Permata Bank Siapkan Paylater, Sinyal Kuat BNPL Menjadi Bagian Sistem Keuangan Formal

- 16 Januari 2026 - 12:02

PT Bank Permata Tbk. menyatakan tengah mengkaji pengembangan produk buy now pay later (BNPL) seiring dorongan regulator agar perbankan ikut masuk ke ekosistem paylater. Langkah ini menandai fase baru persaingan pembiayaan konsumer, di mana bank mulai menimbang peluang sekaligus risiko dari model pembiayaan instan yang selama ini didominasi fintech.


Fokus Utama:

■ Permata Bank mengkaji produk BNPL sebagai respons atas dorongan OJK dan perubahan perilaku konsumsi digital.
■ Peluncuran paylater masih menunggu hasil assessment menyeluruh terkait risiko, model bisnis, dan kepatuhan regulasi.
■ Permata menilai kerja sama dengan P2P lending akan semakin selektif, berbasis kinerja dan kualitas portofolio.


Model pembiayaan beli sekarang bayar nanti kian sulit diabaikan industri perbankan. Di tengah pertumbuhan transaksi digital dan dorongan regulator, Permata Bank mulai membuka pintu masuk ke bisnis paylater—meski dengan sikap hati-hati dan penuh perhitungan.


PT Bank Permata Tbk. (BNLI) tengah mengkaji pengembangan produk buy now pay later (BNPL) atau paylater. Inisiatif ini sejalan dengan dorongan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar perbankan ikut terlibat dalam pengembangan produk pembiayaan konsumsi berbasis digital.

Division Head Consumer Lending Permata Bank, Haryanto, mengatakan saat ini pihaknya masih berada pada tahap penilaian menyeluruh terhadap pengembangan produk tersebut. “Sedang kami assess, jadi yang paylater termasuk juga dari kebijakan terbaru dari regulator itu kami sedang melakukan assessment untuk paylater,” kata Haryanto mengutip CNBC, Rabu (14/1).

Menurut dia, Permata Bank belum dapat menyampaikan detail lebih lanjut terkait waktu peluncuran maupun skema produk. Seluruh keputusan akan ditentukan setelah proses kajian internal selesai. “Oh belum, belum bisa saya sampaikan. Nanti kalau sudah dirilis nanti kami bisa sampaikan ya, hasil assessment-nya,” pungkasnya.

Sementara menunggu hasil kajian paylater, Permata Bank saat ini telah aktif menjalin kerja sama dengan perusahaan peer to peer (P2P) lending. Kerja sama tersebut difokuskan pada skema channeling pembiayaan konsumer sebagai bagian dari upaya memperluas inklusi keuangan.

Haryanto menilai kemitraan antara bank dan P2P lending akan semakin selektif ke depan. Kinerja penyaluran dan kualitas portofolio akan menjadi faktor utama dalam menentukan keberlanjutan kolaborasi.

“Jadi P2P yang baik performance-nya itu pasti akan menjadi inceran ya atau sasaran kerja sama dari berbagai bank. Demikian juga bank yang membuka diri atau juga open untuk kerja sama dengan P2P, itu juga pasti P2P-nya akan menjadi preferensi untuk memilih bank mana yang kerja sama,” terang Haryanto.

Langkah Permata Bank mencerminkan tren yang lebih luas di industri keuangan. Paylater yang awalnya tumbuh pesat di ekosistem e-commerce dan fintech kini mulai dilirik perbankan, seiring meningkatnya transaksi digital dan kebutuhan pembiayaan konsumsi jangka pendek. Data OJK menunjukkan transaksi BNPL terus meningkat, namun diiringi perhatian regulator terhadap risiko gagal bayar dan perlindungan konsumen.

Perkembangan BNPL di Regional dan Global

BNPL bukan lagi sekadar inovasi agresif ala startup fintech. Di berbagai belahan dunia—dari Amerika Serikat, Eropa, hingga Asia Pasifik—bank-bank besar kini justru berada di garis depan bisnis “beli sekarang, bayar nanti”. Bukan karena tergoda tren, melainkan karena regulator dan pasar menyadari satu hal: kredit konsumsi digital tanpa pengawasan berpotensi menjadi risiko sistemik.

Dalam lima tahun terakhir, BNPL tumbuh eksplosif. Model cicilan tanpa kartu kredit menarik jutaan konsumen muda dan mendorong lonjakan transaksi e-commerce. Namun di balik pertumbuhan itu, regulator mulai mencium bahaya: meningkatnya gagal bayar, praktik over-lending, serta absennya perlindungan konsumen. Di titik inilah bank masuk.

Di Amerika Serikat, JPMorgan Chase meluncurkan My Chase Plan, disusul Citibank dengan Flex Pay dan Bank of America dengan skema cicilan berbasis kartu. Di Inggris, Barclays dan HSBC mengembangkan produk serupa setelah Financial Conduct Authority (FCA) memasukkan BNPL ke dalam rezim kredit konsumen. Australia—pasar BNPL terbesar dunia—menjadi contoh paling jelas. Commonwealth Bank of Australia meluncurkan StepPay untuk menyaingi Afterpay dan Zip, tepat setelah regulator memperketat aturan BNPL.

Pola yang sama terlihat di Asia. DBS, OCBC, dan UOB di Singapura menawarkan paylater berbasis rekening bank. Jepang melalui MUFG dan SMBC mengembangkan cicilan digital yang terhubung langsung dengan sistem perbankan inti. Bahkan di India, bank-bank besar seperti State Bank of India dan HDFC Bank masuk BNPL dengan syarat terhubung ke biro kredit nasional.

Langkah bank-bank Indonesia mengkaji atau mengembangkan BNPL—seperti yang dilakukan Permata Bank—sejalan dengan tren global. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) secara terbuka mendorong perbankan masuk ke bisnis ini, bukan untuk mematikan fintech, tetapi untuk menyeimbangkan ekosistem.

Di Indonesia, penetrasi BNPL tumbuh cepat seiring lonjakan transaksi digital dan e-commerce. Namun, karakter pasar domestik—tingginya penggunaan aplikasi pesan instan, super apps, dan dompet digital—membuat risiko over-extension kredit semakin nyata.

Masuknya bank membawa pesan jelas bahwa BNPL harus menjadi bagian dari sistem keuangan formal, bukan kredit bayangan di luar pengawasan.

Ilustrasi: kr-asia.com


Digionary:

● Assessment: Proses evaluasi menyeluruh untuk menilai kelayakan produk, risiko, dan kesiapan operasional.
● BNPL (Buy Now Pay Later): Skema pembiayaan yang memungkinkan konsumen membeli barang sekarang dan membayar di kemudian hari.
● Channeling: Skema penyaluran pembiayaan melalui kerja sama antara bank dan lembaga keuangan lain.
● Inklusi Keuangan: Upaya memperluas akses masyarakat terhadap layanan keuangan formal.
● P2P Lending: Platform pinjam-meminjam berbasis teknologi yang mempertemukan pemberi dan penerima dana secara digital.

#PermataBank #Paylater #BNPL #PerbankanDigital #OJK #InklusiKeuangan #PembiayaanKonsumer #FintechIndonesia #P2PLending #BankDigital #KeuanganDigital #ProdukPerbankan #TransformasiBank #EkonomiDigital #KreditKonsumen #RegulasiKeuangan #IndustriKeuangan #PembiayaanDigital #KolaborasiBankFintech #FinansialIndonesia

Comments are closed.