Hanya 20% UMK Akses Kredit Formal, Mastercard Strive Genjot Pendampingan dan Permodalan

- 28 Februari 2026 - 10:02

Laporan terbaru Mastercard Small Business Barometer 2025/2026 mengungkap ironi besar di balik geliat digitalisasi UMK Indonesia: hanya 20% pelaku usaha kecil mengakses kredit formal tahun lalu—turun dari 33% pada 2023. Di tengah kesenjangan pembiayaan yang melebar, program Mastercard Strive Indonesia melampaui target dengan menjangkau lebih dari 500.000 pelaku usaha, memfasilitasi Rp140 miliar pinjaman mikro, dan mendorong adopsi digital serta keamanan siber. Tantangannya kini bukan sekadar akses modal, melainkan membangun ekosistem yang benar-benar inklusif dan berkelanjutan.


Fokus:

■ Tingkat akses kredit formal UMK turun menjadi 20%, menandakan kesenjangan pembiayaan yang melebar.
■ Mastercard Strive Indonesia melampaui target, menjangkau 500.000 pelaku usaha dan memfasilitasi Rp140 miliar pinjaman mikro.
■ Akses modal harus disertai pendampingan digital dan literasi keuangan agar dampaknya berkelanjutan.


Transformasi digital pelaku usaha mikro dan kecil (UMK) Indonesia melaju cepat. Namun di balik optimisme itu, ada angka yang sulit diabaikan dimana hanya satu dari lima pengusaha kecil yang mengakses kredit formal pada 2025. Angka tersebut terungkap dalam laporan Striving to Thrive: The State of Indonesian Micro and Small Enterprises 2025/2026 yang dirilis oleh Mastercard Center for Inclusive Growth bersama Mercy Corps Indonesia.

Penurunan ini bukan tren sesaat. Pada 2023, tingkat pengambilan kredit formal masih 33%. Setahun kemudian turun ke 27%. Kini tersisa 20%. Artinya, kesenjangan pembiayaan justru melebar di saat ekonomi digital tumbuh agresif.

Hanya 20% UMK Indonesia mengakses kredit formal pada 2025. Di tengah kesenjangan pembiayaan yang melebar, Mastercard Strive menjangkau 500.000 pelaku usaha dan memfasilitasi Rp140 miliar pinjaman mikro. Apa yang sebenarnya terjadi?

Padahal, menurut data Kementerian Koperasi dan UKM, UMKM menyumbang lebih dari 60% PDB nasional dan menyerap sekitar 97% tenaga kerja. Namun kontribusi terhadap kredit perbankan nasional masih di kisaran 20%-an. Jurangnya nyata.

500.000 Pelaku Usaha, Rp140 Miliar Pinjaman Mikro

Di tengah tantangan tersebut, program Mastercard Strive Indonesia melampaui target awal. Dari target 300.000 pelaku usaha, program ini telah menjangkau lebih dari 500.000 pengusaha di berbagai daerah.

Beberapa capaian utama dari program ini mencakup:

● Memfasilitasi Rp140 miliar pinjaman mikro untuk 26.500 pelaku usaha.
● 97% penerima pinjaman adalah usaha milik perempuan.
● Lebih dari 200.000 pelaku usaha menerima pendampingan digital.
● 100.000 lebih mengadopsi perangkat keamanan siber
● 56% peserta melaporkan peningkatan pendapatan
● 30% mengaku lebih percaya diri mengakses kredit

“Di Mastercard, inovasi bukan hanya tentang teknologi—tetapi tentang membuka peluang dalam skala besar,” kata Aileen Goh, Country Manager, Indonesia, Mastercard. “Usaha mikro dan kecil di Indonesia membentuk fondasi ekonomi yang tangguh, namun banyak yang masih kurang terlayani oleh keuangan formal. Melalui Mastercard Strive Indonesia, kami menggabungkan wawasan data, perangkat digital, dan kemitraan ekosistem untuk membantu membangun sistem keuangan yang lebih aman dan inklusif—sistem yang memungkinkan para pengusaha untuk tumbuh secara berkelanjutan.”

Kredit Rendah, Hambatan Tinggi

Mengapa akses kredit formal terus menurun?
Laporan barometer mencatat beberapa faktor klasik: suku bunga yang dianggap tinggi, persyaratan jaminan, proses administrasi rumit, serta hambatan budaya dan psikologis.

Pengusaha perempuan menghadapi tantangan lebih berat. Hanya 16% usaha yang dipimpin perempuan mengakses kredit formal, dibandingkan 20% usaha yang dipimpin laki-laki dan 26% usaha yang dipimpin bersama.
Padahal, inklusi keuangan perempuan menjadi kunci pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Bank Dunia mencatat bahwa peningkatan akses keuangan bagi perempuan dapat mendorong pertumbuhan dan stabilitas ekonomi rumah tangga secara signifikan.

Akses Saja Tidak Cukup

Temuan penting lain: 74% pengusaha tidak terlibat dalam layanan pendukung bisnis. Padahal mereka yang mendapatkan pendampingan secara signifikan lebih mungkin mencatat pertumbuhan pendapatan.

“Akses saja tidak cukup. Pengusaha membutuhkan dukungan yang relevan, tepercaya, dan praktis,” kata Ade Soekadis, Direktur Eksekutif Mercy Corps Indonesia. Dia menambahkan, “Melalui kolaborasi kuat di balik Mastercard Strive, yang telah memberdayakan lebih dari 500.000 pelaku usaha kecil di seluruh Indonesia, kami membantu membangun ekosistem di mana para pengusaha dapat tumbuh dengan keyakinan dan ketangguhan. Upaya kolektif ini mencerminkan misi Mercy Corps Indonesia untuk menciptakan masa depan yang lebih aman, inklusif, produktif, dan adil dengan memastikan bahwa peluang ekonomi tidak hanya tersedia, tetapi juga berkelanjutan.”

Contohnya nyata. Seorang pemilik toko pakaian di Purwakarta baru berhasil memperoleh pinjaman Rp20 juta setelah didampingi mentor lokal dalam menyiapkan dokumen dan memahami proses kredit. Bukan hanya modal yang ia dapatkan, tetapi juga kepercayaan diri.

Digitalisasi Lebih Cepat dari Kapabilitas

Menurut Subhashini Chandran, Senior Vice President, Social Impact, APEMEA, Mastercard Center for Inclusive Growth, “Laporan Barometer ini menunjukkan sebuah momen penting: usaha kecil di Indonesia beralih ke digital lebih cepat daripada perkembangan kapabilitas mereka. Kesenjangan dalam kesadaran AI, keamanan digital, dan akses dukungan bisnis berisiko semakin melebar jika tidak ditangani secara kolektif.”

Data menunjukkan penetrasi internet Indonesia telah melampaui 79% populasi, sementara transaksi ekonomi digital diperkirakan mencapai lebih dari US$130 miliar pada 2025 menurut proyeksi berbagai lembaga riset regional. Namun transformasi digital tanpa literasi dan perlindungan keamanan siber menciptakan risiko baru—mulai dari penipuan hingga kebocoran data.

Kolaborasi Jadi Kunci

Program ini berjalan di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat dengan dukungan pemerintah daerah dan jaringan pembelajaran Strive Learning Network.

“Penguatan usaha mikro dan kecil memerlukan tindakan yang konkret dan terkoordinasi yang memberikan hasil di lapangan,” kata Ferry Irawan, Deputi I Bidang Pengelolaan dan Pengembangan Usaha Badan Usaha Milik Negara, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia.

“Program ini menunjukkan bagaimana kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan mitra pembangunan dapat memperluas akses ke pembiayaan, meningkatkan kapabilitas digital, dan memperkuat sistem pendukung bagi para pengusaha,” ujarnya.

Tantangan ke Depan

Indonesia memiliki lebih dari 65 juta UMKM. Menjangkau 500.000 pelaku usaha adalah langkah signifikan, tetapi masih sebagian kecil dari keseluruhan ekosistem.

Kesenjangan pembiayaan UMKM di Asia Tenggara diperkirakan mencapai ratusan miliar dolar AS menurut Asian Development Bank. Tanpa intervensi sistemik, jurang ini berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Transformasi digital, akses modal, dan pendampingan harus berjalan beriringan. Jika tidak, digitalisasi hanya akan memperbesar ketimpangan—bukan mempersempitnya.


Digionary:

● Adopsi Digital: Proses penggunaan teknologi digital dalam operasional bisnis.
● Ekosistem UMK: Jaringan lembaga, pasar, regulator, dan pendukung usaha kecil.
● Inklusi Keuangan: Akses masyarakat terhadap layanan keuangan formal.
● Literasi Keuangan: Kemampuan memahami dan mengelola keuangan secara efektif.
● Pendampingan Usaha: Bimbingan praktis bagi pelaku usaha untuk meningkatkan kapasitas bisnis.
● Pinjaman Mikro: Kredit bernilai kecil untuk usaha skala mikro dan kecil.
● Transformasi Digital: Perubahan model bisnis melalui pemanfaatan teknologi digital.
● UMK: Usaha Mikro dan Kecil.

#UMKIndonesia #InklusiKeuangan #MastercardStrive #PembiayaanUMK #DigitalisasiUMKM #EkonomiDigital #KreditMikro #LiterasiKeuangan #UMKMNaikKelas #KeamananSiberUMKM #PerempuanPengusaha #AksesModal #EkosistemUMKM #PertumbuhanInklusif #TransformasiDigital #KeuanganFormal #UMKM2026 #BisnisKecilIndonesia #EkonomiNasional #PendampinganUsaha

Comments are closed.