Lompatan Digital Macquarie: Mengelola Bank dengan ‘Otak’ Google dan ‘Otot’ Agen AI

- 19 Februari 2026 - 11:48

Macquarie Bank melakukan lompatan besar dalam operasional perbankan digital dengan mengadopsi prinsip Site Reliability Engineering (SRE) ala Google dan teknologi agen AI untuk mencapai tingkat keandalan setara raksasa teknologi global. Di bawah arahan mantan insinyur Google, Phillip Grasso-Nguyen, bank ini berhasil mencatatkan tingkat ketersediaan sistem hingga 99,98% dan memangkas insiden kritis sebesar 59% tanpa harus mengandalkan prosedur birokrasi Change Advisory Board (CAB) tradisional. Strategi ini membuktikan bahwa institusi finansial dapat melakukan inovasi agresif—termasuk melakukan lebih dari 8.000 pembaruan perangkat lunak per tahun—sambil tetap menjamin layanan pelanggan tanpa gangguan atau downtime terjadwal.


​Fokus:

■ Macquarie meninggalkan paradigma lama perbankan yang memperlakukan sistem sebagai “hewan peliharaan” (unik dan rumit) menjadi “hewan ternak” (seragam dan mudah diganti) demi mencapai efisiensi skala besar.
■ Penggunaan agen AI dari Dynatrace dan pengembangan internal memungkinkan verifikasi rilis otomatis serta diagnostik mandiri, yang memangkas waktu penanganan masalah dari hitungan jam menjadi menit.
■ Dengan mengadopsi metodologi SRE, Macquarie menghapus Change Advisory Board (CAB) dan menggantinya dengan rilis kecil yang berkelanjutan, menghasilkan 80% lebih sedikit cacat sistem.


Macquarie Bank mendobrak tradisi operasional perbankan dengan prinsip SRE Google dan Agen AI. Hasilnya? Keandalan 99,98% tanpa downtime terjadwal.


​Di dunia perbankan konvensional, melakukan pemeliharaan sistem biasanya berarti pengumuman “Layanan tidak tersedia untuk sementara.” Namun, bagi divisi perbankan digital Macquarie Group, jargon scheduled outage atau pemadaman terjadwal kini sudah menjadi sejarah.

​Melalui tangan dingin Phillip Grasso-Nguyen, Divisional Director and Head of Engineering Excellence and Reliability Macquarie, bank ini melakukan transformasi radikal. Grasso-Nguyen bukanlah pemain baru; ia adalah mantan insinyur Google dan pemimpin rekayasa di CBA yang membawa “kitab suci” operasional Silicon Valley ke jantung industri finansial Australia.

​Dalam konferensi Dynatrace Perform 2026 di Sydney akhir bulan lalu, Grasso-Nguyen memaparkan pencapaian yang mencengangkan bagi ukuran sebuah bank. Macquarie berhasil melampaui target keandalan dengan mencapai angka ketersediaan sistem 99,98%. Angka ini mendekati standar “Empat Sembilan” (99,99%) yang biasanya hanya dimiliki oleh penyedia infrastruktur cloud global.

​“Kami melampaui target dan mencapai ketersediaan serta keandalan 99,98% bagi pelanggan kami, dengan tingkat deteksi masalah yang lebih cepat sebesar 79%, dan 59% lebih sedikit insiden kritis,” ungkap Grasso-Nguyen seperti dikutip ITNews.com.

​Menggembala Ternak, Bukan Merawat Kucing
Ambisi Macquarie sangat jelas: menjadi perusahaan teknologi terbaik di sektor jasa keuangan. Namun, transisi dari kultur Google ke perbankan ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Grasso-Nguyen menemukan perbedaan mendasar dalam cara memandang sistem teknologi.

​“Perusahaan teknologi memperlakukan sistem mereka seperti hewan ternak (cattle). Mereka seragam dan dapat diganti, dilakukan dalam skala besar. Perusahaan besar dan bank memperlakukan sistem mereka seperti hewan peliharaan (pets), dengan banyak perawatan dan dukungan, banyak kompleksitas, dan banyak kepribadian,” tuturnya.

​Ia mengakui harus melakukan pergeseran pola pikir dari sekadar menggembala ternak menjadi merawat hewan peliharaan yang kompleks. “Saya harus merangkul ledakan kompleksitas yang ada di perusahaan besar; dan saya harus fokus pada satu hal yang paling penting, yaitu pelanggan kami.”

Mesin di Balik Layar: 6.000 Layanan dan AI Mandiri

Di balik layar perbankan digital retail Macquarie, terdapat tumpukan teknologi berbasis cloud dan Kubernetes yang terdiri dari lebih dari 6.000 layanan mikro. Dengan dukungan 1.500 insinyur, bank ini mampu melakukan lebih dari 8.000 perubahan dan rilis kode setiap tahunnya.

​Kecepatan ini biasanya berisiko tinggi bagi stabilitas bank. Namun, Macquarie justru menghapus Change Advisory Board (CAB)—badan pengambil keputusan yang seringkali menjadi penghambat inovasi di organisasi besar. Alih-alih birokrasi, mereka menggunakan metodologi SRE: rilis kecil, sering, dan dengan radius dampak yang rendah. Hasilnya? Pengiriman proyek tepat waktu naik 90% dengan cacat sistem berkurang 80%.

​Data industri dari laporan Accelerate State of DevOps (DORA) menunjukkan bahwa organisasi dengan performa “elit” mampu menyeimbangkan kecepatan dan stabilitas melalui otomasi—sesuatu yang kini dibuktikan oleh Macquarie.

​Untuk menjaga kestabilan ini, Macquarie mengerahkan agen AI SRE, baik dari Dynatrace maupun buatan sendiri. Agen-agen ini bertindak sebagai penjaga gerbang yang melakukan diagnostik otomatis dan menjalankan perintah verifikasi rilis.

​“Dahulu, kami membutuhkan banyak tim dalam proses triase (penilaian masalah). Sekarang, kami memiliki operator yang dibantu agen AI yang dapat menemukan masalah dalam hitungan menit. Kami hanya memanggil tim yang relevan sekarang, sehingga kami menghabiskan jauh lebih sedikit waktu untuk mendiagnosis dan memperbaiki, dan tidak membuang waktu sebanyak dulu,” jelas Grasso-Nguyen.

Masa Depan: Agen AI ‘Q’

Tak hanya di dapur operasional, teknologi AI ini juga merambah ke sisi pelanggan. Pada pertengahan Januari lalu, Macquarie meluncurkan “Q”, agen AI yang berinteraksi langsung dengan nasabah. Grasso-Nguyen menekankan bahwa observasi terhadap beban kerja AI sangat krusial sebelum mereka berani meluncurkan layanan tersebut.

​Dengan total aset yang dikelola secara digital terus meningkat, Macquarie kini tengah menjajaki kemitraan lebih dalam dengan vendor seperti Dynatrace untuk sistem operasi berbasis agen (agentic operations system) yang disebut Dynatrace Intelligence.

​“Jika kami tidak perlu membangunnya sendiri, mengapa harus kami lakukan sendiri?” pungkasnya, memberikan sinyal bahwa kolaborasi adalah kunci untuk tetap berada di depan dalam perlombaan teknologi perbankan global.


​Digionary:

​● Agentic SRE: Penerapan prinsip keandalan situs (Site Reliability Engineering) yang ditenagai oleh agen AI otonom untuk memantau dan memperbaiki sistem secara otomatis.
● CAB (Change Advisory Board): Sekelompok orang yang bertugas meninjau dan menyetujui perubahan dalam sistem TI untuk meminimalkan risiko; sering dianggap sebagai hambatan dalam pengembangan cepat.
● Cattle vs Pets: Metafora infrastruktur TI di mana “Pets” adalah server yang dirawat secara manual dan unik, sedangkan “Cattle” adalah infrastruktur yang diotomatisasi, seragam, dan mudah diganti jika terjadi kegagalan.
● Kubernetes: Platform open-source yang digunakan untuk mengelola kontainer perangkat lunak, memungkinkan aplikasi berjalan secara konsisten di berbagai lingkungan cloud.
● Observability: Kemampuan untuk memahami keadaan internal suatu sistem hanya dengan melihat data eksternal (metrik, log, dan jejak) yang dihasilkannya.
● SRE (Site Reliability Engineering): Disiplin yang menerapkan prinsip-prinsip rekayasa perangkat lunak pada masalah operasional untuk menciptakan sistem perangkat lunak yang sangat skalabel dan andal.

​#MacquarieBank #DigitalBanking #AI #ArtificialIntelligence #SRE #GooglePrinciples #Fintech #BankingTechnology #CloudComputing #Kubernetes #Dynatrace #Innovation #Automation #CyberSecurity #AustraliaBusiness #DigitalTransformation #AgenticAI #SiteReliabilityEngineering #TechInBanking #FutureOfFinance

​perbankan digital macquarie, teknologi ai perbankan, implementasi sre google di bank, keandalan sistem perbankan, agen ai otonom, phillip grasso-nguyen, dynatrace perform 2026, strategi transformasi digital bank, manajemen insiden ai, ketersediaan sistem 99.98%, penghapusan change advisory board, inovasi teknologi finansial, sistem cloud kubernetes, rilis perangkat lunak otomatis, efisiensi operasional perbankan, agen ai nasabah q, sutherland macquarie bank, site reliability engineering indonesia, tren perbankan 2026, otomatisasi perbankan digital,

Comments are closed.