Bank Dunia: Danantara Menjadi Kunci Daya Tarik Investasi Asing di Indonesia

- 4 Februari 2026 - 11:08

Bank Dunia menyoroti hadirnya Badan Pengelola Investasi Danantara sebagai solusi jitu untuk mengakhiri kebuntuan antara sentimen nasionalisme dan kebutuhan investasi asing langsung (FDI) yang masif di Indonesia. David Knight, Lead Country Economist Bank Dunia, menilai bahwa Danantara dapat berfungsi sebagai “kendaraan penyeimbang” yang mampu menarik modal global sekaligus menjaga kepentingan strategis pemerintah, memecah pola kontrol keuangan ketat yang selama ini dianggap menghambat potensi operasional perusahaan kelas dunia seperti Telkomsel dan Freeport Indonesia.


​Fokus:

■ ​Danantara sebagai Katalis Investasi: Kehadiran badan ini dipandang sebagai mesin baru yang mampu menarik investor asing yang selama ini skeptis terhadap dominasi pemain domestik di pasar Indonesia.
■ ​Dilema Nasionalisme vs Kontrol Keuangan: Bank Dunia mengkritik pola kontrol ketat pada entitas besar yang sering kali membatasi efisiensi operasional mitra asing, sehingga mengurangi daya tarik investasi nasional.
■ ​Penyelarasan Kepentingan Strategis: Danantara diposisikan sebagai jembatan yang menghubungkan visi pemerintah untuk menjadi negara maju dengan kebutuhan teknologi serta modal dari investor global.


Ambisi Indonesia untuk bertransformasi menjadi negara maju kini menemui titik terang di mata lembaga internasional. Bank Dunia secara terbuka memberikan lampu hijau bagi operasional Badan Pengelola Investasi Danantara, yang disebut-sebut sebagai kartu as Indonesia untuk menarik investasi asing langsung (Foreign Direct Investment/FDI) secara agresif.

​Selama ini, Indonesia terjebak dalam dilema klasik: kebutuhan akan modal asing yang masif berbenturan dengan tembok tebal nasionalisme ekonomi dan kontrol keuangan yang kaku. Kondisi ini seringkali membuat investor global merasa “setengah hati” untuk menanamkan modal di tanah air.

​Memecah Kebuntuan di Raksasa Industri

Lead Country Economist Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor Leste, David Knight, menyoroti fenomena ini terjadi pada dua raksasa industri tanah air, Telkomsel dan PT Freeport Indonesia. Menurutnya, meskipun keduanya adalah perusahaan kelas dunia, pembatasan kendali operasional terhadap mitra asing demi mempertahankan kontrol finansial domestik justru menjadi bumerang bagi daya tarik investasi.

​”Jika saya memikirkan Telkomsel dan Freeport, dua contoh hebat perusahaan kelas dunia di sini, dan apa yang telah mereka lakukan adalah mereka mampu mempertahankan entitas Indonesia yang memiliki kendali keuangan, tetapi mereka tetap membatasi kendali operasional dengan mitra asing,” kata David dalam gelaran Indonesia Economic Summit (IES) 2026 di Jakarta, Selasa (3/2).

​David menambahkan bahwa model tersebut tidak selalu membuahkan hasil optimal bagi pertumbuhan investasi yang lebih luas. Di sinilah Danantara masuk sebagai pengubah permainan (game changer).

Bank Dunia melihat Danantara bukan sekadar lembaga pengelola dana, melainkan sebuah kendaraan diplomatik ekonomi. Investor asing seringkali merasa terintimidasi oleh kewaspadaan berlebih pelaku domestik terhadap perusahaan besar yang ingin masuk ke pasar Indonesia.

Danantara sebagai Penyeimbang Kekuatan

​”Nah, itu tidak selalu berhasil, itulah sebabnya saya sebenarnya cukup bersemangat tentang Danantara,” lanjut David. Ia meyakini Danantara dapat menjadi instrumen yang memiliki koneksi kuat di pemerintahan sekaligus menjadi mitra yang kredibel bagi pihak asing.

​Kehadiran Danantara dianggap mampu menciptakan keseimbangan baru; di satu sisi pemerintah tetap memegang kemudi strategis, sementara di sisi lain, investor asing mendapatkan kepastian operasional dan skala bisnis yang mereka butuhkan. “Pemerintah dapat memiliki kendaraan tersebut untuk menarik investasi asing karena jelas kedua entitas tersebut memiliki kepentingan yang kuat untuk berhasil,” pungkasnya.


​Digionary:

​● Danantara: Badan Pengelola Investasi (BPI) yang berfungsi mengonsolidasikan aset-aset negara dan menarik modal global untuk proyek strategis nasional.
● Debasement Trade: (Konteks Makro) Strategi investasi yang menghindari mata uang fiat atau obligasi karena penurunan nilai uang, sering beralih ke aset keras.
● FDI (Foreign Direct Investment): Investasi langsung dari perusahaan atau individu asing ke dalam ekonomi suatu negara, biasanya dalam bentuk aset fisik atau kepemilikan saham mayoritas.
● Financial Control (Kontrol Keuangan): Kebijakan atau tindakan pemerintah/perusahaan untuk membatasi aliran dana keluar atau mengatur kepemilikan finansial guna menjaga stabilitas.
● Investabilitas: Tolok ukur yang menunjukkan seberapa menarik atau layak suatu pasar/perusahaan bagi investor asing untuk menanamkan modalnya.
● Operasional Kontrol: Wewenang dalam menjalankan kegiatan harian perusahaan, termasuk pengambilan keputusan teknis dan manajemen sumber daya.
● Sovereign Wealth Fund (SWF): Dana investasi milik negara yang dikelola untuk tujuan pembangunan jangka panjang atau stabilitas ekonomi.

​#Danantara #Bank Dunia #EkonomiIndonesia #InvestasiAsing #WorldBank #DavidKnight #Telkomsel #FreeportIndonesia #NegaraMaju #FDI #PertumbuhanEkonomi #PasarModal #InvestasiRI2026 #NasionalismeEkonomi #KeuanganGlobal #EkonomiNegara #InvestasiStrategis #StartupInvestasi #PembangunanNasional #IndonesiaMaju

Comments are closed.