Bangkit dari Rugi Rp366 Miliar di 2024, Superbank Cetak Laba Rp99 Miliar di 2025

- 12 Maret 2026 - 05:07

PT Super Bank Indonesia Tbk mencatat titik balik kinerja pada 2025 dengan membukukan laba bersih Rp99,68 miliar setelah setahun sebelumnya merugi Rp366,37 miliar. Perbaikan ini didorong lonjakan pendapatan bunga yang menembus Rp2,16 triliun serta ekspansi kredit dan dana pihak ketiga. Total aset bank yang dikenal sebagai Superbank itu juga melonjak hampir dua kali lipat menjadi Rp21,28 triliun, menandai fase pertumbuhan agresif bank digital tersebut di tengah kompetisi industri perbankan yang semakin ketat.


Fokus:

■ PT Super Bank Indonesia Tbk mencatat laba bersih Rp99,68 miliar pada 2025, berbalik dari kerugian Rp366,37 miliar pada 2024.
■ Pendapatan bunga melonjak menjadi Rp2,16 triliun, mendorong pendapatan bunga bersih mencapai Rp1,58 triliun.
■ Total aset bank meningkat hampir dua kali lipat menjadi Rp21,28 triliun, didorong ekspansi kredit dan lonjakan dana pihak ketiga.


Setelah melewati tahun penuh tekanan, PT Super Bank Indonesia Tbk akhirnya kembali mencatatkan kinerja positif. Bank dengan kode saham SUPA itu menutup tahun buku 2025 dengan laba bersih Rp99,68 miliar, berbalik dari kerugian Rp366,37 miliar pada 2024. Perubahan arah ini menandai titik balik penting bagi bank yang sedang memperkuat posisinya di segmen perbankan digital dan pembiayaan konsumer. Lonjakan pendapatan bunga menjadi motor utama pemulihan tersebut.

Dalam laporan keuangan terbaru yang dipublikasikan kepada investor, pendapatan bunga Superbank melonjak menjadi Rp2,16 triliun, jauh lebih tinggi dibandingkan Rp743,98 miliar pada periode sebelumnya.

Setelah dikurangi beban bunga Rp587,01 miliar, bank membukukan pendapatan bunga bersih Rp1,58 triliun, naik signifikan dari Rp606,84 miliar tahun sebelumnya.

Pendapatan Operasional Ikut Menguat

Selain dari bunga kredit, kinerja bank juga ditopang oleh pendapatan operasional lainnya. Pendapatan dari provisi dan komisi tercatat Rp15,52 miliar, sedangkan keuntungan dari penjualan surat berharga investasi mencapai Rp24,58 miliar.

Secara keseluruhan, pendapatan operasional lainnya mencapai Rp40,26 miliar, meningkat dari Rp31,11 miliar pada tahun sebelumnya.

Namun, ekspansi bisnis juga membuat biaya operasional meningkat. Sepanjang 2025, total beban operasional mencapai Rp1,47 triliun, naik dari Rp1,03 triliun pada periode sebelumnya.

Meski demikian, perusahaan masih mampu mencatat laba komprehensif Rp176,41 miliar, berbalik dari rugi komprehensif Rp384,96 miliar pada 2024.

Perbaikan ini juga tercermin pada laba per saham dasar sebesar 3,3, dibandingkan rugi per saham 13,0 pada tahun sebelumnya.

Aset Melonjak Hampir Dua Kali Lipat

Pemulihan kinerja juga terlihat jelas dari pertumbuhan neraca perusahaan. Per 31 Desember 2025, total aset Superbank mencapai Rp21,28 triliun, melonjak dari Rp11,36 triliun pada 2024. Lonjakan ini terutama didorong oleh ekspansi kredit. Kredit bersih bank tercatat Rp9,62 triliun, meningkat dari Rp6,43 triliun pada tahun sebelumnya.

Selain kredit, portofolio surat berharga juga meningkat tajam. Nilai efek bersih mencapai Rp7,85 triliun, naik dari Rp4,20 triliun pada periode sebelumnya.

Sementara itu, penempatan dana pada Bank Indonesia juga meningkat signifikan menjadi Rp1,81 triliun, dari sebelumnya Rp128,68 miliar. Dari sisi likuiditas, kas perusahaan tercatat Rp217 miliar, sedangkan giro pada Bank Indonesia mencapai Rp389,30 miliar.

Dana Nasabah Melonjak Tajam

Dari sisi pendanaan, Superbank juga mencatat peningkatan signifikan. Total liabilitas perusahaan mencapai Rp13,12 triliun, naik dari Rp6,15 triliun pada tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut terutama berasal dari lonjakan dana pihak ketiga (DPK). Simpanan nasabah tercatat Rp11,78 triliun, melonjak dari Rp4,81 triliun pada periode sebelumnya.

Peningkatan dana masyarakat ini menunjukkan kepercayaan nasabah terhadap bank yang sedang melakukan ekspansi bisnis, termasuk dalam penyaluran kredit serta pengelolaan portofolio investasi.

Ekuitas dan Modal Makin Kuat

Struktur permodalan perusahaan juga semakin solid. Ekuitas Superbank mencapai Rp8,16 triliun, meningkat sekitar 55% dari Rp5,25 triliun pada tahun sebelumnya. Kenaikan ini antara lain didorong oleh peningkatan modal ditempatkan dan disetor yang mencapai Rp5,53 triliun, naik dari Rp3,30 triliun.

Tambahan modal disetor juga meningkat menjadi Rp3,39 triliun, dari sebelumnya Rp2,88 triliun. Selain itu, pos cadangan nilai wajar juga mengalami perbaikan menjadi Rp69,5 miliar, dari sebelumnya minus Rp6,3 miliar.

Penguatan modal ini memberi ruang lebih luas bagi Superbank untuk mempercepat ekspansi kredit dan memperkuat daya saing di industri perbankan.

Industri Perbankan Semakin Kompetitif

Pemulihan kinerja Superbank terjadi di tengah perubahan lanskap industri perbankan.
Data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan kredit perbankan nasional pada 2025 tumbuh sekitar 10%–12%, didorong oleh pemulihan ekonomi domestik dan meningkatnya permintaan pembiayaan konsumsi.

Di sisi lain, digitalisasi perbankan juga semakin cepat. Laporan berbagai lembaga riset menyebut transaksi digital perbankan di Indonesia terus meningkat, dengan nilai transaksi diperkirakan mencapai lebih dari Rp70.000 triliun pada 2025.
Dalam konteks tersebut, bank-bank yang mampu memperluas basis nasabah digital sekaligus menjaga kualitas kredit berpotensi menjadi pemenang dalam persaingan.


Digionary:

● Dana Pihak Ketiga (DPK)
Dana yang dihimpun bank dari masyarakat dalam bentuk tabungan, giro, dan deposito.
● Ekuitas
Selisih antara total aset dan total kewajiban perusahaan yang mencerminkan nilai kepemilikan pemegang saham.
● Kredit Bersih
Total kredit yang disalurkan bank setelah dikurangi cadangan kerugian penurunan nilai.
● Laba Komprehensif
Total laba perusahaan yang mencakup laba bersih dan perubahan nilai aset tertentu seperti investasi.
● Pendapatan Bunga Bersih
Selisih antara pendapatan bunga dari kredit dan investasi dengan beban bunga yang dibayar kepada nasabah atau kreditur.
● Provisi dan Komisi
Pendapatan bank yang berasal dari biaya layanan transaksi keuangan, bukan dari bunga kredit.

#Superbank #PerbankanIndonesia #LabaBank #BankDigital #KinerjaBank #EkonomiIndonesia #IndustriPerbankan #PertumbuhanKredit #DanaPihakKetiga #BankIndonesia #KeuanganIndonesia #SektorKeuangan #BankingIndustry #FinancialPerformance #DigitalBanking #EkonomiNasional #InvestasiBank #LaporanKeuangan #BisnisPerbankan #Ekonomi2026

Comments are closed.