Pertumbuhan perjalanan internasional masyarakat Indonesia dan meningkatnya mobilitas global mendorong kebutuhan layanan visa yang lebih cepat dan praktis. Menjawab kebutuhan tersebut, SPUN menggandeng Privy untuk menghadirkan proses pengajuan visa digital yang terintegrasi dengan identitas digital terverifikasi. Kolaborasi ini memungkinkan pengguna mengajukan visa tanpa registrasi berulang, sekaligus mempercepat proses verifikasi dokumen. Inisiatif tersebut hadir di tengah tren positif sektor pariwisata Indonesia yang mencatat pertumbuhan kunjungan wisatawan mancanegara dan peningkatan signifikan jumlah wisatawan Indonesia yang bepergian ke luar negeri.
DIGI-HIGHLIGHTS:
■ SPUN menjadi platform pengajuan visa digital pertama yang terintegrasi dengan Privy untuk menghadirkan proses registrasi dan verifikasi identitas yang lebih cepat.
■ Jumlah wisatawan Indonesia ke luar negeri mencapai 793,16 ribu perjalanan pada Maret 2026 atau tumbuh 36,26%, meningkatkan kebutuhan layanan visa yang efisien.
■ Integrasi identitas digital dinilai menjadi fondasi penting bagi pengembangan layanan perjalanan, keuangan digital, dan ekosistem ekonomi digital Indonesia.
Lonjakan mobilitas wisatawan Indonesia ke luar negeri mulai menciptakan kebutuhan baru: layanan visa yang cepat, praktis, dan sepenuhnya digital. Di tengah masih rumitnya proses pengajuan visa konvensional, platform pengajuan visa digital SPUN menggandeng Privy untuk memangkas berbagai tahapan administratif yang selama ini menjadi hambatan utama calon pelancong.
Sektor pariwisata Indonesia terus menunjukkan performa positif sepanjang 2026. Data Kementerian Pariwisata mencatat kunjungan wisatawan mancanegara pada periode Januari-April 2026 mencapai 4,68 juta kunjungan atau tumbuh 8,24% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak 2020.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyebut capaian tersebut sebagai bukti ketahanan industri pariwisata nasional di tengah dinamika geopolitik global yang memengaruhi pergerakan wisatawan internasional.
Tren serupa juga terlihat dari sisi wisatawan Indonesia yang bepergian ke luar negeri. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah perjalanan wisatawan nasional (wisnas) ke luar negeri pada Maret 2026 mencapai 793,16 ribu perjalanan, melonjak 36,26% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Namun, meningkatnya minat masyarakat untuk bepergian ke luar negeri masih dihadapkan pada persoalan klasik: proses pengajuan visa yang dianggap rumit dan memakan waktu.
Mulai dari pengumpulan dokumen yang beragam, ketentuan foto yang berbeda di setiap negara, hingga pengisian formulir yang berulang, menjadi tantangan yang sering membuat rencana perjalanan tertunda.
Melihat kondisi tersebut, platform pengajuan visa digital SPUN menggandeng Privy untuk menghadirkan proses pengajuan visa yang lebih sederhana melalui integrasi identitas digital.
Kolaborasi ini menjadikan SPUN sebagai platform pengajuan visa digital pertama yang terintegrasi dengan Privy, Penyelenggara Sertifikasi Elektronik (PSrE) yang memiliki mandat resmi untuk memverifikasi identitas pengguna dan menerbitkan sertifikat elektronik sebagai identitas digital.
Melalui integrasi tersebut, pengguna dapat langsung memulai pengajuan visa menggunakan fitur Login with Privy di situs SPUN maupun melalui fitur Privy Hub pada aplikasi Privy tanpa perlu melakukan registrasi ulang.
Langkah ini dinilai mampu mengurangi friksi dalam proses onboarding pengguna sekaligus meningkatkan pengalaman pelanggan (customer experience) dalam layanan digital.
Dalam kurun satu bulan sejak integrasi diluncurkan, ribuan pengguna tercatat telah mengakses layanan SPUN menggunakan identitas digital Privy.
Data tersebut menunjukkan bahwa penyederhanaan proses registrasi dan verifikasi menjadi faktor penting dalam mendorong adopsi layanan digital.
Transformasi digital kini tidak hanya terjadi di sektor perbankan dan layanan keuangan, tetapi juga merambah industri perjalanan dan pengurusan dokumen lintas negara. Identitas digital semakin menjadi fondasi penting dalam membangun layanan yang cepat, aman, dan efisien.
Menurut laporan berbagai lembaga riset global, penggunaan identitas digital diproyeksikan menjadi salah satu pilar utama ekonomi digital dunia dalam beberapa tahun ke depan karena mampu mengurangi risiko pemalsuan dokumen dan mempercepat proses verifikasi pengguna.
Untuk memperkenalkan layanan tersebut kepada masyarakat, SPUN dan Privy menggelar aktivasi edukatif bertajuk Kemudahan Pengajuan Visa Digital di Stasiun MRT Blok A, Jakarta, mulai 8 Juni hingga 7 Juli 2026.
CEO dan Co-Founder SPUN, Christa Sabathaly, mengatakan kehadiran aktivasi tersebut merupakan upaya perusahaan untuk mendekatkan layanan visa digital kepada masyarakat.
“Ini kali kedua SPUN mengadakan aktivasi interaktif di stasiun MRT; dan kami sengaja memilih MRT karena di sinilah orang-orang dari berbagai latar belakang bertemu setiap harinya. Profesional yang akan menghadiri conference, pelajar yang bermimpi kuliah di luar negeri, keluarga yang merencanakan liburan pertama mereka ke luar negeri. Orang bepergian bukan hanya untuk wisata; mereka bepergian untuk bertumbuh, untuk belajar, untuk membangun koneksi lintas budaya,” katanya.
Itulah mengapa, lanjut dia, dalam aktivasi ini SPUN juga menggandeng ChinaGo sebagai mitra destinasi China, serta AFS Bina Antar Budaya yang sudah puluhan tahun membuka pintu pertukaran pelajar internasional. “Karena kami percaya; selama ada alasan untuk pergi, visa tidak seharusnya menjadi penghalang,” ungkap Christa.
Selain menghadirkan pengalaman pengajuan visa digital, kegiatan tersebut juga melibatkan ChinaGo sebagai mitra destinasi wisata China serta AFS Bina Antar Budaya yang dikenal sebagai organisasi pertukaran pelajar internasional.
Digitalisasi Visa Semakin Relevan
Digitalisasi proses visa menjadi tren global seiring meningkatnya kebutuhan mobilitas lintas negara. Banyak negara kini mulai mengembangkan sistem e-Visa dan verifikasi identitas digital guna meningkatkan efisiensi layanan publik sekaligus memperkuat keamanan dokumen perjalanan.
Di Indonesia, perkembangan identitas digital dan tanda tangan elektronik tersertifikasi juga semakin relevan di tengah percepatan transformasi digital nasional. Integrasi antara platform layanan perjalanan dan penyedia identitas digital dinilai mampu menciptakan ekosistem yang lebih efisien, aman, dan mudah diakses masyarakat.
Ke depan, adopsi teknologi identitas digital diperkirakan akan semakin luas, tidak hanya untuk pengajuan visa, tetapi juga untuk layanan keuangan, perbankan digital, pendidikan internasional, hingga berbagai layanan publik berbasis digital. ●
DIGI-INSIGHTS:
Kolaborasi SPUN dan Privy menunjukkan bahwa identitas digital mulai berkembang menjadi infrastruktur penting dalam ekonomi digital Indonesia. Jika sebelumnya teknologi verifikasi identitas banyak digunakan di sektor perbankan digital dan fintech, kini pemanfaatannya meluas ke industri perjalanan internasional. Fenomena ini menegaskan bahwa kepercayaan digital (digital trust) menjadi fondasi utama dalam berbagai layanan berbasis internet.
Bagi industri perbankan, model integrasi seperti yang dilakukan SPUN dan Privy menawarkan gambaran masa depan layanan keuangan. Semakin banyak aktivitas pelanggan yang membutuhkan proses verifikasi cepat dan aman, mulai dari pembukaan rekening, pengajuan kredit, investasi hingga perjalanan internasional. Bank yang mampu mengintegrasikan identitas digital secara lebih luas berpotensi meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memperbaiki pengalaman nasabah.
Dalam jangka panjang, perkembangan identitas digital dapat menjadi katalis lahirnya ekosistem layanan lintas industri yang lebih terhubung. Perbankan, fintech, pariwisata, pendidikan internasional, dan layanan publik berpotensi menggunakan satu identitas digital yang sama untuk berbagai kebutuhan. Konvergensi ini bukan hanya menciptakan efisiensi biaya, tetapi juga membuka peluang model bisnis baru berbasis data, keamanan siber, dan layanan digital yang lebih personal. ●
DIGIONARY:
● Aktivasi Interaktif: Kegiatan promosi yang melibatkan partisipasi langsung masyarakat dalam sebuah pengalaman produk atau layanan.
● AFS Bina Antar Budaya: Organisasi pertukaran pelajar internasional yang berfokus pada pendidikan lintas budaya.
● Customer Experience: Pengalaman yang dirasakan pelanggan saat menggunakan suatu produk atau layanan.
● Digital Identity: Identitas elektronik yang digunakan untuk verifikasi pengguna secara digital.
● Ekonomi Digital: Aktivitas ekonomi yang didukung teknologi digital dan internet.
● e-Visa: Visa elektronik yang diajukan dan diterbitkan secara digital.
● Integrasi Sistem: Penggabungan dua atau lebih platform agar dapat saling terhubung dan bertukar data.
● Kementerian Pariwisata: Kementerian yang bertanggung jawab mengembangkan sektor pariwisata Indonesia.
● Login with Privy: Fitur autentikasi pengguna menggunakan identitas digital Privy.
● MRT: Moda Raya Terpadu, sistem transportasi massal berbasis rel di perkotaan.
● Onboarding: Proses awal registrasi dan verifikasi pengguna sebelum menggunakan layanan.
● PSrE: Penyelenggara Sertifikasi Elektronik yang diakui pemerintah untuk menerbitkan sertifikat elektronik.
● Privy: Penyedia layanan identitas digital dan tanda tangan elektronik tersertifikasi di Indonesia.
● SPUN: Platform digital yang menyediakan layanan pengajuan visa secara daring.
● Wisnas: Wisatawan nasional Indonesia yang melakukan perjalanan ke luar negeri.
#SPUN #Privy #VisaDigital #DigitalIdentity #PariwisataIndonesia #WisataLuarNegeri #TravelTech #TransformasiDigital #EkonomiDigital #eVisa #IdentitasDigital #PSrE #TourismIndonesia #DigitalTravel #CustomerExperience #MRTJakarta #ChinaGo #AFSBinaAntarBudaya #TravelIndustry #DigitalInnovation
