformasi pasar kerja.


Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) bukan lagi sekadar teknologi masa depan. Di Asia Tenggara, AI telah menjadi bagian dari aktivitas kerja jutaan orang. Organisasi Perburuhan Internasional (International Labour Organization/ILO) memperkirakan hampir 80 juta pekerja di kawasan ASEAN kini memanfaatkan AI untuk mendukung pekerjaan sehari-hari. Meski adopsinya terus meluas, ILO menegaskan belum ada bukti bahwa teknologi tersebut memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam skala besar.

Dalam laporan terbarunya, ILO menyebut sekitar 22,9% dari seluruh lapangan kerja di negara-negara ASEAN telah mendapat dukungan AI. Dari jumlah tersebut, sekitar 11,7 juta pekerja atau 3,3% berada pada kategori pekerjaan dengan tingkat paparan AI yang tinggi. Sementara itu, sekitar 67% lapangan kerja masih tergolong memiliki paparan rendah terhadap teknologi tersebut.

Laporan yang dirilis pekan ini menunjukkan tren pemanfaatan AI telah meningkat secara konsisten sejak 2017 dan semakin cepat setelah hadirnya AI generatif seperti ChatGPT, Gemini, Claude, dan Copilot. Teknologi ini semakin banyak digunakan untuk membantu analisis data, penyusunan dokumen, pembuatan konten, layanan pelanggan, hingga pengambilan keputusan berbasis data.
Namun demikian, ILO menilai kekhawatiran bahwa AI akan langsung menggantikan manusia secara masif belum terbukti.

“Temuan ini menunjukkan semakin pentingnya pasar tenaga kerja bagi pekerjaan-pekerjaan di mana AI generatif dapat semakin membentuk kembali tugas dan proses kerja,” kata ILO dalam laporannya.

Menurut ILO, AI saat ini lebih banyak mengubah cara pekerjaan dilakukan dibanding menghilangkan jenis pekerjaan itu sendiri. Otomatisasi terjadi pada tugas-tugas tertentu, sementara manusia tetap memegang peran penting dalam pengambilan keputusan, kreativitas, komunikasi, dan penyelesaian masalah yang kompleks.

Jenis pekerjaan dengan tingkat paparan AI tertinggi antara lain analis keuangan, pengembang multimedia, pialang keuangan, analis data, serta berbagai profesi yang mengandalkan pemrosesan informasi digital. Di sektor-sektor tersebut, AI berfungsi sebagai alat bantu untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas.

Menariknya, temuan ILO justru berbeda dengan langkah sejumlah perusahaan teknologi global yang dalam dua tahun terakhir memangkas ribuan karyawan sebagai bagian dari restrukturisasi dan efisiensi setelah mengadopsi AI.

Menurut ILO, secara keseluruhan jumlah pekerjaan pada profesi dengan tingkat paparan AI tertinggi di kawasan ASEAN justru terus bertambah. “Meskipun beberapa perusahaan mengurangi jumlah karyawan atau membentuk kembali tenaga kerja mereka seiring dengan adopsi AI, lapangan kerja di bidang pekerjaan dengan paparan AI tertinggi terus berkembang di seluruh Asia Tenggara,” menurut temuan ILO.

Secara geografis, Singapura menjadi negara dengan tingkat paparan AI tertinggi di ASEAN. Sebanyak 42,2% lapangan kerja di negara tersebut telah memanfaatkan AI.

ILO menilai posisi Singapura didukung oleh infrastruktur digital yang matang, investasi besar dalam transformasi digital, kualitas sumber daya manusia yang tinggi, serta kebijakan pemerintah yang terintegrasi dalam pengembangan AI nasional.

Jika dikaitkan dengan industri perbankan, temuan ILO menjadi sangat relevan karena sebagian besar profesi di bank termasuk kategori pekerjaan yang memiliki paparan AI tinggi. Analis kredit, analis keuangan, manajer risiko, treasury, auditor internal, analis kepatuhan (compliance), hingga staf layanan nasabah kini semakin banyak memanfaatkan AI untuk mempercepat analisis data, mendeteksi transaksi mencurigakan, menyusun laporan, dan memberikan rekomendasi bisnis. AI mampu memangkas pekerjaan administratif yang selama ini menyita waktu, sehingga pegawai bank dapat lebih fokus pada pengambilan keputusan dan layanan kepada nasabah.

Namun, ILO menegaskan bahwa tingginya paparan AI tidak otomatis berarti pekerjaan di sektor perbankan akan hilang. Sebaliknya, peran pegawai bank diperkirakan akan bergeser dari pekerjaan rutin menuju fungsi yang membutuhkan penilaian profesional, kemampuan membangun hubungan dengan nasabah, pengawasan risiko, kepatuhan terhadap regulasi, serta pengambilan keputusan strategis. Dengan kata lain, AI akan menjadi co-pilot bagi pekerja perbankan, bukan pengganti mereka.

Bagi industri perbankan di Indonesia, temuan ini menjadi sinyal penting bahwa transformasi AI harus berjalan seiring dengan peningkatan kompetensi sumber daya manusia. Bank tidak cukup hanya berinvestasi pada teknologi, tetapi juga perlu memperkuat program reskilling dan upskilling agar karyawan mampu bekerja berdampingan dengan AI. Ke depan, daya saing bank tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan sistem AI yang dimiliki, tetapi juga oleh kemampuan SDM memanfaatkan teknologi tersebut secara produktif, aman, dan sesuai dengan prinsip tata kelola serta manajemen risiko.

Indonesia berada dalam kelompok negara dengan tingkat adopsi AI yang terus meningkat, bersama Filipina, Vietnam, dan Thailand. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah Indonesia juga mulai memperkuat ekosistem AI melalui penyusunan Strategi Nasional AI, pengembangan talenta digital, serta mendorong pemanfaatan AI di sektor industri, kesehatan, pendidikan, layanan publik, hingga sektor keuangan.

Meski demikian, ILO mengingatkan bahwa keberhasilan transformasi AI tidak ditentukan oleh seberapa cepat teknologi diadopsi, melainkan oleh kesiapan tenaga kerja untuk beradaptasi.

Karena itu, organisasi tersebut mendorong pemerintah memperkuat tata kelola AI (AI governance), memperluas program peningkatan keterampilan (reskilling dan upskilling), serta memastikan transformasi digital tetap berpusat pada manusia.

“Pada akhirnya, hasil pasar tenaga kerja di masa depan akan kurang bergantung pada paparan semata daripada pada pilihan kebijakan untuk membangun kesiapan dan ketahanan pekerja, perusahaan, dan lembaga untuk beradaptasi dan menavigasi transisi AI,” tegas ILO.

Pandangan tersebut sejalan dengan berbagai kajian global. World Economic Forum dalam Future of Jobs Report memperkirakan AI akan menggantikan sebagian jenis pekerjaan rutin, tetapi pada saat yang sama menciptakan jutaan profesi baru yang membutuhkan keterampilan digital, analisis data, keamanan siber, rekayasa AI, hingga manajemen teknologi.

Sementara itu, IMF memperkirakan sekitar 40% pekerjaan di tingkat global akan terdampak AI, dengan negara-negara maju menghadapi tingkat paparan lebih tinggi dibanding negara berkembang. Namun dampaknya diperkirakan lebih banyak berupa transformasi tugas kerja daripada hilangnya pekerjaan secara permanen.

Dengan kata lain, AI tidak sedang menghapus dunia kerja. Teknologi ini sedang mengubahnya. Keberhasilan setiap negara akan sangat ditentukan oleh kemampuan membangun tenaga kerja yang adaptif, meningkatkan literasi digital, serta menciptakan kebijakan yang mampu menjaga keseimbangan antara inovasi teknologi dan perlindungan pekerja. ●


DIGI-INSIGHTS:

Transformasi AI di dunia kerja memasuki fase yang lebih matang. Perdebatan tidak lagi berkisar pada apakah AI akan menggantikan manusia, tetapi bagaimana manusia dan AI dapat bekerja secara berdampingan. Temuan ILO memperlihatkan bahwa AI lebih banyak mengambil alih tugas-tugas rutin dan administratif, sementara pekerjaan yang membutuhkan kreativitas, empati, penilaian, serta kemampuan mengambil keputusan strategis tetap bergantung pada manusia. Dengan demikian, masa depan ketenagakerjaan lebih ditentukan oleh kolaborasi antara manusia dan mesin daripada kompetisi di antara keduanya.

Bagi negara-negara ASEAN, tantangan terbesar bukanlah kehilangan pekerjaan, melainkan kesenjangan keterampilan (skills gap). Adopsi AI yang berlangsung lebih cepat daripada peningkatan kompetensi tenaga kerja berpotensi menciptakan ketimpangan baru di pasar kerja. Pekerja yang mampu memanfaatkan AI akan mengalami peningkatan produktivitas dan nilai ekonomi, sedangkan mereka yang tidak memiliki literasi digital berisiko semakin tertinggal. Karena itu, investasi pada pendidikan, pelatihan ulang (reskilling), dan peningkatan keterampilan (upskilling) menjadi agenda yang sama pentingnya dengan investasi pada teknologi itu sendiri.

Bagi Indonesia, temuan ILO menjadi momentum untuk mempercepat pembangunan talenta digital nasional. Dengan bonus demografi yang masih berlangsung, Indonesia memiliki peluang besar menjadikan AI sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi dan daya saing industri. Namun peluang tersebut hanya dapat diwujudkan apabila pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan lembaga pelatihan mampu membangun ekosistem pembelajaran yang adaptif. Di era AI, keunggulan kompetitif suatu negara tidak lagi hanya diukur dari kecanggihan teknologinya, tetapi dari seberapa cepat sumber daya manusianya mampu belajar, beradaptasi, dan menciptakan nilai tambah dari teknologi tersebut. (NCK)


DIGIONARY:

● AI Governance: Tata kelola penggunaan AI agar aman, transparan, dan sesuai regulasi.
● Artificial Intelligence (AI): Teknologi yang memungkinkan komputer menjalankan fungsi yang biasanya membutuhkan kecerdasan manusia.
● ASEAN: Kawasan kerja sama ekonomi dan politik yang terdiri dari 10 negara Asia Tenggara.
● Generative AI: AI yang mampu menghasilkan teks, gambar, video, musik, maupun kode komputer berdasarkan perintah pengguna.
● ILO (International Labour Organization): Badan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menangani isu ketenagakerjaan global.
● Paparan AI: Tingkat kemungkinan suatu pekerjaan dipengaruhi atau dibantu oleh teknologi AI.
● Productivity: Kemampuan menghasilkan output lebih besar dengan sumber daya yang sama.
● Reskilling: Pelatihan untuk mempelajari keterampilan baru agar dapat beralih ke jenis pekerjaan yang berbeda.
● Upskilling: Proses meningkatkan keterampilan yang sudah dimiliki agar sesuai dengan kebutuhan pekerjaan baru.
● World Economic Forum (WEF): Organisasi internasional yang rutin menerbitkan analisis mengenai tren ekonomi dan masa depan dunia kerja.

#AI #ArtificialIntelligence #ILO #ASEAN #DuniaKerja #Pekerjaan #TransformasiDigital #FutureOfWork #GenerativeAI #Produktivitas #Reskilling #Upskilling #DigitalTalent #SDM #Teknologi #EkonomiDigital #Ketenagakerjaan #Inovasi #Indonesia #FutureJobs

Comments are closed.