Adopsi AI Skala Enterprise Dorong Proyeksi Ekonomi Asia Tenggara Hingga 4,8% di 2035

- 16 September 2026 - 17:52

Negara-negara Asia Tenggara dihadapkan pada tantangan ketergantungan energi dan dinamika demografi yang menuntut strategi pertumbuhan baru berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan penguatan institusi. Meski proyeksi dasar pertumbuhan ekonomi kawasan dipatok sebesar 4.8%, pencapaian tersebut memerlukan implementasi adopsi AI skala perusahaan (enterprise-scale), diversifikasi pasokan energi bersih, serta pendalaman pasar modal untuk menarik investasi asing. Seiring persiapan Singapura memegang Keketuaan ASEAN pada 2027, integrasi dan ketahanan kolektif antarnegara kawasan menjadi prasyarat mutlak untuk menghindari keterpurukan akibat fragmentasi ekonomi global.


DIGI-HIGHLIGHTS:

■ SEA-6 diproyeksikan tumbuh 4,8% hingga 2035, tetapi Vietnam dan Filipina melaju lebih cepat dibanding Singapura dan Thailand.
■ FDI terus mengalir ke Asia Tenggara, terutama manufaktur, semikonduktor, pusat data, dan sektor yang terkait AI.
■ Institusi, ketahanan energi, dan pemanfaatan AI menjadi tiga faktor penting yang menentukan produktivitas kawasan.


Ekonomi enam negara terbesar Asia Tenggara atau SEA-6 diproyeksikan tumbuh rata-rata 4,8% per tahun sepanjang 2026-2035. Namun, pertumbuhan kawasan diperkirakan semakin beragam, dengan Vietnam berada di jalur pertumbuhan tertinggi dan Thailand menghadapi tekanan struktural terbesar.

Proyeksi tersebut tercantum dalam laporan “From Tailwinds to Trade-Offs: Southeast Asia Outlook 2026-2035” yang disusun Bain & Company, DBS Bank, dan Vriens & Partners.

Vietnam diproyeksikan tumbuh rata-rata 6,2% per tahun, disusul Filipina 5,8% dan Indonesia 5,4%. Sementara Malaysia diproyeksikan tumbuh 4,3%, Singapura 2,7%, dan Thailand 2,2%.

Laporan tersebut mencatat ekonomi SEA-6 tumbuh rata-rata 5,1% pada 2024 dan 2025. Namun, terdapat perbedaan yang cukup lebar. Vietnam tumbuh 7,5% dalam periode tersebut, sedangkan Thailand hanya 2,7%.

Pertumbuhan kawasan tetap ditopang investasi asing, industrialisasi, pembangunan infrastruktur, konsumsi domestik, serta adopsi teknologi. Arus masuk bersih FDI ke SEA-6 bahkan meningkat 25% pada 2025, ketika arus FDI ke China turun 34%.

Namun, investasi semakin terkonsentrasi pada negara dan sektor tertentu. Laporan juga mengingatkan bahwa peningkatan ekspor elektronik dan infrastruktur AI belum otomatis menghasilkan peningkatan produktivitas secara luas.

Ravi Vijayaraghavan, Senior Partner Bain & Company mengatakan, “Proyeksi pertumbuhan Asia Tenggara sebesar 4,8% hingga tahun 2035 tampak realistis untuk dicapai, meskipun rata-rata regional menyamarkan narasi yang sangat berbeda. Setiap negara menghadapi rentang hasil yang berbeda, yang dibentuk oleh fondasi strukturalnya dan kualitas pilihan kebijakan jangka pendeknya.”

Menurut laporan tersebut, terdapat tiga prioritas utama bagi negara-negara Asia Tenggara dalam satu dekade mendatang, yakni memperkuat ketahanan institusi, meningkatkan keandalan sistem energi, dan memanfaatkan AI untuk meningkatkan produktivitas.

Indonesia memiliki keuntungan dari pasar domestik yang besar serta hilirisasi nikel dan mineral. Namun, risiko institusi dan fiskal dinilai dapat membatasi ruang pertumbuhan lebih tinggi.

Vietnam mendapatkan dukungan dari FDI dan pergeseran rantai pasok global. Filipina ditopang demografi, remitansi, dan konsumsi domestik. Malaysia berpeluang dari semikonduktor, pusat data, dan investasi AI.

Singapura diproyeksikan tumbuh lebih rendah, tetapi tetap dinilai memiliki ketahanan ekonomi yang kuat karena perannya sebagai pusat modal regional, pasar keuangan yang dalam, penyangga fiskal, serta statusnya sebagai trusted hub.

Sebaliknya, Thailand menghadapi hambatan berupa tingginya utang rumah tangga, perubahan demografi, dan persoalan struktural yang membatasi pertumbuhan.

Taimur Baig, Managing Director and Chief Economist DBS, mengatakan, “Meskipun terdapat heterogenitas, perekonomian di Asia Tenggara tetap saling terhubung dalam hal perdagangan, investasi, energi, dan teknologi.”

Ia menambahkan, “Membangun institusi yang kredibel, meningkatkan produktivitas, dan melaksanakan kebijakan makro secara konsisten adalah prasyarat menuju masa depan yang sehat.”

Laporan tersebut menilai proyeksi pertumbuhan 4,8% hingga 2035 bukanlah sesuatu yang otomatis tercapai. Kinerja dua hingga tiga tahun mendatang akan menjadi periode penting untuk menentukan apakah investasi, industrialisasi, dan perkembangan teknologi mampu berubah menjadi peningkatan produktivitas yang berkelanjutan. ■


DIGIONARY:

● AI Dividend: Manfaat ekonomi dari peningkatan produktivitas melalui penggunaan AI.
● FDI: Investasi langsung perusahaan atau investor asing di suatu negara.
● SEA-6: Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam.
● Trusted Hub: Pusat regional yang menjadi penghubung modal dan aktivitas bisnis.

#AsiaTenggara #ASEAN #EkonomiASEAN #Indonesia #Vietnam #Malaysia #Singapura #Thailand #Filipina #FDI #Investasi #RantaiPasok #Semikonduktor #AI #ArtificialIntelligence #EkonomiDigital #Geopolitik #PertumbuhanEkonomi #BainCompany #DBS

Comments are closed.