DBS Bank memperkenalkan mekanisme baru untuk mencegah penipuan dengan menambahkan pertanyaan interaktif sebelum transaksi berisiko tinggi dilakukan. Strategi ini dirancang sebagai “cognitive break” untuk menghentikan keputusan impulsif korban scam, seiring meningkatnya kasus penipuan berbasis rekayasa sosial yang kini mendominasi kejahatan finansial.
Fokus:
■ DBS menerapkan pertanyaan tambahan untuk transfer berisiko tinggi guna mencegah scam berbasis manipulasi psikologis.
■ Mayoritas kasus penipuan kini berasal dari transaksi yang disetujui korban sendiri (authorized scams).
■Pendekatan baru menggabungkan teknologi, data perilaku, dan intervensi manusia dalam sistem keamanan perbankan.
Mengirim uang lewat mobile banking selama ini terasa sederhana: pilih penerima, masukkan nominal, klik kirim. Namun dalam waktu dekat, proses itu akan berubah—setidaknya bagi nasabah DBS Bank. Bank terbesar di Singapura ini bersiap menambahkan lapisan baru dalam setiap transaksi berisiko tinggi: pertanyaan yang memaksa nasabah berhenti sejenak dan berpikir ulang.
Dalam beberapa bulan ke depan, nasabah DBS yang melakukan transfer berisiko tinggi tidak lagi cukup hanya mengandalkan otentikasi teknis. Mereka juga harus menjawab pertanyaan seperti: siapa yang meminta transfer, atau apakah mereka benar-benar mengenal penerima dana?
Langkah ini bukan sekadar tambahan fitur. Menurut Head of Group Investigations and Fraud Advisory DBS, Yin Juon Qiang, pendekatan ini dirancang sebagai “cognitive break”—interupsi psikologis untuk menghentikan korban dari keputusan impulsif.
Alih-alih hanya mengandalkan sistem keamanan di belakang layar, DBS kini mencoba masuk ke “momen keputusan” nasabah.
Masalah Besar: Korban Justru Ikut Mengirim Uang
Fenomena yang dihadapi perbankan saat ini bukan lagi sekadar peretasan akun, melainkan penipuan yang lebih halus: korban secara sadar mentransfer uangnya sendiri.
Data otoritas Singapura menunjukkan bahwa pada 2025, sekitar 81,8% kasus scam termasuk kategori authorized scams—di mana korban tertipu melalui rekayasa sosial, seperti penipuan investasi, impersonasi pejabat, hingga romance scam.
Ini membuat pendekatan lama—yang fokus pada pencegahan akses ilegal—menjadi kurang efektif. “Ini bukan tentang satu kontrol statis; ini tentang sistem yang bisa beradaptasi secara dinamis,” ujar Yin seperti dikutip The Straits Times.
Teknologi + Psikologi + Intervensi
DBS sebenarnya sudah memiliki berbagai lapisan keamanan:
● Deteksi pola transaksi tidak biasa.
● Analisis perubahan perangkat pengguna.
● Penundaan transaksi berisiko tinggi.
● Panggilan langsung dari tim anti-scam.
Namun kini, pendekatannya diperluas dengan elemen perilaku manusia. Prompt yang muncul akan disesuaikan, misalnya:
● “Apakah Anda diminta mentransfer uang untuk investasi?”
●,“Apakah Anda pernah bertemu penerima ini secara langsung?”
Untuk nasabah lansia, tampilan bahkan dibuat lebih besar dan visual lebih tegas—mengakui bahwa kelompok ini sering menjadi target utama penipuan.
Pelajaran dari Kasus Besar
Langkah DBS tidak lepas dari pengalaman pahit industri perbankan Singapura, termasuk kasus phishing besar yang menimpa OCBC Bank pada 2021–2022, yang menyebabkan kerugian sekitar US$13,7 juta.
Sejak saat itu, regulator seperti Monetary Authority of Singapore mewajibkan berbagai kontrol antara lain:
● Masa tunggu 12 jam untuk penambahan penerima baru.
● Notifikasi real-time untuk perubahan limit transaksi.
● Verifikasi tambahan untuk transaksi besar.
Namun, kontrol massal ini berdampak pada semua pengguna, termasuk lebih dari 99,9% transaksi yang sebenarnya sah. Karena itu, DBS kini beralih ke pendekatan yang lebih targeted dan kontekstual.
Ketika AI dan Data Jadi Garda Depan
Setiap hari, jutaan transaksi dianalisis oleh sistem DBS untuk mendeteksi anomali. Namun tantangan ke depan semakin kompleks. Tren terbaru menunjukkan pelaku scam mulai mendorong korban membeli aset fisik seperti emas batangan—lebih sulit dilacak dibanding transfer digital.
Di sisi lain, penggunaan AI oleh pelaku kejahatan juga meningkat, mulai dari deepfake hingga chatbot penipuan. Artinya, perang melawan fraud kini bukan hanya soal teknologi, tetapi juga perang memperebutkan keputusan manusia dalam hitungan detik.
Paradigma Baru Keamanan Perbankan
Yang dilakukan DBS menandai perubahan penting: keamanan tidak lagi hanya berada di sistem backend, tetapi masuk ke pengalaman pengguna. Bank tidak lagi sekadar “mengizinkan atau menolak” transaksi. Mereka mulai mempengaruhi keputusan nasabah secara aktif.
Pendekatan ini bisa menjadi standar baru industri, terutama di tengah meningkatnya kompleksitas kejahatan finansial digital di Asia.
Digionary:
● Authorized Scam: Penipuan di mana korban secara sadar mentransfer uang karena manipulasi
● Cognitive Break: Interupsi psikologis untuk menghentikan keputusan impulsif
● Fraud: Tindakan penipuan untuk keuntungan finansial
● Phishing: Upaya mencuri data melalui tautan atau pesan palsu
● Real-time Alert: Notifikasi langsung saat terjadi aktivitas transaksi
● Social Engineering: Teknik manipulasi psikologis untuk menipu korban
● Transaction Monitoring: Pemantauan aktivitas transaksi untuk mendeteksi anomali
#DBSBank #AntiScam #CyberSecurity #DigitalBanking #FraudPrevention #Fintech #KeamananDigital #ScamAlert #PerbankanDigital #AI #FinancialSecurity #BankingInnovation #SocialEngineering #Phishing #DataSecurity #FintechAsia #DigitalFinance #FraudDetection #SmartBanking #CyberCrime
