DBS Foundation bersama Dicoding memperkuat kesiapan kerja siswa vokasi melalui pelatihan AI, literasi keuangan, dan soft skills di SMK Wikrama Bogor. Program ini menjadi bagian dari upaya membangun talenta digital Indonesia yang siap menghadapi perubahan kebutuhan industri, dengan total jangkauan lebih dari 227.000 peserta di seluruh Indonesia.
Fokus:
■ Program Coding Camp telah menjangkau 227.000 peserta, termasuk 15.000+ siswa SMK di seluruh Indonesia.
■ 86% developer Indonesia sudah gunakan AI, mendorong kebutuhan kompetensi baru di dunia kerja.
■ Pelatihan gabungkan AI, literasi keuangan, dan soft skills untuk tingkatkan kesiapan kerja siswa vokasi.
Transformasi teknologi yang kian cepat memaksa dunia pendidikan bergerak lebih adaptif. Di tengah kebutuhan industri terhadap talenta digital, siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) mulai dibekali keterampilan baru—dari kecerdasan buatan hingga literasi keuangan—agar tidak tertinggal di pasar kerja.
Upaya menjembatani kebutuhan industri dengan dunia pendidikan kembali diperkuat. DBS Foundation bersama Dicoding menggelar Coding Camp Workshop di SMK Wikrama Bogor, Selasa (28/4/2026), untuk membekali siswa dengan keterampilan yang semakin dibutuhkan di era digital.
Pelatihan ini tidak hanya berfokus pada kemampuan teknis seperti kecerdasan buatan (AI), tetapi juga mencakup literasi keuangan dan soft skills, mulai dari komunikasi hingga personal branding.
Program ini merupakan bagian dari Coding Camp powered by DBS Foundation, sebuah inisiatif nasional yang sejak 2023 berfokus pada pengembangan talenta digital. Hingga kini, program tersebut telah menjangkau lebih dari 227.000 peserta, termasuk lebih dari 15.000 siswa dari 1.500 SMK di seluruh Indonesia.
Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia Mona Monika menegaskan bahwa peningkatan keterampilan generasi muda menjadi bagian penting dari strategi jangka panjang.
“DBS Foundation berkomitmen memperluas akses pendidikan dan kesiapan kerja bagi kaum muda secara inklusif. Pelatihan coding camp di SMK Wikrama hari ini menunjukkan komitmen kami untuk membekali kaum muda khususnya para pelajar vokasi dengan keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja saat ini dan di masa depan, khususnya di era AI seperti sekarang ini. Sehingga mereka memiliki peluang dan kesempatan untuk maju dan berkembang. Hal ini selaras dengan misi DBS Foundation untuk mendorong inklusi keuangan dan digital,” ujarnya.
AI Jadi Kompetensi Dasar Baru
Perubahan kebutuhan industri menjadi latar belakang utama program ini. Data Indonesian Developer Outlook 2026 menunjukkan 86% developer di Indonesia telah menggunakan AI dalam pekerjaan mereka, menandakan pergeseran signifikan dalam standar kompetensi tenaga kerja.
Dengan kondisi tersebut, literasi AI tidak lagi bersifat tambahan, melainkan menjadi kompetensi dasar.
Lulusan SMK kini dituntut tidak hanya memiliki keterampilan teknis, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, beradaptasi, serta memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan produktivitas.
Belajar Tak Hanya Coding
Berbeda dengan pelatihan teknis konvensional, workshop ini menggabungkan pendekatan yang lebih menyeluruh.
Selain materi teknologi yang diberikan oleh Dicoding, siswa juga mendapatkan pembelajaran langsung dari karyawan Bank DBS Indonesia melalui program sukarelawan People of Purpose.
Sejak 2025, sebanyak 223 karyawan telah berkontribusi lebih dari 5.500 jam pelatihan, mencakup literasi keuangan, komunikasi, hingga presentasi bisnis.
Pendekatan ini dirancang untuk memastikan siswa tidak hanya siap secara teknis, tetapi juga memiliki kesiapan mental dan kemampuan interpersonal yang dibutuhkan di dunia kerja.
Dampak Nyata bagi Siswa
Kepala Sekolah SMK Wikrama Bogor Iin Mulyani menyebut program ini memberikan dampak konkret terhadap kesiapan kerja siswa.
“Coding Camp adalah program pelatihan digital berkualitas tinggi dari Bank DBS Indonesia yang konsisten memberi kesempatan pada murid SMK kami untuk belajar secara intensif (800+ jam) ataupun secara progresif (100+ jam). Melihat dampak positif program pada keterserapan kerja di kalangan alumni, kami mendukung sepenuhnya agenda workshop yang diselenggarakan bersama pada hari ini. Kami berharap bahwa Coding Camp bisa terus berlanjut dan memberi manfaat pada murid-murid SMK, khususnya dalam membangun portofolio dan meraih mikro kredensial untuk diterima kerja,” kata Iin.
Salah satu alumni, Muhammad Yazid Wiliadi, mengaku pelatihan tersebut membantunya mendapatkan pengalaman kerja lebih awal.
“Hasilnya, saya terbantu dalam mendapat posisi magang sebagai front-end developer dan quality assurance di sebuah perusahaan IT & pengembangan perangkat lunak di Yogya,” ujarnya.
Kini, Yazid melanjutkan studinya sambil bekerja paruh waktu di bidang pengembangan web.
Investasi Talenta untuk Ekonomi Digital
Langkah ini sejalan dengan kebutuhan Indonesia dalam mempercepat pengembangan talenta digital. Kementerian Komunikasi dan Informatika sebelumnya memperkirakan Indonesia membutuhkan sekitar 9 juta talenta digital hingga 2030.
Tanpa intervensi serius di sektor pendidikan, kesenjangan antara kebutuhan industri dan ketersediaan tenaga kerja berpotensi semakin lebar.
Melalui kolaborasi antara sektor swasta dan institusi pendidikan, program seperti Coding Camp menjadi salah satu upaya konkret untuk menjembatani kesenjangan tersebut.
Digionary:
● Artificial Intelligence (AI): Teknologi yang memungkinkan mesin melakukan tugas yang biasanya membutuhkan kecerdasan manusia.
● Coding Camp: Program pelatihan intensif untuk mengembangkan keterampilan teknologi dan digital.
● Literasi keuangan: Kemampuan memahami dan mengelola keuangan secara efektif.
● Personal branding: Upaya membangun citra diri secara profesional di dunia kerja.
● Soft skills: Keterampilan non-teknis seperti komunikasi, kolaborasi, dan kepemimpinan.
#AIEducation #DigitalTalent #SMK #CodingCamp #DBSFoundation #Dicoding #TalentaDigital #PendidikanIndonesia #FutureWorkforce #AIIndonesia #Teknologi #LiterasiKeuangan #SoftSkills #DigitalEconomy #EdTech #WorkforceDevelopment #IndonesiaMaju #StartupTalent #Coding #SkillMasaDepan
