Pemerintah Indonesia bersama Bank Indonesia semakin agresif mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan internasional melalui skema Local Currency Settlement (LCS). Nilai transaksi dengan negara mitra seperti Jepang, China, Malaysia, dan Thailand melonjak hampir dua kali lipat menjadi US$25,56 miliar. Kebijakan ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS sekaligus memperkuat stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Fokus:
■ Nilai transaksi LCS Indonesia melonjak menjadi US$25,56 miliar, hampir dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.
■ Kerja sama perdagangan menggunakan mata uang lokal telah dilakukan dengan Jepang, China, Malaysia, dan Thailand.
■ Strategi ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada dolar AS sekaligus memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah.
Dominasi dolar AS dalam perdagangan internasional mulai menghadapi tantangan baru. Di tengah dinamika geopolitik dan fluktuasi pasar global, sejumlah negara Asia—termasuk Indonesia—mulai memperluas penggunaan mata uang lokal dalam transaksi lintas negara. Langkah ini dilakukan melalui skema Local Currency Settlement (LCS) yang kini semakin intensif digunakan.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan penggunaan skema tersebut terus meningkat dalam perdagangan Indonesia dengan beberapa negara mitra utama.
“Kemudian sinergi kuat dengan BI dan juga terjadi peningkatan local currency setelmen dengan negara-negara Malaysia, Thailand, Jepang, China,” kata Airlangga dalam sidang kabinet paripurna di Istana Negara.
Kebijakan ini merupakan hasil koordinasi pemerintah dengan Bank Indonesia untuk memperluas penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan internasional.
Nilai Transaksi Melonjak Hampir Dua Kali Lipat
Data pemerintah menunjukkan nilai transaksi perdagangan menggunakan skema LCS melonjak signifikan.
Pada 2025, nilai transaksi LCS mencapai US$25,56 miliar atau sekitar Rp431,96 triliun dengan asumsi kurs Rp16.900 per dolar AS. Angka ini melonjak hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya US$12,9 miliar. “Jumlahnya naik US$25,56 miliar, Pak, dibandingkan tahun lalu hanya US$12,9 miliar,” ujar Airlangga.
Lonjakan ini menandakan semakin banyak pelaku usaha yang mulai memanfaatkan mekanisme perdagangan tanpa dolar.
Skema LCS sendiri memungkinkan transaksi perdagangan antarnegara menggunakan mata uang masing-masing—misalnya rupiah dengan ringgit Malaysia atau rupiah dengan yen Jepang—tanpa harus melalui dolar AS sebagai mata uang perantara.
Strategi Mengurangi Ketergantungan pada Dolar
Bagi Indonesia, perluasan skema LCS memiliki arti strategis. Selama puluhan tahun, dolar AS menjadi mata uang utama dalam perdagangan global. Hampir 80% transaksi perdagangan internasional menggunakan dolar, menurut data Bank for International Settlements.
Ketergantungan tersebut membuat banyak negara rentan terhadap gejolak nilai tukar dolar, terutama ketika bank sentral Amerika Serikat menaikkan suku bunga.
Bagi negara berkembang seperti Indonesia, penguatan dolar sering kali menekan nilai tukar rupiah dan meningkatkan biaya impor.
Karena itu, pemerintah berupaya memperluas penggunaan mata uang lokal agar kebutuhan terhadap dolar bisa ditekan.
“Jadi kalau terus ini kita dorong maka kebutuhan terhadap dolar akan menurun, Pak Presiden,” kata Airlangga.
Tren Global Dedolarisasi
Langkah Indonesia sebenarnya merupakan bagian dari tren yang lebih luas. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah negara berkembang mulai memperkuat kerja sama perdagangan menggunakan mata uang lokal.
Negara-negara anggota BRICS misalnya, aktif mendorong perdagangan menggunakan mata uang masing-masing. China bahkan semakin agresif mempromosikan penggunaan yuan dalam perdagangan internasional.
Menurut laporan International Monetary Fund, porsi cadangan devisa global dalam dolar AS memang masih dominan, namun terus menurun dari sekitar 71% pada 1999 menjadi sekitar 58% dalam beberapa tahun terakhir.
Perubahan tersebut menunjukkan sistem keuangan global perlahan bergerak menuju multipolar currency system, di mana beberapa mata uang utama berbagi peran dalam perdagangan internasional.
Dampak bagi Stabilitas Rupiah
Bagi Indonesia, manfaat LCS bukan hanya pada efisiensi transaksi. Penggunaan mata uang lokal juga dapat membantu menstabilkan nilai tukar rupiah.
Ketika perdagangan menggunakan rupiah langsung dengan mata uang mitra dagang, kebutuhan konversi ke dolar akan berkurang. Hal ini dapat menurunkan volatilitas pasar valas domestik.
Sejak diperkenalkan pada 2018 oleh Bank Indonesia, kerja sama LCS Indonesia kini telah mencakup sejumlah negara seperti Malaysia, Thailand, Jepang, China, Korea Selatan, dan Singapura.
Ekspansi kerja sama ini menunjukkan bahwa mekanisme perdagangan berbasis mata uang lokal semakin diterima oleh pelaku bisnis regional.
Masa Depan Perdagangan Tanpa Dolar?
Meski demikian, para ekonom menilai dominasi dolar belum akan berakhir dalam waktu dekat. Dolar masih menjadi mata uang paling likuid di dunia serta didukung oleh kedalaman pasar keuangan Amerika Serikat.
Namun tren penggunaan mata uang lokal diperkirakan akan terus meningkat, terutama di kawasan Asia.
Bagi Indonesia, perluasan skema LCS dapat menjadi instrumen penting untuk memperkuat ketahanan ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Digionary:
● Bank Indonesia – Bank sentral Republik Indonesia yang bertugas menjaga stabilitas moneter dan sistem pembayaran.
● Dedolarisasi – Upaya mengurangi ketergantungan suatu negara terhadap dolar AS dalam transaksi ekonomi internasional.
● Local Currency Settlement (LCS) – Mekanisme transaksi perdagangan internasional menggunakan mata uang lokal masing-masing negara tanpa melalui dolar AS.
● Nilai Tukar – Harga suatu mata uang terhadap mata uang negara lain.
● Perdagangan Internasional – Aktivitas ekspor dan impor barang atau jasa antarnegara.
● Volatilitas Valas – Fluktuasi nilai tukar mata uang asing yang terjadi dalam periode tertentu.
#Dedolarisasi #DolarAS #PerdaganganGlobal #EkonomiIndonesia #BankIndonesia #AirlanggaHartarto #LocalCurrencySettlement #LCS #PerdaganganInternasional #Rupiah #StabilitasNilaiTukar #EkonomiGlobal #AsiaEconomy #SistemKeuanganGlobal #DeDollarization #KebijakanMoneter #GeopolitikEkonomi #KeuanganInternasional #EkonomiRegional #TradePolicy
