Bukan Lagi Minoritas, Perempuan Bangladesh Kini Membentuk Arah Baru Industri Perbankan

- 20 Januari 2026 - 07:03

Industri perbankan Bangladesh tengah mengalami transformasi senyap namun mendasar. Di balik digitalisasi, strategi merek, dan manajemen nasabah, perempuan kini memainkan peran kunci—bukan sekadar pelengkap, melainkan penentu arah. Dari CTO bank hingga pemimpin strategi fintech, gaya kepemimpinan yang inklusif, berbasis empati, dan adaptif mulai membentuk wajah baru perbankan modern dan ini semua dikemas thedailystar.net dalam tulisan yang sangat menarik.


Fokus:

■ Perempuan kini menjadi pengambil keputusan strategis di perbankan, dari teknologi hingga manajemen kekayaan.
■ Kecerdasan emosional dan inklusivitas terbukti memperkuat daya saing bank di era digital.
■ Kepemimpinan perempuan membentuk budaya perbankan yang lebih adaptif, kolaboratif, dan berkelanjutan.


Perubahan besar dalam industri perbankan jarang datang lewat gebrakan dramatis. Ia tumbuh pelan—dari kebijakan cuti melahirkan yang lebih manusiawi, cara bank berbicara kepada nasabah, hingga keputusan strategis di ruang rapat tertinggi. Di Bangladesh, perubahan itu kini memiliki wajah yang semakin jelas: perempuan.


Di tengah lanskap keuangan Bangladesh yang kian kompleks dan digital, sebuah revolusi kepemimpinan sedang berlangsung. Perempuan—yang selama puluhan tahun berada di pinggir industri perbankan—kini ikut menentukan arah, menantang pola lama, dan membangun sistem yang lebih inklusif tanpa kehilangan ketegasan bisnis.

Dari kantor cabang hingga ruang direksi, dari infrastruktur teknologi hingga strategi merek, peran perempuan tidak lagi bersifat simbolik. Mereka hadir sebagai pengambil keputusan yang menggabungkan ketangguhan profesional dengan kecerdasan emosional—dua kualitas yang kini semakin relevan di industri keuangan global.

Teknologi, Rasa Ingin Tahu, dan Jalan Panjang ke Puncak

Bagi Nurun Nahar Begum, Chief Technology Officer BRAC Bank PLC, dunia perbankan justru berawal dari kabel, lampu, dan radio. Ketertarikannya pada teknologi tumbuh sejak masa ketika komputer masih menjadi barang langka di Bangladesh.

Meski meraih gelar Master di bidang Keuangan dan Perbankan, Begum merasa ada yang kurang. Ia lalu mengambil diploma pemrograman selama satu tahun—keputusan yang pada masanya nyaris tak lazim bagi perempuan.

“Saya tidak pernah mendengar keluarga saya berkata bahwa saya tidak bisa melakukan sesuatu. Mereka hanya meminta saya belajar dengan sungguh-sungguh dan melakukan sesuatu yang berarti dalam hidup,” ujarnya.

Ketika bergabung dengan BRAC Bank yang sudah sepenuhnya terdigitalisasi, Begum dihadapkan pada pilihan jalur karier: perbankan cabang atau teknologi.
“Saya bukan orang penjualan. Saya pemecah masalah dan senang memahami proses dari hulu ke hilir. Teknologi memberi ruang itu,” jelasnya.

Ia memulai dari level terendah dan kini memimpin divisi teknologi—mengarahkan transformasi digital bank sekaligus membuka jalan bagi lebih banyak perempuan di ranah teknologi finansial.

Masuk Dunia Bank Tanpa Rencana, Bertahan dengan Nilai

Di sisi lain industri, Sarmin Atik, Executive Vice President dan Head of Liability and Wealth Management Eastern Bank Limited, menemukan panggilannya di dunia perbankan tanpa perencanaan matang. “Ayah saya seorang banker, mungkin itu menanam benih awal. Tapi saya tidak pernah merencanakan menjadi banker,” katanya.

Dua dekade lalu, perempuan di posisi kepemimpinan masih langka. Kini, Atik menyaksikan perubahan nyata. “Perempuan di perbankan sekarang lebih aktif, fokus, dan seimbang. Kami saling mendukung, dan solidaritas itu mengubah kehadiran kami,” ujarnya.

Namun ia juga menyampaikan pengakuan yang jarang diungkap. “Tanpa dukungan para pria dalam hidup kami—ayah, suami, rekan kerja—banyak perjalanan akan jauh lebih sulit. Kemajuan sejati tidak pernah sepihak. Itu terjadi ketika laki-laki dan perempuan bergerak bersama.”

Baginya, kepemimpinan bukan soal suara paling keras, melainkan memberi ruang bagi suara lain. Kecerdasan emosional bukan pelengkap, melainkan alat inti dalam pengambilan keputusan finansial.

“Angka penting, tetapi hanya menceritakan sebagian kisah. Manusialah yang melengkapinya,” tegasnya.

Membaca Manusia, Bukan Sekadar Data

Di persimpangan fintech dan strategi merek, Ummiya Rahman, SVP Brand Strategy and Consumer Insights bKash, mengubah cara layanan keuangan berbicara kepada publik.

Minatnya bukan lahir dari ruang kelas pemasaran, melainkan dari laboratorium teknik dan dunia telekomunikasi. “Saya selalu bertanya bagaimana solusi yang kita bangun memengaruhi perilaku. Strategi tidak hanya soal apa yang orang lakukan, tetapi mengapa mereka melakukannya,” jelasnya.

Di tengah industri keuangan yang produknya kian seragam, Rahman menilai diferensiasi sejati lahir dari pemahaman perilaku manusia. “Strategi merek adalah campuran ilmu perilaku, data, dan kreativitas. Membangun merek dimulai jauh sebelum eksekusi,” katanya.

Kini, ia aktif membimbing generasi muda agar tak menyamakan kecepatan dengan dampak. “Lebih banyak perempuan kini memengaruhi strategi dan keputusan. Tapi keberlanjutan membutuhkan lingkungan yang benar-benar mendukung pertumbuhan,” ujarnya.

Menulis Ulang Budaya Perbankan

Benang merah dari ketiga sosok ini bukan sekadar gender, melainkan agensi—kemampuan mengubah sistem dari dalam. Mereka memasuki industri yang lama didominasi laki-laki dan perlahan menulis ulang budayanya.

Perbankan Bangladesh hari ini lebih digital, lebih terbuka pada kolaborasi, dan lebih selaras dengan praktik global. Kepemimpinan perempuan berperan besar dalam pergeseran ini—menciptakan ruang di mana empati berjalan seiring disiplin bisnis.

Pertanyaannya kini bukan lagi, apakah perempuan bisa memimpin perbankan. Mereka sudah melakukannya. Pertanyaan sesungguhnya adalah: sejauh apa generasi berikutnya akan melanjutkan perubahan ini?

Ilustrasi: protomalo.com


Digionary:

● C-Suite: Posisi eksekutif puncak perusahaan.
● Empati Kepemimpinan: Pendekatan kepemimpinan yang mengutamakan pemahaman manusia.
● Fintech: Teknologi yang digunakan untuk meningkatkan layanan keuangan.
● Inklusi: Upaya memastikan akses dan partisipasi yang setara dalam organisasi.
● Transformasi Digital: Perubahan operasional berbasis teknologi digital.

#Perbankan #KepemimpinanPerempuan #WomenInBanking #BankingLeadership #FintechAsia #InklusiKeuangan #DigitalBanking #EmpatiBisnis #CLevel #PerempuanPemimpin #BankModern #StrategiPerbankan #TransformasiDigital #FinancialLeadership #BankAsiaSelatan #WomenInFinance #BudayaPerbankan #InclusiveLeadership #FutureOfBanking #BankingTransformation

Comments are closed.