PT Bank Amar Indonesia Tbk mencatatkan kinerja impresif sepanjang 2025 dengan laba bersih mencapai Rp249,6 miliar—tertinggi sepanjang sejarah perusahaan—ditopang pertumbuhan kredit 35,7% dan perbaikan kualitas aset. Fokus pada digital lending dan segmen UMKM menjadi motor utama, sekaligus mempertegas posisi Amar Bank sebagai pemain penting dalam lanskap bank digital Indonesia.
Fokus:
■ Laba Amar Bank naik 16,1% ke Rp249,6 miliar, tertinggi sepanjang sejarah bank.
■ Kredit tumbuh 35,7% ke Rp3,98 triliun, lebih dari separuh ke sektor UMKM.
■ Kualitas aset membaik, NPL net turun ke 0,83% di tengah ekspansi agresif.
Di tengah kompetisi ketat industri perbankan digital, PT Bank Amar Indonesia Tbk justru melaju kencang. Tahun 2025 menjadi tonggak penting: laba bersih menembus Rp249,6 miliar—melonjak 16,1% dan menjadi yang tertinggi sepanjang perjalanan bank ini.
Namun bukan hanya soal laba. Di balik angka tersebut, tersimpan cerita yang lebih dalam: bagaimana bank digital ini mencoba menyeimbangkan ekspansi agresif dengan disiplin risiko yang ketat.
Direktur Utama Amar Bank, Vishal Tulsian, menegaskan arah strateginya. “Kinerja 2025 mencerminkan fokus Amar Bank dalam membangun pertumbuhan yang semakin berkualitas. Kami berhasil mendorong ekspansi kredit secara sehat, menjaga kualitas aset tetap terkelola dengan baik, dan pada saat yang sama melanjutkan tren pertumbuhan laba secara konsisten. Hasil ini menunjukkan bahwa strategi kami untuk menyeimbangkan pertumbuhan, disiplin risiko, dan profitabilitas terus berada pada jalur yang tepat,” katanya, Selasa (7/4).
Ekspansi Kredit: Mesin Pertumbuhan Utama
Amar Bank mencatat lonjakan kredit sebesar 35,7% menjadi Rp3,98 triliun. Menariknya, lebih dari 50% disalurkan ke sektor UMKM—segmen yang selama ini kerap kesulitan mengakses pembiayaan formal.
Ekspansi ini tidak lepas dari peran platform digital andalan mereka, Tunaiku, yang memanfaatkan big data dan analitik untuk mempercepat proses kredit. Model ini memungkinkan persetujuan pinjaman dalam hitungan jam hingga maksimal 24 jam—jauh lebih cepat dibandingkan bank konvensional.
Di level industri, tren ini sejalan dengan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menunjukkan pembiayaan digital di Indonesia terus tumbuh dua digit dalam beberapa tahun terakhir, didorong oleh kebutuhan masyarakat akan akses kredit yang cepat dan fleksibel.
Kualitas Aset: Kunci di Balik Pertumbuhan
Yang membedakan Amar Bank dari banyak pemain fintech lending adalah kemampuannya menjaga kualitas kredit. Rasio kredit bermasalah (NPL) net turun ke 0,83% dari sebelumnya 1,07%—angka yang tergolong rendah untuk segmen ritel dan UMKM yang umumnya berisiko lebih tinggi.
SVP Finance Amar Bank, David Wirawan, menekankan pertumbuhan kredit serta laba bersih di angka double digit, serta perbaikan NPL net menjadi 0,83%. “Ini mencerminkan strategi ekspansi yang dijalankan secara selektif dan prudent,” katanya.
Dalam konteks industri, menjaga NPL di bawah 2% sudah dianggap sangat sehat, terutama di tengah tekanan ekonomi global dan fluktuasi daya beli masyarakat.
Dana Masyarakat dan Likuiditas Menguat
Di sisi pendanaan, kepercayaan nasabah juga meningkat signifikan. Total simpanan disebut tumbuh hingga dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya—indikasi bahwa model bisnis digital Amar Bank mulai diterima lebih luas.
Likuiditas yang kuat menjadi bantalan penting untuk menopang ekspansi ke depan, terutama ketika banyak bank digital masih bergulat dengan isu profitabilitas dan biaya dana.
Arah 2026: Perkuat Ekosistem Digital dan UMKM
Memasuki 2026, Amar Bank tidak mengendurkan langkah. Fokus diarahkan pada penguatan layanan digital, perluasan ekosistem pembayaran, serta peningkatan pembiayaan UMKM melalui Amar Bank Bisnis.
Langkah ini sejalan dengan tren global, di mana bank digital kini tidak lagi sekadar penyedia layanan, tetapi menjadi bagian dari ekosistem keuangan yang lebih luas—mengintegrasikan pembayaran, kredit, hingga manajemen keuangan dalam satu platform.
Jika strategi ini konsisten dijalankan, Amar Bank berpotensi menjadi salah satu pemain kunci dalam transformasi inklusi keuangan di Indonesia—terutama bagi segmen yang selama ini belum terlayani optimal.
Digionary:
● Big Data: Data dalam jumlah besar yang dianalisis untuk memahami pola dan perilaku
● Digital Lending: Layanan pinjaman berbasis platform digital tanpa tatap muka
● Likuiditas: Kemampuan bank memenuhi kewajiban jangka pendek
● NPL (Non-Performing Loan): Rasio kredit bermasalah dalam portofolio bank
● Platform Digital: Sistem berbasis teknologi untuk menyediakan layanan keuangan
● Prudent: Prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan risiko
● UMKM: Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah sebagai tulang punggung ekonomi
#AmarBank #BankDigital #UMKM #FintechIndonesia #KreditDigital #Tunaiku #Perbankan #InklusiKeuangan #EkonomiDigital #OJK #LabaBank #TransformasiDigital #PinjamanOnline #BisnisIndonesia #Investasi #Keuangan #StartupFintech #DigitalBanking #PertumbuhanEkonomi #AnalisisKeuangan
