WEF Ramal Badai PHK Global Berlanjut Sampai 2030! Bagaimana Nasib Pekerja Sektor Jasa Keuangan?

- 9 Januari 2026 - 17:31

Pasar tenaga kerja global memasuki fase paling menantang dalam satu dekade terakhir. Laporan terbaru World Economic Forum (WEF) memperingatkan bahwa gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) tidak hanya berlanjut pada 2026, tetapi berpotensi berlangsung hingga 2030. Kecerdasan buatan (AI), otomatisasi, dan ketidakpastian ekonomi global menjadi pendorong utama. Di balik ancaman tersebut, muncul paradoks baru: jutaan pekerjaan terancam hilang, sementara permintaan terhadap keterampilan AI justru melonjak tajam.


Fokus Utama:

■ Gelombang PHK global diprediksi berlanjut hingga 2030 akibat AI dan ketidakpastian ekonomi.
■ Pergeseran besar dari pekerjaan administratif ke peran berbasis teknologi dan kolaborasi AI.
■ Reskilling dan upskilling menjadi kunci bertahan di pasar kerja masa depan.


Pergantian tahun tak otomatis membawa kabar baik bagi dunia kerja. Di balik optimisme teknologi dan pertumbuhan ekonomi digital, pasar tenaga kerja global justru dibayangi ancaman panjang pemutusan hubungan kerja. World Economic Forum memperkirakan, gelombang PHK yang kini berlangsung tidak akan mereda dalam waktu dekat—bahkan bisa menjadi “normal baru” hingga akhir dekade ini.


Proyeksi suram itu datang dari laporan Future of Jobs Report yang dirilis World Economic Forum (WEF). Lembaga tersebut menilai bahwa kombinasi kecerdasan buatan, otomatisasi, dan ketidakpastian ekonomi global tengah membentuk ulang lanskap pekerjaan secara fundamental. Dampaknya bukan bersifat sementara, melainkan struktural.

Survei terbaru WEF mencatat, 41% perusahaan di seluruh dunia menyatakan berencana melakukan pengurangan karyawan secara signifikan hingga 2030. Angka ini mencerminkan skala perubahan yang belum pernah terjadi sebelumnya, terutama karena banyak fungsi kerja kini dapat dijalankan oleh mesin dan algoritma dengan biaya lebih rendah dan efisiensi lebih tinggi.

Namun, narasi PHK ini tidak berdiri sendiri. Di sisi lain, 77% perusahaan besar global justru mengaku berencana melatih ulang dan meningkatkan keterampilan tenaga kerja mereka pada periode 2025–2030. Tujuannya satu: agar manusia dapat bekerja berdampingan dengan AI, bukan sepenuhnya tersingkir olehnya.

“Perkembangan AI dan energi terbarukan tengah membentuk ulang pasar tenaga kerja, mendorong meningkatnya permintaan untuk banyak peran teknologi atau spesialis, sekaligus menurunkan kebutuhan untuk pekerjaan lain, seperti desainer grafis,” kata WEF, dikutip dari CNN International.

Managing Director WEF Saadia Zahidi menekankan bahwa AI generatif memainkan peran kunci dalam perubahan ini. Teknologi yang mampu menghasilkan teks, gambar, dan konten orisinal tersebut telah melampaui sekadar alat bantu, dan mulai mengambil alih tugas-tugas berbasis pengetahuan.

Dampaknya terlihat nyata. Pekerjaan seperti petugas layanan pos, sekretaris eksekutif, hingga petugas penggajian diprediksi mengalami penurunan tercepat dalam beberapa tahun ke depan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah laporan Future of Jobs, profesi seperti desainer grafis dan sekretaris hukum masuk dalam daftar sepuluh besar pekerjaan yang paling cepat menyusut.

“Masuknya desainer grafis dan sekretaris hukum ke daftar sepuluh besar pekerjaan yang paling cepat menurun untuk pertama kalinya dalam sejarah laporan Future of Jobs mungkin menggambarkan meningkatnya kapasitas GenAI dalam mengerjakan pekerjaan berbasis pengetahuan,” tulis laporan tersebut.

Sebaliknya, keterampilan yang berkaitan dengan AI justru melonjak tajam. Hampir 70% perusahaan global berencana merekrut tenaga kerja baru yang memiliki kemampuan merancang dan mengembangkan alat AI. Selain itu, 62% perusahaan menyatakan akan menambah pekerja yang mampu bekerja berdampingan dengan sistem AI dalam proses operasional sehari-hari.

Meski begitu, WEF mengingatkan bahwa masa depan pekerjaan tidak semata soal penggantian manusia oleh mesin. Kolaborasi manusia–mesin justru berpotensi meningkatkan produktivitas dan kualitas kerja, terutama untuk peran yang membutuhkan empati, penilaian etis, dan pengambilan keputusan kompleks.

Realitas di lapangan, bagaimanapun, menunjukkan transisi ini tidak selalu mulus. Sejumlah perusahaan teknologi global seperti Dropbox dan Duolingo secara terbuka mengaitkan keputusan PHK mereka dengan adopsi AI. Fenomena ini menegaskan bahwa manfaat teknologi sering kali datang bersamaan dengan biaya sosial yang tidak kecil.

Bagi pekerja, pesan yang tersirat semakin jelas: stabilitas kerja di era lama telah berakhir. Adaptasi, pembelajaran ulang, dan penguasaan keterampilan baru bukan lagi pilihan, melainkan syarat bertahan hidup di pasar tenaga kerja yang semakin ditentukan oleh algoritma.

Laporan Future of Jobs Report dari World Economic Forum (WEF) menjadi sinyal peringatan dini bagi industri jasa keuangan global, termasuk Indonesia. WEF mencatat 41% perusahaan dunia berencana melakukan pengurangan karyawan secara signifikan hingga 2030, seiring masifnya adopsi AI dan tekanan efisiensi biaya. Sektor keuangan termasuk yang paling terdampak karena karakter pekerjaannya sangat terstruktur, berbasis data, dan mudah diotomatisasi.

Di Indonesia, tren ini mulai terasa. Digitalisasi layanan perbankan, migrasi nasabah ke kanal mobile, serta adopsi AI untuk credit scoring, fraud detection, customer service, dan manajemen risiko membuat banyak fungsi operasional tradisional kehilangan relevansi. Posisi seperti teller, back office administrasi, call center dasar, hingga analis kredit konvensional semakin tertekan.

Fenomena tersebut tercermin di industri keuangan nasional. Bank-bank besar di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir secara terbuka menyatakan fokus pada efisiensi dan digitalisasi. Cabang fisik dikurangi, layanan dipusatkan pada aplikasi, sementara AI mulai digunakan untuk menjawab pertanyaan nasabah, mendeteksi transaksi mencurigakan, hingga mempercepat proses persetujuan kredit ritel.


Digionary:

● AI Generatif: Teknologi kecerdasan buatan yang mampu menciptakan teks, gambar, dan konten baru
● Future of Jobs Report: Laporan berkala WEF tentang tren dan proyeksi pasar tenaga kerja global
● PHK: Pemutusan hubungan kerja oleh perusahaan
● Reskilling: Proses mempelajari keterampilan baru untuk peran berbeda
● Upskilling: Peningkatan keterampilan agar tetap relevan di pekerjaan yang sama
● World Economic Forum (WEF): Lembaga internasional yang membahas isu ekonomi dan global

#PHK #PasarKerja #AI #KecerdasanBuatan #FutureOfJobs #WEF #DisrupsiTeknologi #Reskilling #Upskilling #EkonomiGlobal #TenagaKerja #PekerjaanMasaDepan #GenAI #TransformasiDigital #Karier #DuniaKerja #Otomatisasi #Teknologi #Industri #EkonomiDigital

Comments are closed.