Kecerdasan buatan (AI) kini bukan lagi teknologi masa depan, melainkan realitas yang membentuk cara manusia bekerja, belajar, dan mengambil keputusan. Namun, adopsi AI tidak berjalan seragam lintas generasi. Gen Z dan milenial menjadikan AI sebagai alat harian untuk pendidikan dan produktivitas, sementara Gen X dan baby boomer bergerak lebih hati-hati, dibayangi isu privasi, akurasi, dan kepercayaan. Perbedaan ini bukan sekadar soal usia, tetapi mencerminkan cara pandang terhadap risiko, etika, dan masa depan kerja di era digital.
Fokus:
■ Gen Z dan milenial menjadi motor utama adopsi AI, menjadikannya alat sehari-hari untuk belajar, bekerja, hingga hiburan. AI bukan lagi teknologi baru, melainkan bagian dari gaya hidup digital dan strategi produktivitas mereka.
■ Gen X dan baby boomer bersikap lebih hati-hati terhadap AI, menimbang manfaat ekonomi dengan risiko privasi, akurasi, dan kepercayaan. Pendekatan ini mencerminkan pengalaman panjang mereka menghadapi gelombang disrupsi teknologi.
■ Perbedaan generasi dalam penggunaan AI menunjukkan pentingnya literasi dan tata kelola yang bertanggung jawab. Kolaborasi antargenerasi dibutuhkan agar AI mendorong inovasi tanpa mengorbankan etika, keamanan, dan kualitas pengambilan keputusan.
Kecerdasan buatan kini hadir di ruang kelas, kantor, hingga percakapan sehari-hari. Namun, antusiasme terhadap AI ternyata tidak merata. Generasi muda memeluknya sebagai alat bantu hidup, sementara generasi lebih tua menimbangnya dengan kehati-hatian. Di tengah percepatan teknologi global, perbedaan sikap ini menjadi penentu arah transformasi sosial dan ekonomi di masa depan.
Kecerdasan buatan atau artificial intelligence telah bergerak cepat dari laboratorium riset ke kehidupan sehari-hari. Ia membantu mahasiswa menyusun tugas, karyawan meningkatkan produktivitas, hingga perusahaan merancang strategi bisnis. Namun, cara manusia memanfaatkan AI sangat dipengaruhi oleh generasi tempat mereka tumbuh.
Studi lintas generasi yang dirangkum Phys.org dan didukung riset Deloitte, Pew Research Center, serta SurveyMonkey menunjukkan adanya jurang adopsi AI yang cukup kontras antara generasi muda dan tua.
Gen Z: AI sebagai Perpanjangan Diri
Generasi Z, berusia 16–29 tahun, adalah kelompok paling agresif mengadopsi AI. Survei Deloitte 2025 mencatat 76% Gen Z telah menggunakan tools AI generatif mandiri seperti ChatGPT atau Claude—angka tertinggi dibanding generasi lain.
Survei SurveyMonkey 2025 menunjukkan 61% Gen Z menggunakan AI untuk pendidikan, disusul produktivitas dan hiburan. Bagi mereka, AI bukan ancaman, melainkan alat untuk mempercepat belajar dan kerja. AI menyatu dalam keseharian, dari merangkum materi kuliah hingga membangun portofolio karier.
Milenial: Produktif, Personal, dan Praktis
Milenial berusia 30–45 tahun sedikit tertinggal dari Gen Z, tetapi tetap menunjukkan adopsi tinggi. Deloitte mencatat 58% milenial telah menggunakan AI generatif, sementara 60% terbiasa dengan AI pasif yang tertanam dalam aplikasi sehari-hari.
Uniknya, milenial juga memanfaatkan AI untuk kebutuhan personal, termasuk hobi dan kesehatan mental. Pew Research Center mencatat sekitar 30% milenial menggunakan ChatGPT di tempat kerja—jauh di atas Gen X dan boomer. Mereka menjadi motor utama integrasi AI di dunia profesional.
Gen X: Sadar Manfaat, Tapi Tetap Waspada
Pada Gen X (46–59 tahun), adopsi AI mulai menurun. Deloitte mencatat hanya 36% yang menggunakan AI generatif mandiri, meski hampir separuh memanfaatkan AI pasif dalam platform digital.
Kesadaran terhadap AI sebenarnya tinggi. Pew Research mencatat 78% Gen X mengenal ChatGPT. Namun, mereka cenderung berhati-hati, terutama terkait privasi data dan akurasi informasi. AI dipandang berguna, tetapi belum sepenuhnya dipercaya untuk urusan personal.
Baby Boomer: Antara Rasa Ingin Tahu dan Skeptisisme
Boomer berusia 60–75 tahun menjadi generasi paling rendah dalam adopsi AI. Hanya sekitar 20% yang pernah mencoba AI generatif, turun tajam dari tingkat adopsi Gen Z.
Bagi boomer yang menggunakan AI, hiburan lebih dominan dibanding produktivitas kerja. Faktor pensiun dan kekhawatiran terhadap keandalan informasi menjadi penghambat utama. Meski begitu, kesadaran meningkat: sekitar 67% boomer mengetahui ChatGPT dan 35% pernah menggunakan fitur AI secara pasif.
Menjembatani Kesenjangan Generasi
Universitas Cincinnati melalui 1819 Innovation Hub menjadi contoh bagaimana AI dapat menjadi jembatan antargenerasi. Mahasiswa, startup, dan korporasi dilatih untuk memanfaatkan AI secara bertanggung jawab, dengan menekankan etika, literasi digital, dan pengambilan keputusan berbasis data.
Antusiasme Gen Z mendorong inovasi, sementara skeptisisme Gen X dan boomer menjadi rem penting agar AI tidak diadopsi secara serampangan. Kombinasi keduanya menjadi fondasi penting bagi pemanfaatan AI yang berkelanjutan.
Digionary:
● Artificial Intelligence (AI): Teknologi yang memungkinkan mesin meniru kecerdasan manusia
● AI Generatif: AI yang mampu menghasilkan teks, gambar, atau kode secara mandiri
● AI Pasif: AI yang tertanam dalam aplikasi tanpa disadari pengguna
● Digital Native: Generasi yang tumbuh bersama teknologi digital
● Gen Z: Generasi kelahiran akhir 1990-an hingga awal 2010-an
● Milenial: Generasi kelahiran awal 1980-an hingga pertengahan 1990-an
● Gen X: Generasi kelahiran 1965–1980
● Baby Boomer: Generasi kelahiran pasca Perang Dunia II
● Literasi AI: Kemampuan memahami dan menggunakan AI secara bijak
● Privasi Data: Perlindungan atas informasi pribadi pengguna
● Produktivitas Digital: Efisiensi kerja berbasis teknologi
● SurveyMonkey: Platform survei daring global
● Deloitte: Perusahaan konsultan global
● Pew Research Center: Lembaga riset kebijakan publik independen
● Etika Teknologi: Prinsip moral dalam penggunaan teknologi
#AI #ArtificialIntelligence #GenZ #Milenial #GenX #Boomer #TransformasiDigital #Teknologi #Inovasi #LiterasiDigital #AIAdoption #MasaDepanKerja #DigitalEconomy #TechTrends #DataPrivacy #EtikaAI #Produktivitas #PendidikanDigital #AIIndonesia #GlobalTech
