Di tengah badai kritik etika dan tuduhan pelanggaran hak asasi manusia, Palantir Technologies justru mencatatkan anomali finansial dengan meraup investasi lebih dari US$27 miliar dari sekurangnya 100 institusi keuangan kakap Eropa hingga akhir 2025. Lonjakan kepemilikan aset yang mencapai 60% dalam setahun ini didorong oleh dominasi teknologi Agentic AI milik Palantir di sektor pertahanan global, yang kini menjadi tulang punggung operasi intelijen militer mulai dari perbatasan Amerika Serikat hingga konflik di Jalur Gaza. Fenomena ini mempertegas pergeseran paradigma investor yang mulai menomorduakan sentimen ESG demi mengamankan posisi di ceruk pasar “perang masa depan” yang sangat menguntungkan.
Fokus:
■ Lebih dari 100 bank, manajer aset, dan dana pensiun Benua Biru melipatgandakan taruhan mereka pada Palantir, mengabaikan skor buruk kepatuhan sosial demi pertumbuhan portofolio yang eksponensial.
■ Palantir berhasil mengonversi teknologi kecerdasan buatan menjadi senjata strategis melalui sistem seperti Maven, menjadikannya pemain dominan dalam analisis data tempur real-time bagi aliansi Barat.
■ Pertumbuhan valuasi yang mendekati US$450 miliar menciptakan dilema moral terkait keterlibatan teknologi dalam pengawasan massa, penangkapan migran di AS, serta dukungan logistik militer dalam krisis kemanusiaan.
Ketika euforia kecerdasan buatan (AI) membuat banyak perusahaan teknologi terjebak dalam janji-janji abstrak tentang efisiensi kantor, Palantir Technologies justru melesat dengan menawarkan sesuatu yang jauh lebih nyata dan mematikan: supremasi informasi di medan laga. Hasilnya, para pengelola dana di Eropa kini terjebak dalam hubungan benci-tapi-rindu dengan raksasa analitik data asal Denver tersebut.
Laporan pasar modal terbaru seperti dikutip dari laman El Pais menunjukkan lonjakan minat yang hampir tidak masuk akal. Lebih dari 100 institusi finansial utama Eropa—termasuk bank-bank konservatif, pengelola dana pensiun, hingga perusahaan asuransi—mempertebal posisi mereka di saham Palantir. Nilai akumulatif investasi mereka menembus angka fantastis US$27 miliar pada akhir 2025, sebuah kenaikan nilai portofolio hampir empat kali lipat dalam kurun waktu singkat.
Namun, di balik angka-angka hijau di lantai bursa, Palantir bukanlah perusahaan yang bisa dipampang dalam laporan keberlanjutan (ESG) dengan bangga. Perusahaan ini adalah penyedia “otak” bagi lembaga intelijen, militer, dan badan imigrasi. Rekam jejaknya diwarnai oleh rapor merah dari lembaga riset MSCI, yang hanya memberikan skor dua dari 10 untuk aspek kebebasan sipil dan hak asasi manusia.
”Palantir bukan perusahaan swasta dalam arti sebenarnya. Ia adalah perpanjangan tangan aparat keamanan nasional Amerika Serikat. Ketika pemerintah Eropa membeli teknologinya, mereka tidak sekadar membeli perangkat lunak, tetapi juga menyerahkan sebagian kedaulatannya,” tegas Francesca Bria, pakar inovasi digital dan kebijakan publik.
Perang sebagai Katalis Pertumbuhan
Daya tarik utama Palantir terletak pada kemampuannya mengolah triliunan titik data—mulai dari citra satelit, umpan drone, hingga laporan intelijen lapangan—menjadi instruksi taktis dalam hitungan detik. Di era di mana data adalah amunisi baru, produk seperti Maven Smart System menjadi sangat krusial. Sistem ini dikabarkan menjadi aktor di balik layar dalam berbagai perencanaan operasi rudal dan drone di Timur Tengah.
Dominasi ini tercermin dalam neraca keuangan mereka. Pada 2025, Palantir membukukan pendapatan sekitar US4,5 miliar, dengan kontribusi mayoritas (54%) datang dari kontrak-kontrak pemerintah yang bersifat jangka panjang dan stabil. Para analis memproyeksikan angka ini akan meledak menjadi lebih dari US7,2 miliar pada 2026.
Di jajaran investor, Norges Bank asal Norwegia memimpin dengan kepemilikan saham senilai US$5,1 miliar. Diikuti oleh Amundi dari Prancis dan Legal & General dari Inggris yang masing-masing mengamankan miliaran dolar. Bahkan, perbankan Spanyol seperti Santander mencatatkan kenaikan eksposur hingga 16 kali lipat.
Bayang-bayang Pelanggaran HAM
Kritik paling tajam datang dari keterlibatan teknologi Palantir dalam mendukung operasional Immigration and Customs Enforcement (ICE) di Amerika Serikat. Perangkat lunak mereka diduga kuat digunakan untuk memetakan lokasi dan pola pergerakan keluarga migran, memfasilitasi penangkapan massal yang memicu kecaman internasional.
Tak berhenti di sana, kerja sama strategis dengan militer Israel pada awal 2024 untuk dukungan operasi di Gaza semakin memicu api kontroversi. Meski manajemen Palantir berulang kali membantah keterlibatan langsung dalam sistem penargetan militer, publik tetap melihat perusahaan ini sebagai infrastruktur digital di balik konflik tersebut.
Pendiri Palantir, Peter Thiel, yang dikenal karena pandangan politiknya yang vokal dan kedekatannya dengan Donald Trump, secara konsisten membela posisi perusahaannya. Juru bicara Palantir menegaskan bahwa misi utama perusahaan adalah “mendukung demokrasi liberal Barat dan institusi-institusi pentingnya.”
Kini, Palantir berdiri di persimpangan jalan antara valuasi pasar yang mendekati US$450 miliar dan beban moral yang kian berat. Bagi para investor di London, Paris, dan Zurich, pilihannya menjadi sangat pragmatis: apakah mereka akan berpegang pada prinsip etika, atau mengikuti arus uang dalam perlombaan senjata AI yang tidak mengenal kata berhenti.
Digionary:
● AI Agentic: Sistem kecerdasan buatan yang tidak hanya merespons perintah, tetapi mampu mengambil tindakan mandiri untuk mencapai tujuan tertentu dalam sistem yang kompleks.
● ESG (Environmental, Social, Governance): Kerangka kerja bagi investor untuk mengevaluasi perilaku perusahaan dan dampaknya terhadap isu sosial dan lingkungan.
● ICE (Immigration and Customs Enforcement): Badan federal Amerika Serikat yang bertanggung jawab atas penegakan hukum imigrasi dan deportasi.
● Kapitalisasi Pasar: Ukuran nilai sebuah perusahaan yang dihitung dari total jumlah saham yang beredar dikalikan dengan harga pasar satu lembar saham.
● Maven Smart System: Protokol AI mutakhir milik Palantir yang digunakan oleh Departemen Pertahanan AS untuk memproses data intelijen secara otomatis.
● MSCI: Perusahaan riset investasi yang menyediakan indeks dan analisis risiko, termasuk peringkat kepatuhan etika perusahaan global.
● Sovereign Wealth Fund: Dana investasi negara yang digunakan untuk mengelola cadangan devisa guna keuntungan ekonomi jangka panjang, seperti Norges Bank Investment Management.
● U.S. Commercial Revenue: Pendapatan yang dihasilkan dari penjualan layanan kepada perusahaan swasta atau non-pemerintah di wilayah Amerika Serikat.
● Valuasi: Estimasi nilai ekonomi dari sebuah bisnis atau aset berdasarkan analisis fundamental dan potensi pertumbuhan masa depan.
#Palantir #AI #ArtificialIntelligence #DefenseTech #MilitaryAI #PeterThiel #DonaldTrump #ICE #Gaza #Israel #HumanRights #ESG #Investasi #BankEropa #DanaPensiun #Teknologi #PalantirStock #BigData #CyberSecurity #Geopolitik
