Backlog Rumah Masih Tinggi, BTN Perkuat Strategi Pembiayaan Menuju Swasembada Papan 2045

- 21 Mei 2026 - 19:47

Gagasan Swasembada Papan 2045 tampaknya mulai diarahkan menjadi agenda strategis nasional. Dalam peluncuran buku “Indonesia Menuju Swasembada Papan 2045” karya Fahri Hamzah, sektor perumahan diposisikan sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi nasional, pencipta lapangan kerja, sekaligus fondasi stabilitas sosial. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN menegaskan kesiapan memperkuat ekosistem pembiayaan perumahan melalui skema kredit jangka panjang dan pendekatan inklusif guna mengatasi backlog rumah yang masih mencapai 10-12 juta unit.


DIGI-HIGHLIGHTS:

■ Program 3 juta rumah diposisikan sebagai strategi transformasi ekonomi nasional, bukan sekadar proyek properti pemerintah.
■ BTN memperkuat pembiayaan hunian jangka panjang hingga 40 tahun agar rumah tetap terjangkau bagi MBR.
■ Backlog rumah 10-12 juta unit dan tingginya RTLH menjadi tantangan utama menuju Swasembada Papan 2045.


Sektor perumahan mulai dipandang sebagai instrumen strategis pembangunan nasional, bukan lagi sekadar urusan menyediakan tempat tinggal. Pemerintah bersama industri perbankan kini mendorong sektor hunian menjadi penggerak ekonomi baru yang diyakini mampu menopang pertumbuhan nasional hingga 8%.

Arah besar tersebut mengemuka dalam peluncuran dan bedah buku “Indonesia Menuju Swasembada Papan 2045” yang ditulis Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman sekaligus Komisaris PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, Fahri Hamzah, di Menara 2 BTN, Jakarta, Kamis (21/5).

Peluncuran buku ini mempertemukan sejumlah pemangku kepentingan sektor perumahan nasional, mulai dari Ketua Satgas Perumahan Hashim Djojohadikusumo, jajaran direksi BTN, hingga pelaku industri properti dan pembiayaan.

Acara peluncuran buku “Indonesia Menuju Swasembada Papan 2045” karya Fahri Hamzah. (Foto: Dok. BTN)

Ketua Satgas Perumahan Hashim Djojohadikusumo mengatakan, visi swasembada papan memiliki kesinambungan historis dengan gagasan pembangunan ekonomi nasional yang pernah dirancang tokoh-tokoh ekonomi Indonesia terdahulu.

“Ini adalah kerja panjang yang melibatkan antargenerasi. Satgas Perumahan kini tengah mengorkestrasi strategi besar untuk mempercepat program 3 juta rumah. Fokus kami jelas, memastikan program ini tepat sasaran bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR),” ujar Hashim.

Menurutnya, program pembangunan 3 juta rumah tidak bisa dipahami hanya sebagai agenda konstruksi fisik. Program tersebut memiliki efek berantai besar terhadap sektor ekonomi lain, mulai dari industri semen, baja, keramik, furnitur, logistik, hingga pembiayaan perbankan.

Di sisi lain, Fahri Hamzah menilai persoalan hunian di Indonesia sudah masuk kategori struktural. Backlog kepemilikan rumah yang masih berada di kisaran 10-12 juta unit menunjukkan akses masyarakat terhadap hunian layak masih menjadi pekerjaan rumah besar pemerintah.

Tidak hanya itu, sekitar 20 juta masyarakat masih tinggal di rumah tidak layak huni (RTLH). “Bahkan, sekitar 6 juta orang di antaranya tinggal di rumah yang tidak layak, dan rumah itu pun bukan milik mereka sendiri,” kata Fahri.

Ia menegaskan, konsep Swasembada Papan 2045 diarahkan untuk memastikan seluruh masyarakat Indonesia memiliki akses terhadap hunian yang layak, terjangkau, dan berkelanjutan pada saat Indonesia memasuki usia 100 tahun kemerdekaan. “Program 3 juta rumah adalah bagian dari strategi transformasi bangsa. Jangan dianggap itu proyek properti biasa,” ujar Fahri.

BTN Siapkan Skema Pembiayaan Jangka Panjang

Sebagai bank dengan portofolio pembiayaan perumahan terbesar di Indonesia, BTN menilai keberhasilan agenda swasembada papan akan sangat bergantung pada keberlanjutan pembiayaan murah jangka panjang.

Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu mengatakan, perseroan tengah menyusun peta jalan strategis agar akses pembiayaan rumah dapat menjangkau masyarakat formal maupun informal.

“Kami menyusun peta jalan strategis ini agar tidak ada masyarakat yang tertinggal. Sinergi antara Satgas Perumahan, kementerian, dan BTN akan menjadi kunci utama mewujudkan Swasembada Papan 2045,” ujar Nixon.

BTN juga membuka opsi tenor kredit yang lebih panjang, mulai dari 20 tahun hingga 40 tahun, guna menjaga keterjangkauan cicilan di tengah harga tanah dan rumah yang terus meningkat.

Menurut Nixon, tantangan utama industri perumahan Indonesia saat ini bukan hanya membangun rumah, melainkan mencari sumber pendanaan murah berjangka panjang yang mampu menjaga cicilan tetap terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

“Definisi murah ini bisa macam-macam. Namun bagi kami (BTN), indikator utamanya adalah keterjangkauan (affordable). Di situlah challenge-nya, bagaimana merumuskan instrumen pembiayaan yang pas agar cicilan rumah tidak mencekik kantong rakyat,” tegasnya.

Perumahan Jadi Mesin Ekonomi Baru

Data Kementerian PUPR dan BP Tapera menunjukkan sektor perumahan memiliki multiplier effect besar terhadap perekonomian nasional karena berkaitan langsung dengan lebih dari 180 subsektor industri. Setiap pembangunan rumah baru menciptakan permintaan terhadap bahan bangunan, tenaga kerja konstruksi, jasa transportasi, hingga layanan keuangan.

Di tengah perlambatan global dan tekanan daya beli masyarakat, sektor perumahan mulai dipandang sebagai salah satu mesin pertumbuhan domestik yang paling realistis untuk menjaga konsumsi dan menciptakan lapangan kerja. Bank Indonesia sebelumnya juga mencatat kredit properti tetap menjadi salah satu penopang pertumbuhan kredit nasional dalam beberapa tahun terakhir, terutama pada segmen rumah tapak dan KPR subsidi. ●


DIGI-INSIGHTS:

Di balik narasi “Swasembada Papan 2045”, sebenarnya sedang terbentuk reposisi besar sektor perumahan dalam strategi ekonomi Indonesia. Selama puluhan tahun, perumahan dipandang sebagai sektor sosial yang bergantung pada subsidi pemerintah. Kini arahnya berubah: perumahan mulai ditempatkan sebagai mesin pertumbuhan ekonomi domestik, instrumen stabilitas sosial, sekaligus alat redistribusi kesejahteraan. Agenda ini bukan sekadar membangun jutaan rumah, melainkan membangun “economic ecosystem” baru berbasis konsumsi domestik, urbanisasi, dan pembiayaan jangka panjang. Tantangan terbesarnya justru bukan pada pembangunan fisik, melainkan bagaimana Indonesia menciptakan sumber dana murah berjangka panjang seperti pension fund, sovereign housing fund, atau secondary mortgage market agar tenor 30-40 tahun tetap sehat bagi perbankan. Di titik ini, BTN sedang mencoba berevolusi dari sekadar bank KPR menjadi orkestrator ekosistem perumahan nasional. Jika berhasil, sektor perumahan bisa menjadi salah satu jangkar pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah melemahnya ketergantungan pada komoditas dan ekspor sumber daya alam. ●


DIGIONARY:

● Affordable: Kondisi harga atau cicilan yang masih mampu dijangkau daya beli masyarakat.
● Backlog Perumahan: Kesenjangan antara jumlah rumah yang tersedia dengan kebutuhan rumah masyarakat.
● Kredit Pemilikan Rumah (KPR): Fasilitas pembiayaan dari bank untuk membeli rumah dengan sistem cicilan.
● MBR (Masyarakat Berpenghasilan Rendah): Kelompok masyarakat dengan penghasilan terbatas yang menjadi target program rumah subsidi.
● Roadmap: Peta jalan strategis untuk mencapai target atau tujuan jangka panjang.
● RTLH (Rumah Tidak Layak Huni): Rumah yang tidak memenuhi standar dasar kelayakan tempat tinggal.
● Swasembada Papan: Kondisi ketika seluruh masyarakat memiliki akses terhadap hunian layak dan terjangkau secara mandiri dan berkelanjutan.
● Tenor: Jangka waktu pinjaman atau kredit.
● Transformasi Ekonomi: Perubahan struktur ekonomi menuju sistem yang lebih produktif dan berkelanjutan.

#BTN #SwasembadaPapan2045 #PerumahanNasional #KPR #Program3JutaRumah #BacklogPerumahan #RumahSubsidi #BTNProperty #PembiayaanPerumahan #EkonomiIndonesia #MBR #PropertiIndonesia #HousingFinance #FLPP #BPtapera #KreditPerumahan #IndustriProperti #TransformasiEkonomi #PerbankanIndonesia #HunianTerjangkau

Comments are closed.