PayLater Masih Jadi Andalan, Akulaku Bidik Pembiayaan Rp8,2 Triliun Tahun Ini

- 10 Maret 2026 - 06:19

PT Akulaku Finance Indonesia memasang target agresif pada 2026 dengan membidik pembiayaan baru sebesar Rp8,2 triliun atau tumbuh sekitar 12% dibandingkan tahun sebelumnya. Perusahaan pembiayaan yang dikenal lewat layanan buy now pay later (BNPL) ini mengandalkan kekuatan ekosistem digital, pemanfaatan artificial intelligence (AI) untuk credit scoring, serta ekspansi pasar—terutama di luar Pulau Jawa dan di jaringan merchant offline. Strategi tersebut diharapkan mampu menjaga pertumbuhan bisnis sekaligus mempertahankan rasio pembiayaan bermasalah di level rendah.


Fokus:

■ Akulaku menargetkan pembiayaan baru Rp8,2 triliun pada 2026 atau tumbuh sekitar 12%.
■ Ekosistem digital dan teknologi AI untuk credit scoring menjadi kunci pengelolaan risiko.
■ Ekspansi ke luar Pulau Jawa dan perluasan merchant offline menjadi strategi utama pertumbuhan.


Bisnis pembiayaan digital di Indonesia masih menyimpan potensi besar. Di tengah persaingan ketat antara fintech, bank digital, dan perusahaan multifinance, PT Akulaku Finance Indonesia bersiap mempercepat ekspansi bisnisnya. Perusahaan yang dikenal lewat layanan buy now pay later (BNPL) atau paylater itu menargetkan penyaluran pembiayaan baru sebesar Rp8,2 triliun pada 2026, naik sekitar 12% dibandingkan tahun sebelumnya.

Akulaku menargetkan pembiayaan baru Rp8,2 triliun pada 2026. Ekspansi merchant offline, AI untuk credit scoring, dan ekosistem digital jadi kunci pertumbuhan bisnis paylater.

Presiden Direktur Akulaku Finance Perry Barman Slangor mengatakan perusahaan tetap menempatkan pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan sebagai prioritas utama.

“Kami memperkirakan NPF di tahun ini berkisar, dan kami coba menjaga, di sekitar 1,2%. Dan, kami melihat ini penting untuk kami jaga supaya kami tetap tumbuh secara sustainable,” ujarnya belym lama ibu.

Melanjutkan Tren Pertumbuhan

Target tersebut melanjutkan tren pertumbuhan yang cukup kuat dalam beberapa tahun terakhir. Sepanjang 2025, Akulaku berhasil menyalurkan pembiayaan baru Rp7,44 triliun, meningkat 23% YoY.

Di sisi lain, kualitas pembiayaan tetap terjaga. Rasio non-performing financing (NPF) bersih perusahaan berada di level 1,1%, yang menunjukkan portofolio pembiayaan masih dalam kondisi sehat.

Perry mengungkapkan, ada dua faktor utama yang membuat perusahaan optimistis dapat mencapai target bisnis pada tahun ini.

Pertama adalah kekuatan ekosistem digital yang dimiliki Akulaku. Perusahaan memiliki integrasi dengan berbagai platform e-commerce dan layanan digital, sehingga mempermudah konsumen mengakses pembiayaan secara instan.
Pada 2025 saja, jumlah transaksi keuangan yang diproses melalui Akulaku mencapai 46,5 juta kali.

“Jadi, dengan begini, kami juga dapat memahami dan menganalisis perilaku konsumen untuk melakukan penetrasi yang lebih dalam dan lebih meaningful,” kata Perry.

Faktor kedua adalah pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk memperkuat sistem penilaian kredit atau credit scoring.

Dengan teknologi tersebut, Akulaku dapat menganalisis perilaku transaksi pengguna secara lebih akurat sehingga potensi kredit bermasalah dapat ditekan.

Pendekatan ini menjadi penting dalam industri paylater yang sering kali menghadapi tantangan risiko kredit lebih tinggi dibandingkan pembiayaan konvensional.

Tren penggunaan AI dalam industri keuangan juga semakin luas. Riset berbagai lembaga teknologi keuangan menunjukkan bahwa lebih dari 60% perusahaan fintech global telah menggunakan AI untuk analisis risiko kredit, deteksi fraud, dan personalisasi layanan.

Ekspansi di Luar Jawa

Selain penguatan teknologi, strategi ekspansi geografis juga menjadi fokus perusahaan pada 2026.

Saat ini sekitar 68% bisnis Akulaku masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, dengan Jawa Barat menyumbang sekitar 7,9 juta pengguna.
Hal ini membuka peluang besar untuk memperluas penetrasi pasar ke wilayah lain di Indonesia.
Perusahaan berencana meningkatkan kontribusi pengguna dari luar Jawa yang saat ini baru sekitar 32% dari total basis pelanggan.

Ekspansi tersebut dilakukan dengan memperluas jaringan distribusi serta memperkuat kerja sama dengan berbagai merchant di daerah.

Serius Garap Pasar Offline

Tidak hanya pasar digital, Akulaku juga mulai lebih agresif masuk ke sektor ritel offline.
Saat ini transaksi offline baru berkontribusi sekitar 24% dari total transaksi perusahaan. Untuk memperbesar porsi tersebut, Akulaku memperluas kerja sama dengan jaringan toko fisik.

“Kami juga akan memperluas jaringan yang saat ini kami bekerja sama dengan lebih dari 10.000 merchant offline di seluruh Indonesia, sehingga kami hadir juga di toko-toko fisik, seperti ritel, gadget, hingga lifestyle,” jelas Perry.

Strategi ini mencerminkan perubahan pendekatan dalam industri fintech pembiayaan yang kini tidak lagi hanya mengandalkan e-commerce, tetapi juga mulai masuk ke ekosistem ritel fisik.

BNPL Masih Jadi Tulang Punggung

Hingga akhir 2025, layanan buy now pay later (BNPL) masih menjadi kontributor terbesar bisnis Akulaku. Segmen ini menyumbang sekitar 89% dari total portofolio pembiayaan perusahaan. Produk paylater Akulaku telah terintegrasi di berbagai platform belanja digital besar, termasuk TikTok Shop dan Shopee, selain juga tersedia di platform milik Akulaku sendiri.

Integrasi dengan platform digital tersebut membuat distribusi layanan pembiayaan semakin luas dan mudah diakses oleh konsumen.

Persaingan Fintech Semakin Ketat

Industri pembiayaan digital Indonesia saat ini berkembang pesat, namun juga semakin kompetitif. Selain perusahaan multifinance, segmen paylater kini juga digarap oleh bank digital dan perusahaan fintech lain.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan total pembiayaan fintech lending di Indonesia telah melampaui Rp60 triliun dalam beberapa tahun terakhir, dengan jutaan pengguna aktif.

Di tengah persaingan tersebut, Akulaku menilai kekuatan ekosistem digital serta basis pengguna yang besar akan menjadi faktor pembeda. “Kita memiliki fundamental yang baik untuk terus memimpin inklusi keuangan di Indonesia,” ujar Perry.

Dengan penetrasi layanan keuangan digital yang masih terus berkembang, sektor buy now pay later diperkirakan tetap menjadi salah satu motor pertumbuhan industri pembiayaan di Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.


Digionary:

● Artificial Intelligence (AI) — Teknologi kecerdasan buatan yang memungkinkan sistem komputer menganalisis data dan membuat keputusan otomatis.
● Buy Now Pay Later (BNPL) — Layanan pembiayaan yang memungkinkan konsumen membeli barang sekarang dan membayar secara cicilan di kemudian hari.
● Credit Scoring — Sistem penilaian kelayakan kredit seseorang berdasarkan riwayat transaksi dan data keuangan.
● Ekosistem Digital — Jaringan layanan digital yang saling terintegrasi dalam satu platform bisnis.
● Merchant — Pelaku usaha atau toko yang menerima pembayaran atau layanan pembiayaan dari platform tertentu.
● Non-Performing Financing (NPF) — Rasio pembiayaan bermasalah dalam perusahaan pembiayaan atau multifinance.
● Offshore Borrowing — Pendanaan atau pinjaman yang diperoleh perusahaan dari lembaga keuangan di luar negeri.
● PayLater — Skema pembayaran yang memungkinkan konsumen menunda pembayaran dengan sistem cicilan.

#Akulaku #PayLater #BNPL #FintechIndonesia #Multifinance #PembiayaanDigital #EkonomiDigital #FintechGrowth #ArtificialIntelligence #CreditScoring #KeuanganDigital #InklusiKeuangan #IndustriFintech #EkosistemDigital #TransaksiDigital #FintechAsia #DigitalFinance #MerchantNetwork #EkspansiBisnis #StartupFintech

Comments are closed.