Tanda Tangan Donald Trump Akan Ada di Dolar AS, Akhiri Tradisi 165 Tahun

- 28 Maret 2026 - 13:24

Pemerintah Amerika Serikat akan mencetak uang dolar dengan tanda tangan Presiden Donald Trump—sebuah langkah yang mengakhiri tradisi 165 tahun penggunaan tanda tangan bendahara pada mata uang. Kebijakan ini bukan sekadar perubahan desain, tetapi mencerminkan pergeseran simbol kekuasaan dan narasi politik dalam sistem keuangan global, di tengah momentum 250 tahun kemerdekaan AS.


Fokus:

■ AS mengakhiri tradisi 165 tahun dengan mengganti tanda tangan bendahara menjadi tanda tangan presiden di uang dolar.
■ Kebijakan ini menjadi simbol politik dan momentum perayaan 250 tahun kemerdekaan AS.
■ Perubahan bersifat simbolik tanpa mengubah desain utama, namun berdampak besar secara historis dan persepsi global.


Ada sesuatu yang berubah di jantung sistem keuangan Amerika Serikat—dan kali ini bukan soal suku bunga, inflasi, atau defisit anggaran. Pemerintah AS memutuskan untuk mencetak uang kertas dolar dengan tanda tangan Presiden Donald Trump. Sekilas terdengar administratif. Namun dalam sejarah panjang dolar AS, ini adalah langkah yang nyaris revolusioner.

Untuk pertama kalinya, seorang presiden yang masih menjabat akan menandatangani mata uang resmi negaranya.

Langkah ini mengakhiri tradisi sejak 1861—ketika uang kertas pertama kali diterbitkan—di mana tanda tangan bendahara AS menjadi elemen tetap dalam desain dolar.

Dari Tradisi ke Personalisasi Kekuasaan

Selama lebih dari satu setengah abad, dolar AS membawa identitas institusional, bukan personal. Nama bendahara dan menteri keuangan menjadi representasi birokrasi negara, bukan figur politik. Namun kini, arah itu berubah.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent menegaskan bahwa keputusan ini berkaitan dengan momentum besar: peringatan 250 tahun kemerdekaan Amerika Serikat.

“Tidak ada cara yang lebih kuat untuk mengakui pencapaian bersejarah negara kita dan Presiden Donald J Trump selain melalui uang dolar AS yang memuat namanya,” ujarnya seperti dikutip CNN.

Pernyataan ini memperjelas satu hal: dolar kini bukan hanya alat tukar, tetapi juga medium simbolik kekuasaan.

Dimulai dari US$100, Lalu Meluas

Pencetakan perdana uang dengan tanda tangan Trump akan dimulai pada Juni mendatang untuk pecahan US$100—denominasi paling banyak digunakan dalam transaksi global. Selanjutnya, desain ini akan diperluas ke pecahan lain secara bertahap.

Meski begitu, perubahan ini tidak menyentuh elemen inti desain dolar seperti potret tokoh tetap figur yang telah wafat, slogan “In God We Trust” tetap dipertahankan dan struktur visual uang tidak berubah signifikan.Artinya, transformasi ini bersifat simbolik—namun justru di situlah dampaknya.

Simbol Kecil, Makna Besar

Dalam dunia keuangan global, simbol memiliki kekuatan yang sering kali melampaui fungsi ekonominya. Dolar AS bukan sekadar mata uang. Ia adalah mata uang cadangan dunia (sekitar 58% cadangan devisa global menurut IMF), alat transaksi lintas negara utama, dan representasi stabilitas ekonomi AS.

Ketika simbol sekecil tanda tangan berubah, pesan yang disampaikan bisa jauh lebih besar, yakni personalisasi kekuasaan dalam sistem yang selama ini berbasis institusi.

Di Tengah Dinamika Politik dan Ekonomi Global

Langkah ini juga muncul di tengah lanskap global yang berubah cepat. Beberapa tren besar yang relevan mencakup upaya dedolarisasi oleh negara-negara BRICS, meningkatnya penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan internasional dan perkembangan mata uang digital bank sentral (CBDC).

Dalam konteks ini, perubahan desain dolar bisa dibaca sebagai upaya memperkuat identitas—bahkan dominasi—di tengah tantangan global.

Batasan yang Masih Dijaga

Meski membawa nama presiden aktif, pemerintah AS tetap mempertahankan sejumlah batasan penting. Salah satunya: larangan menampilkan wajah tokoh yang masih hidup pada mata uang.
Itu sebabnya, wacana untuk menampilkan gambar Trump pada koin dolar tidak dapat direalisasikan. Dengan kata lain, sistem masih menjaga keseimbangan antara simbol personal dan prinsip institusional.

Perubahan ini mungkin tidak berdampak langsung pada nilai tukar dolar atau stabilitas pasar. Namun dalam perspektif yang lebih luas, ia mencerminkan pergeseran cara negara menggunakan simbol ekonomi untuk membangun narasi politik.

Dari yang semula anonim dan institusional, kini menjadi lebih personal dan politis.
Dan dalam dunia di mana persepsi sering kali sama pentingnya dengan fundamental ekonomi, perubahan seperti ini tidak bisa dianggap sepele.

Dolar, Kekuasaan, dan Narasi Baru

Langkah pemerintah AS mencetak dolar dengan tanda tangan presiden bukan sekadar pembaruan desain.

Ia adalah pernyataan bahwa bahkan mata uang—yang selama ini dianggap netral—tidak sepenuhnya bebas dari dinamika kekuasaan. Dan di era baru ini, dolar tidak hanya mencerminkan kekuatan ekonomi Amerika, tetapi juga siapa yang memegang kendali atas narasi tersebut.


Digionary:

● Bendahara AS: Pejabat pemerintah yang sebelumnya menandatangani uang kertas dolar
● CBDC: Mata uang digital yang diterbitkan bank sentral
● Dedolarisasi: Upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam perdagangan global
● Denominasi: Nilai pecahan uang
● IMF: International Monetary Fund, lembaga keuangan global
● Mata uang cadangan: Mata uang yang disimpan oleh bank sentral sebagai cadangan devisa
● Simbol ekonomi: Elemen yang merepresentasikan kekuatan ekonomi suatu negara
● Uang kertas: Alat pembayaran resmi berbentuk fisik yang diterbitkan negara

#DolarAS #DonaldTrump #EkonomiGlobal #KeuanganInternasional #USDollar #Geopolitik #MonetaryPolicy #FinanceNews #GlobalEconomy #CurrencyDesign #CentralBank #IMF #Dedolarisasi #CBDC #EconomicPower #MoneyPolitics #WorldEconomy #FinancialSystem #USPolitics #Dollar

Comments are closed.