Survei terbaru FINETIKS mengungkap 56% karyawan di Indonesia tidak memiliki dana darurat, sementara 72% mengaku kondisi keuangan memengaruhi kinerja. Temuan ini menegaskan bahwa stres finansial bukan lagi isu pribadi, melainkan risiko bisnis yang berdampak langsung pada produktivitas dan biaya perusahaan.
Fokus:
■ 56% karyawan tidak punya dana darurat, 72% mengaku kondisi finansial memengaruhi performa kerja.
■ Stres finansial picu penurunan produktivitas hingga fenomena presenteeism dan peningkatan turnover.
■ Perusahaan mulai dituntut menjadikan financial wellness sebagai strategi bisnis, bukan sekadar benefit.
Masalah keuangan karyawan kini tidak lagi berhenti di urusan pribadi. Data terbaru menunjukkan tekanan finansial telah menjalar ke ruang kerja, memengaruhi produktivitas, keputusan, hingga kinerja perusahaan secara keseluruhan.
Tekanan finansial yang dialami karyawan Indonesia mulai berubah menjadi risiko nyata bagi dunia usaha. Survei terbaru yang dirilis FINETIKS menunjukkan lebih dari separuh karyawan profesional belum memiliki fondasi keuangan yang memadai.
Sebanyak 56% responden tercatat tidak memiliki dana darurat, sementara 72% mengakui kondisi finansial mereka berdampak langsung terhadap performa kerja. Data ini menegaskan bahwa persoalan keuangan pribadi kini telah bertransformasi menjadi isu produktivitas perusahaan.

Survei yang dilakukan sepanjang Desember 2025 hingga Maret 2026 ini mencakup berbagai sektor, mulai dari teknologi, pendidikan, media digital, hingga fintech.
CEO FINETIKS Cameron Goh menegaskan bahwa perusahaan tidak bisa lagi memandang kesehatan finansial karyawan sebagai urusan individu semata.
“Kesehatan finansial karyawan seringkali dipandang sebagai urusan pribadi, padahal dampaknya sangat terasa dalam operasional bisnis sehari-hari, mulai dari produktivitas hingga kualitas pengambilan keputusan. Alhasil, kesehatan finansial karyawan menjadi risiko bisnis ‘tersembunyi’ yang dampaknya bisa signifikan,” ujarnya.
Utang dan Tekanan Arus Kas Jadi Masalah Harian
Tekanan finansial ternyata bukan kasus sporadis, melainkan fenomena yang meluas. Sekitar 58% karyawan mengaku harus menunda kebutuhan penting karena keterbatasan arus kas. Di saat yang sama, 51% masih memiliki utang konsumtif aktif, mulai dari PayLater, kartu kredit, hingga pinjaman online.
Situasi ini menciptakan lingkaran tekanan yang berdampak langsung pada kondisi psikologis dan kinerja karyawan.
Menariknya, kesadaran akan masalah ini sebenarnya sudah tinggi. Sebanyak 93% responden menyatakan membutuhkan program financial wellness dari perusahaan.
Produktivitas Terkikis, Biaya Tersembunyi Muncul
Menurut Cameron, dampak stres finansial tidak selalu terlihat dalam laporan keuangan perusahaan, tetapi efeknya nyata di lapangan.
“Dampaknya terhadap perusahaan tidak bisa diabaikan. Karyawan yang mengalami tekanan finansial cenderung menghadapi kesulitan dalam berkonsentrasi, mengambil keputusan, hingga berkolaborasi secara optimal. Dalam banyak kasus, kondisi ini memicu fenomena ‘presenteeism’, di mana karyawan tetap hadir bekerja namun tidak sepenuhnya produktif,” jelasnya.
Dalam jangka panjang, kondisi ini juga meningkatkan risiko turnover karyawan, yang pada akhirnya menciptakan biaya tambahan bagi perusahaan—mulai dari rekrutmen hingga pelatihan ulang.
Fenomena ini sejalan dengan berbagai riset global. Studi PwC menunjukkan lebih dari 60% pekerja yang mengalami stres finansial cenderung memiliki produktivitas lebih rendah dan tingkat absensi lebih tinggi.
Masalah Terjadi di Semua Sektor
Survei ini juga menemukan bahwa tekanan finansial tidak mengenal sektor industri.
Di sektor kreatif, 100% responden mengaku mengalami stres finansial. Sektor pendidikan mencatat tingkat utang konsumtif tertinggi sebesar 69%, sementara media digital mencatat 74% karyawan terdampak tekanan finansial.
Bahkan di sektor fintech—yang identik dengan literasi keuangan tinggi—tekanan finansial tetap terjadi. Di sektor teknologi, sekitar 50% karyawan masih memiliki utang konsumtif aktif, terutama di kalangan milenial.
Temuan ini menunjukkan bahwa pengetahuan keuangan saja tidak cukup tanpa kebiasaan dan sistem pengelolaan yang disiplin.
Perusahaan Dituntut Ubah Strategi
FINETIKS menilai pendekatan terhadap kesehatan finansial karyawan perlu bergeser dari sekadar edukasi menjadi solusi yang lebih komprehensif. Program financial wellness dinilai harus mencakup pengelolaan arus kas, pembentukan dana darurat,
sistem tabungan otomatis dan pendampingan jangka panjang.
Sebagai respons, FINETIKS menghadirkan program MONEY BOSS yang dirancang untuk membantu karyawan menerapkan strategi keuangan secara praktis.
“Perusahaan yang memperlakukan financial wellness sebagai bagian dari strategi human capital akan melihat dampak nyata berupa produktivitas yang meningkat, loyalitas karyawan yang lebih kuat, dan budaya kerja yang lebih sehat,” kata Cameron.
Digionary:
● Dana darurat: Cadangan keuangan untuk kebutuhan mendesak atau kondisi tak terduga.
● Financial wellness: Kondisi kesehatan finansial individu yang mencakup kemampuan mengelola keuangan secara stabil.
● PayLater: Fasilitas pembayaran tunda yang memungkinkan pembelian sekarang dan bayar di kemudian hari.
● Presenteeism: Kondisi karyawan hadir bekerja tetapi tidak produktif karena masalah fisik atau mental.
● Turnover: Tingkat keluar-masuk karyawan dalam sebuah perusahaan.
#FinancialWellness #Karyawan #Produktivitas #Ekonomi #StresFinansial #HRStrategy #ManajemenSDM #DanaDarurat #Fintech #Indonesia #Workplace #HumanCapital #EkonomiDigital #KesehatanFinansial #PayLater #ProduktivitasKerja #EmployeeWellbeing #Bisnis #CorporateStrategy #WorkCulture
